Advertisement

TIPS MENGAJARKAN KEADILAN PADA ANAK – Banyak orangtua bercita-cita mau mendidik anaknya supaya memiliki keutamaan keadilan tetapi orangtua kurang tahu pengertian keacfilan secara tepat dan cara mendidik yang baik. Banyak orangtua secara gampang saja menyangka bahwa keadilan identik dengan sama rasa atau sama rata bagi setiap anak dalam keluarga. Bagian ini coba menjelaskan macam-macam keadilan yang harus dibedakan secara tajam satu sama lain. Kemudian diberikan beberapa contoh konkrit dalam tindakan pendidikan itu sendiri. Terdapat em­pat jenis keadilan yaitu keadilan distributif dan keadilan sosial.Orangtua menanamkan sikap adil pada anak bukan hanya dengan instruksi tapi lebih-lebih dengan contoh teladan. Dengan demikian orangtua hadir secara ‘transparan’ berhadapan dengan anak.

Dari kita dituntut untuk menepati dengan saksama apa yang telah dijanjikan, untuk mengembalikan pinjaman, menggan­ti rugi, mengembalikan barang yang dicuri, membayar denda atau memberikan upah sesuai peraturan yang telah ditetapkan. Keadilan komutatif menuntut keseimbangan, tidak boleh ada orang yang mendapatkan keuntungan atau menderita kerugian. Seandainya anda meminjam sepuluh rupiah maka anda harus mengembalikan sepuluh rupiah. Seandainya anda mengembalikan hanya sembilan rupiah, tindakan ini belum adil. Kalau anda mengembalikan sebelas rupiah, tindakan ini tidak lebih adil. Kadangkala sikap anak yang tidak adil mencontohi sikap ibunya ketika berbelanja di pasar. Anak melihat ibunya mengambil tambah­an bawang di luar bagian yang telah dibayar. Bahkan tambahan bawang itu kelihatannya lebih banyak dari pada bagian yang telah dibayar. Ibu yang bertindak tidak adil komutatif di pasar mem- pengaruh tingkah laku anak juga. Jadi, janganlah kita terlalu berha­rap agar anak-anak bertindak adil kalau orangtua sendiri tidak bertindak adil komutatif. Keadilan hukum menuntut sikap yang adil dalam kehidupan bersama, misalnya dalam negara, organisasi atau perkumpulan kemasyarakatan. Negara atau organisasi mempunyai beberapa ke­tetapan hukum atau peraturan yang harus ditaati. Dari masing- masing orang dituntut ketaatan kepada hukum negara dan dari negara diharapkan perlakuan yang sama terhadap masing-masing orang tanpa pandang bulu, ras atau agama. Ketika beRjalan di jalan raya misalnya oleh orangtua diingatkan agar anak beijalan di bagian kiri jalan atau lebih baik lagi di atas trotoar. Kalau mau menyeberangi jalan, seharusnya melewati jem­batan penyeberangan. Pada saat menyeberangi jalan, seharusnya melewati jembatan penyeberangan. Pada saat mengendarai mobil, anak harus memperhatikan rambu-rambu lalulintas. Begitu terlihat lampu merah, mobil tidak boleh seenaknya saja berjalan terus. Mobil harus berhenti. Seandainya lampu merah tetapi mobil tetap berjalan terus maka polisi akan menahan mobil tersebut. Anak men­dapatkan sangsi hukum. Diharapkan agar polisi memberikan sangsi yang sama terhadap mobil pejabat dan mobil rakyat biasa, yang kedua-duanya sama-sama tidak mematuhi rambu lalulintas.

Advertisement

Setiap orang menuntut sumbangan kebahagiaan yang relatif sama yang diukur dari kebutuhan masing-masing orang. Selanjutnya, dari masing-masing orang dituntut pengorbanan atau sumbangan yang sesuai dengan bakat atau kemampuan orang tersebut. Dalam sebuah keluarga terdapat dua orang anak. Anak sulung berbadan gemuk, sehat dan kuat. Anak bungsu berbadan kurus, selalu sakit dan lemah. Orangtua bertindak adil secara distributif kalau kepada anak yang sakit dan lemah diberikan susu atau makan­an yang bergizi lebih banyak dari pada kepada yang sehat. Kalau perlu anak yang gemuk dan sehat tidak mendapatkan susu lagi pada saat keluarga kekurangan susu dan uang tidak cukup membeli banyak susu. Adalah tidak adil kalau kepada anak yang sehat dan sakit, sama-sama diberikan susu. Dalam hal ini orangtua bersikap sama rata atau sama rasa tetapi tidak bertindak adil. Seharusnya, anak yang sakit mendapatkan lebih banyak susu. Kepada anak yang sehat, orangtua menjelaskan sikapnya dan alasan mengapa adik yang sakit lebih diperhatikan. Anak yang cacat dalam keluarga tentu saja mendapatkan perha­tian kasih sayang yang lebih dari pada anak yang tidak cacat. Orang­tua menjelaskan sikapnya ini kepada anak-anak. Anak harus tahu bahwa saudaranya yang cacat mendapatkan perhatian yang khusus. Anak-anak insyaf bahwa masing-masing mereka diperlakukan sesuai dengan bakat dan kesanggupannya.

