Advertisement

TIPS MEMBERIKAN PENDIDIKAN MORAL PADA ANAK – Melalui pendidikan yang terencana orangtua dan guru berusaha agar anak dan peserta didik menjadi anak yang baik. Anak yang baik adalah anak yang memiliki kepribadian dewasa yang tercermin dalam tindak tanduk moral. Anak yang baik adalah anak yang me­miliki dan mengembangkan keutamaan moral.Keutamaan moral menjadi mekar dan bersemi sesuai dengan tahap perkembangan kematangan kognitif anak. Kepadatan pengha­yatan moral dari anak mengikuti usia kedewasaan psikologis anak yang bersangkutan. Perbuatan moral dari anak dipertanggungjawab­kan sesuai dengan penalaran yang bersangkutan. Anak bukanlah orang dewasa mini. Penalaran dan pertimbangan tentang baik dan buruk mengikuti tahap perkembangan kedewasaan dari anak. Pertim­bangan baik-buruk dari seorang anak tentu berbeda dari pertimbang­an orang dewasa. Di lain pihak, banyak orang sudah dewasa menurut usia, tapi pertimbangan moralnya masih bersifat kekanak-kanakan.Banyak pendidik tidak menerima model indoktrinasi. Cara pengulangan dan latihan tidak mungkin membawa hasil yang mema­dai. Model indoktrinasi dikritik dan ditolak dengan alasan bahwa orangtua dan sekolah tidak dapat secara langsung mengajarkan nilai- nilai masyarakat kepada anak didik. Peserta didik bukanlah kertas putih kosong yang menunggu diisi dengan suatu nilai dari luar. Kita harus percaya bahwa dalam diri peserta didik sudah terdapat pengha­yatan akan nilai baik dan buruk. Nilai dalam diri anak yang masih embrional menunggu uluran tangan orang dewasa untuk dimekarkan. Melalui model Penerangan Nilai, orangtua dan pendidik di se­kolah membantu anak didik untuk mencari dan menganalisa sendiri nilai-nilai dalam dirinya. Sesuatu nilai menjadi bermakna apabila diketemukan sendiri, dimengerti sendiri dan dialami sendiri oleh anak didik. Nilai sebagai nilai bersifat netral. Oleh karena itu tak seorang pun berhak memaksakan nilainya kepada orang lain. Masing-masing orang memiliki nilainya sendiri. Seorang pahlawan memiliki nilainya sendiri dan seorang penjahat pun mempunyai nilainya sendiri. Model Penerangan Nilai memandang anak didik berdiri sendiri sebagai bagian yang lepas dari masyarakat. Dalam pendidikan diusa­hakan agar anak didik meningkatkan kesadaran akan dirinya sendiri. Tiap orang berhak mendefinisikan nilainya sendiri. Model Penerangan Nilai ditolak juga oleh banyak pendidik de­ngan alasan bahwa bisa muncul kecenderungan relativisme di bidang nilai moral. Bagaimana pun pula manusia memiliki nilai etis univer­sal. Manusia tidak boleh dikendalikan oleh nilai masyarakat dan juga tidak boleh dikendalikan oleh nilai masing-masing orang. Rupa- rupanya bangsa manusia memiliki semacam kepekaan bersama ter­hadap nilai-nilai etis universal.

Orangtua dan para pendidik di se­kolah harus dikendalikan oleh prinsip-prinsip nilai etis universsal. Perkembangan nilai dalam diri anak justru terjadi melalui perubahan ide anak didik tentang baik dan buruk. Anak didik perlu dibantu untuk bertumbuh dalam bidang nilai moral melalui tahap-tahap perkembangannya. Anak didik tidak mungkin secara langsung dan otomatis menjadi matang di bidang moral. Anak didik bertumbuh dan berkembang dalam suatu seri tingkat-tingkat yang secara kuali­tatif berbeda satu sama lain. Setiap tingkat bersifat unik. Dalam se­tiap tingkat anak didik memberi arti dan memahami dunianya.

Advertisement

Ketika menjalankan pendidikan moral secara terencana dalam keluarga atau di sekolah, orangtua dan para pendidik kiranya mem­perhatikan apa yang harus diajarkan (Filsafat), bagaimana anak didik belajar dan memahami nilai (Psikologi), dalam masyarakat apa kini kita hidup dan dalam masyarakat mana nanti kita ingin hidup (So­siologi). Menurut model Kohlberg, pendidik harus memperhatikan prinsip etis universal, memakai cara dialog, role playing. Kohlberg mengingatkan bahwa norma dan adat istiadat masyarakat boleh berubah tetapi prinsip moral universal tidak dapat berubah. Pende­katan perkembangan kesadaran moral memerlukan suatu ”metode mengindentifikasikan apa gambaran pribadi tentang kenyataan sosial yang dimiliki seseorang, mengidentifikasi konsep apa yang dipakai seseorang dalam menganalisa masalah-masalah sosial dan bagaimana pribadi itu tiba pada suatu keputusan.

Advertisement