TUJUAN TERAPI EKSISTENSIAL

Sangat sering terjadi hita menjalani hidup dalam headaan terihat rantai, kesimpulan yang dibuat oleh terapis tentang fenomenologi klien adalah isu penting yang belum tertangani.

Bahwa manusia pada dasarnya baik dan, jika tidak terjadi pembelajaran yang salah, akan mengambil berbagai pilihan yang memberikan pemenuhan diri, juga merupakan asumsi yang dapat dipertanyakan. Filsuf sosial lainnya (contohnya, Thomas Hobbes) memberikan pandangan yang kurang optimistik tentang ciri manusia.

Terapi Gestalt menyampaikan pesan bahwa manusia bukanlah tawanan masa lalunya, bahwa perubahan adalah sesuatu yang mungkin. Namun, jika seseorang tidak mengetahui bagaimana berperilaku secara berbeda, dapat terjadi kerusakan yang cukup parah. Contohnya, jika seseorang yang memiliki hambatan dalam pergaulan sosial tidak belajar bagaimana berbicara secara asertif kepada orang lain, maka tidak akan banyak manfaatnya untuk membuatnya lebih menyadari perilaku yang tidak asertif dan mendorongnya untuk lebih asertif. Karena kurang memiliki keterampilan yang diperlukan, orang tersebut dapat dinilai gagal.

Rogers harus dihargai atas usahanya memulai bidang riset psikoterapi. Dia berkeras bahwa hasil terapi harus dievaluasi secara empirik dan memelopori penggunaan kaset rekaman sehingga perilaku terapis dapat dikaitkan dengan hasil-hasil terapeutik. Prediksi utama terapi Rogerian, tentu saja, adalah bahwa empati yang diberikan terapis haruslah berkaitan dengan hasil-hasilnya. Namun, data yang ada tidak menunjukkan konsistensi (Greenberg, Elliot, & Lietaer, 1994). Walau demikian, mungkin masuk akal untuk tetap menekankan empati dalam pelatihan terapis, karena kualitas tersebut sangat mungkin membuat klien lebih mudah mengungkapkan fakta-fakta tentang dirinya yang sangat pribadi dan kadangkala tidak menyenangkan.

Filed under : Bikers Pintar,