Advertisement

TIPS MENDIDIK ANAK BERBICARA BENAR – Berbicara secara benar berarti apa yang dikatakan harus dialami secara inderawi atau ada secara nyata yang dapat dipegang, dilihat, didengar, diraba dan dicium. Jadi jawabannya bukan dongeng atau khayalan. Anak dapat memberi buk terhadap apa yang dikatakan­nya atau apa yang disimpulkannya. Kalau seorang anak berkata bahwa ia telah memecahkan sebuah gelas maka orangtua harus minta bukti, “Mana gelas yang pecah itu?” Kalau tidak ada bukti, bisa saja anak tersebut hanya berkhayal atau sekedar bersenda gurau. Supaya anak tahu bahwa gelas yang berisi kopi itu sebaik­nya jari anak sedikit menyentuh gelas itu. Dengan sedikit menyen­tuh gelas yang panas, anak tahu, “gelas panas”. Tentu saja tidak bi­jaksana hanya demi pendidikan semua jari anak di­masukkan ke daiam gelas kopi. yang panas. Tangan anak rusak dan sakit. Tetapi setelah sedikit menyentuh gelas yang panas, anak se­makin insyaf akan larangan orangtua untuk tidak memegang gelas panas. Larangan orangtua mempunyai bukti.

Pada sore hari, Tini yang berusia lima tahun pulang dari rumah tetangga, berlari masuk ke dalam rumah dan menemui ibunya sambil berkata “Ma, kata Rini (temannya), ada setan di pohon mangga itu”. Ibu dapat melatih Tini untuk berbicara benar dengan bertanya, “Apakah Tini melihat setan itu?” Tini menjawab, “tidak melihat, cuma dibilang oleh Rini.” Mama dapat melanjutkan, “Tidak ada setan di pohon mangga, karena Tini tidak melihatnya. Pemberitahuan Rini tidak benar.” Jadi sejak kecil, anak sudah terlatih untuk membeda­kan pendapat orang dari kebenaran.Dalam masyarakat beradar ba­nyak pendapat yang seolah-olah benar, ternyata begitu diuji dengan pertanyaan ilmiah, pendapat itu tidak benar.

Advertisement

Berbicara secara benar merupakan landasan dasar untuk masuk ke dalam bertindak baik. Contoh berikut ini dapat memberi sedikit penjelasan. Sebelum tidur siang, ibu berpesan agar ketika ibu sedang tidur, kalau ada tamu, Tini harus mengatakan kepada tamu “Ibu tidak ada. Ibu sedang pergi.” Tini akan bertanya dalam batinnya, “Mengapa ibu berpesan demikian?” Yang nyata-nyata terjadi ialah bahwa ibu tidur. Tetapi harus dikatakan ibu tidak ada. Mengapa? Ada apa?” Nah, ibu mulai menanamkan benih untuk bertindak tidak baik yaitu berbohong.” Persoalannya menjadi lain kalau pesanan ibu demikian. “Tini, kalau ada tamu, katakan bahwa ibu sedang tidur.” Tini harus ber­tanya kepada tamu “Apakah urusannya sangat penting? Apakah bisa tunggu sampai ibu bangun tidur? Ibu telah lelah sekali dari per­jalanan yang jauh.” Nah, dengan berpesan demikian, ibu menanam­kan sikap pada Tini untuk menghargai orang lain. Ternyata meng­hargai orang lain adalah tindakan yang baik. Tamu harus menghargai ibu yang sedang istirahat siang. Tini pun harus menghargai orang lain yang sedang beristirahat. Kepentingan pribadi harus memperhitung­kan kepentingan orang lain.

Incoming search terms:

  • arti nyata memegang gelas tapi pecah

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti nyata memegang gelas tapi pecah