Anak yang kuat dan sehat memompa air, sedangkan anak yang lemah cukup saja menyirami bunga. Anak yang pandai dirangsang terus supaya lebih berprestasi lagi. Sedangkan anak yang kurang pandai jangan direndahkan atau dihina. Barangkali anak tersebut tidak pandai di sekolah tetapi memiliki bakat ketrampilan lain yang perlu dikembangkan di rumah.

Sejak dalam keluarga, anak dilatih untuk mencintai kehidupan sederhana dan merakyat. Anak tahu bahwa ia boleh saja maju dan berhasil namun selalu dalam kebersamaan dengan orang lain, khu­susnya dengan yang lemah dan miskin. Untuk dapat mencapai sikap seperti itu, orangtua menciptakan suasana dialogis dan de­mokratis dalam mengambil keputusan. Pertimbangan dan pendapat dari anak dihargai dalam keluarga. Sikap dari orangtua yang harus dihindari adalah menyuruh, memerintah, menuntut dan marah. Sikap-sikap seperti menuntut atau marah tidak mendukung pendi­dikan keadilan sosial.Tidak cukup kepada anak diperkenalkan rumah yatim piatu atau panti asuhan. Karena ada bahaya, kita membuat anak hanya mempunyai sikap karitatif yang sesat, yang cenderung menyobyekkan orang cacat. Yang tepat adalah bahwa anak-anak harus ikut secara aktif dalam organisasi. Dalam organisasi, anak sadar bahwa perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Siapa saja tanpa memandang status sosial, berhak ikut menentukan kesejahteraan bersama. Dalam organisasi anak dapat melihat praktek ketidakadilan dalam masyarakat.Sikap solidaritas harus dimiliki oleh orangtua itu sendiri. Orang­tua tidak boleh mewah sementara banyak orang di sekitarnya hidup dalam kemiskinan. Orangtua yang berkecukupan harus dengan iklas mau membayar pajak demi kesejahteraan bersama. Orangtua yang kaya bersedia memberikan sumbangan kepada panti asuhan atau badan sosial lainnya supaya orang miskin dan berkekurangan dapat mulai menolong dirinya sendiri. Pengalaman akan keberhasilan dan kegagalan masa lampau dalam membangun keluarga diceriterakan kepada anak. Anak-anak menge­tahui sejarah keluarga, bagaimana ayah dan ibu, dari kerfriskinan beijuang menjadi berkecukupan. Anak-anak tahu bahwa keberhasilan orangtua bukan hanya karena keuletan orangtua itu sendiri tetapi juga karena jasa orang lain dan sumbangan dari negara yang merde­ka. Tanpa orang lain dan tanpa negara yang merdeka, orangtua tidak mungkin berhasil. Anak mengetahui orang-orang dan lembaga yang telah beijasa bagi keluarga mereka sendiri. Anak insyaf bahwa manu­sia adalah makhluk sosial.

Incoming search terms:

  • xontoh mengajarkan keadilan sosial
  • contoh mengajarkan keadilan
  • contoh keadilan untuk anak anak
  • contoh keadilan orang tua terhadap anak nya di dalam rumah
  • Cara menjelaskan keadilan
  • cara mengajarkan keadilan
  • cara menanamkan prilaku adil
  • cara menanamkan keadilan
  • apakah adik identik dengan konsep sama rata
  • apa itu menamkan keadilan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • xontoh mengajarkan keadilan sosial
  • contoh mengajarkan keadilan
  • contoh keadilan untuk anak anak
  • contoh keadilan orang tua terhadap anak nya di dalam rumah
  • Cara menjelaskan keadilan
  • cara mengajarkan keadilan
  • cara menanamkan prilaku adil
  • cara menanamkan keadilan
  • apakah adik identik dengan konsep sama rata
  • apa itu menamkan keadilan