Advertisement

TIPS MEGAJARKAN RELIGIOSITAS PADA ANAK – Pendidikan anak belum menjadi lengkap kalau orangtua hanya membina sopan santun, ketrampilan, kepandaian, kemampuan ber­pikir kritis, bahkan menjalankan keutamaan-keutamaan moral seka­lipun. Dalam pendidikan, orangtua dan para pendidik harus mengem­bangkan aspek religiositas dalam diri anak. Dengan sikap-religius, anak siap menyambut tawaran kasih Allah. Hubungan antara ma­nusia dan Allah mengandaikan kesiapan hati yang religius dari pihak manusia. Religiositas adalah sikap batiniah manusiawi-personal yang mam­pu melihat kebaikan dalam hidup manusia. Orang yang religius selalu berusaha mendengar bisikan suara batinnya dan percaya bahwa suara batinnya yang tepat merupakan suara Tuhan. Sikap religus mendahu­lui penalaran rasional. Melalui pengalaman religius, manusia berusaha menangkap ke­nyataan dunia sebagai tanda dari Yang Ilahi. Manusia religius meng­hayati dunia sebagai bekas dari Yang Ilahi. Sikap religius membuat manusia dapat melihat Yang Ilahi dalam gejala alam, dalam keindah­an fauna dan flora, serta lebih lagi dalam diri sesama manusia. Yang Ilahi menjadi nampak dalam wajah yang telanjang dari sesama ma­nusia.

Religiositas dibedakan secara tajam dari Agama walupun kedua­nya tidak boleh dipisahkan. Agama lebih merupakan lembaga kebaktian kepada Allah. Agama sangat menekankan aspek hukum tindakan dan upacara resmi, peraturan-peraturan tingkah laku, pelbagai macam organisasi dan sekian banyak wejangan moral yang harus ditaati. Religiositas lebih bersifat batiniah sedangkan agama lebih bersifat lahiriah. 

Advertisement

Dengan menganut sebuah agama, seorang religius berusaha men­jalin hubungan dengan Yang Ilahi. Berhadapan dengan yang Ilahi manusia merasa kurang pantas serta takut karena yang Ilahi menam­pakkan diri sebagai sesuatu yang dasyat. Namun seka­ligus ketika berhadapan dengan Yang Ilahi, manusia merasa tertarik karena Yang Ilahi bersifat mempesona Manusia meng­alami adanya suatu kekuatan yang dapat menyelamatkan hidupnya sendiri. Dalam kehidupan di dunia yang serba membingungkan, Yang Ilahi memberikan kepastian dan arah hidup bagi manusia religius. Kehidupan religius adalah pengalaman akan kekuatan dan penam­pakan dari Yang Ilahi. Manusia mengalami adanya tempat suci dan tempat profan, adanya waktu suci dan kehidupan rutin. Dengan upacara sakral, manusia menyucikan tempat dan merayakan hari pesta keagamaan.

Advertisement