Advertisement

TITIK  OMEGA

Inggris: omega point.

Advertisement

Dalam teori evolusi yang dikembangkan Pierre Teilhard de Chardin, Omega merupakan titik pusat konvergensi evolusioni di masa depan. Evolusi berjalan searah, menuju organisasi mate yang lebih tinggi; atau dengan kata lain menuju kompleksit yang lebih tinggi. Evolusi itu maju sepadan dengan tingkat-tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Proses evolusioner telah berjala melalui titik kritis munculnya kehidupan. Evolusi itu terjadi karena bentuk-bentuk kehidupan yang terus-menerus menjadi leb rumit yang setara dengan tingkat-tingkat kesadaran lebih tinggi dan sudah melewati titik kritis kedua, yaitu perubahan kualitat keadaan, sampai munculnya manusia. Setelah kini sadar akan dir nya sendiri dalam umat manusia, evolusi berlangsung terus melal tingkat-tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan melalui kesada an umum manusia yang semakin ketat dan semakin rumit. Karenanya evolusi akan terus berlanjut melalui kesadaran umum manusia. Pertanyaan ialah: adakah suatu batas, suatu titik akhir evi lusi? Teilhard de Chardin menjawab “Ya”. Ia menyebut batas Titik Omega.

Evolusi merupakan proses yang konvergen, karena kini evolu terjadi secara menyeluruh atau nyaris secara menyeluruh dalai umat manusia. Dan ini terjadi dalam bentuk kemajuan manusi dalam bentuk sosialisasi yang kian menaik. Sosialisasi dapat berkembang hanya sejalan dengan kebulatan suara yang semak mendalam. Namun, sosialisasi yang kian menaik dan penyatu umat manusia yang sedang bertumbuh ini tidak dapat berlanji terus ke masa depan yang tidak terbatas. Dunia tersusun dari unsur-unsur yang terbatas. Karena itu, harus terdapat titik sosialisa maksimum masa depan. Harus terdapat titik pusat umat manus pada umat manusia sendiri.

Titik evolusi konvergen masa depan itu bersifat hipotesis. Pasca titik ini umat manusia akan mencapai penyatuan yang maksimum

Dan karena kesatuan sejati manusia mempribadikan manusia, pada titik ini umat manusia mencapai personalisasi individu yang maksimum. Titik itu disebut Titik Omega yang merupakan batas maksimum proses sosialisasi manusia, dan karenanya juga merupakan titik terminal masa depan dari evolusi konvergen.

Omega adalah titik batas sosialisasi. Karenanya Omega merupakan titik batas evolusi itu sendiri. Karena merupakan batas, titik itu seakan-akan adalah bagian dari proses evolusioner sebagai ujung akhir proses evolusi. Namun, titik itu berada di luar proses. Karena Omega pada dirinya sendiri tidak tunduk kepada evolusi.

Teilhard lalu menganalisis ciri-ciri Omega. Ia menemukan bahwa Titik Omega entah bagaimana harus sudah ada, meskipun berada di masa depan. Selanjutnya, Omega entah bagaimana harus menjamin ketidakmunduran proses evolusioner. Sebab kalau tidak ada jaminan terhadap hasil evolusi yang tidak dapat mundur dan pada akhinya berhasil, evolusi kini sadar akan dirinya sendiri dalam manusia akan manurun dan berhenti. Tetapi evolusi yang akhirnya merusakkan diri sendiri kurang berarti dibandingkan dengan evolusi yang akan mempunyai hasil yang dapat dijamin keberhasilannya. Karena itu, Teilhard menjadikan eksistensi Titik Omega masa depan bagian dari teori evolusinya. Ia menetapkan adanya titik pusat evolusi konvergen yang tidak dapat mundur. Dan titik ini sudah ada. Dan ia menambahkan ini pada hipotesis umumnya tentang evolusi. Dengan berbuat begitu ia melangkah dari gagasan Omega sebagai keadaan masa depan umat manusia kepada gagasan Omega sebagai sesuatu yang transenden dan otonom. Disebut transenden karena Omega berada di masa depan namun sudah ada sekarang. Dikatakan otonom karena evolusi tergantung pada Omega, dan Omega tidak tergantung pada evolusi. Omega kini dapat dilihat sebagai penggerak pertama “mulai sekarang hingga akhir” seluruh proses evolusi. Namun, sejak munculnya manusia, evolusi terjadi dalam pemikiran yang meliputi bumi, dalam umat manusia, dalam bentuk sosialisasi. Karena evolusi terjadi pada tingkat pribadi-pribadi, Omega yang merupakan penggerak pertama evolusi entah bagaimana harus bersifat pribadi.

Kita dapat membayangkan seluruh proses evolusi dalam bentuk kerucut. Evolusi berkonvergensi menuju puncak kerucut itu Puncak kerucut itu merupakan Omega. Ia bersifat otonom transenden, tidak dapat mundur, bersifat pribadi, dan kreatif (karena ia merupakan penggerak pertama evolusi). Teilhard memperlihatkan bahwa ini semua merupakan kualitas yang lazimnya diberikan manusia kepada Allah. Maka, ia menjadikan Omega Allah bagian dari teori evolusinya. Tentu saja ini tidak berart bahwa teori evolusi Teilhard de Chardin merupakan bukti metafisi: bagi eksistensi Allah. Omega-Allah tetap merupakan Allah hipotesis. Ia diekstrapolasikan dan didalilkan agar teori itu dapat lebih berarti.

Berdasarkan teori evolusinya itu Teilhard de Chardin menyajikai alasan-alasan bagi penerimaan iman Kristiani. Ia berargumentas berdasarkan eksistensi Omega-Allah yang probabel dan menerus kannya sampai pada adanya komunikasi atau wahyu khusus yanj probabel dari Omega kepada umat manusia. Ia mengemukakan bahwa tempat untuk mencari wahyu yang probabel ini terdapa di dalam satu agama dunia atau lebih. Dengan menggunakai uraian agama dari sudut yang lebih dekat dengan fenomenologi ia menentukan bahwa agama yang paling mungkin, tempat wahyu semacam itu ditemukan, ialah agama Kristen. Kemudian Teilhard melangkah dengan terus terang memasuki teologi Kristiani. Disini ia menggunakan presuposisi-presuposisi iman Kristiani sert teori evolusinya. Dengan ini ia mengidentikkan sumbu pusa evolusi dengan agama Kristen. Ia mengidentikkan titik termina evolusi dengan akhir dan transformasi dunia pada Parousia. Dan ini menyamakan Omega dengan Kristus yang bangkit.

Advertisement