Advertisement

Untuk menilai mutu sebuah Perguruan Tinggi salah satunya adalah seberapa besar kreatifitas Dosennya berusaha sekuat tenaga meningkatkan nilai mutunya sendiri. Ada dua jalan yang dapat dilakukan oleh seorang Dosen yaitu :
1. Menambah jenjang gelar Akademik sampai dengan Doktor.
2. Memperhatikan waktunya untuk memperoleh jenjang jabatan Akademis ke tingkat yang lebih tinggi dengan tepat melalui kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi. Kedua hal tersebut di atas harus direncanakan dan difikirkan kapan dilaksanakan waktunya. Menurut hemat kami kedua hal tersebut sangat penting sebagai lambang aktualisasi seorang dosen, me-rupakan juga kepuasan Dosen, baik Dosen tetap PNS, Yayasan, maupun dosen luar biasa. Untuk melakukan point yang pertama bagi seorang Dosen amat berat, di samping pengorbanan waktu yang cukup besar, juga dibutuhkan biaya dengan jumlah besar. Dibandingkan dengan melakukan point kedua asal punya kemampuan yang tinggi serta tidak mau berputus asa mau ertanya pada orang yang mengerti, tidak merasa tinggi hati, dan tidak meremehkannya, walaupun prosedurnya memerlukan pengorbanan waktu dan ulet akan berhasil sesuai de-ngan tepat waktu.
Banyak suara-suara mengatakan point pertama lebih penting dari pada point kedua, akibatnya menimbulkan kesulitan bagi Perguruan Tinggi pada waktu mengusulkan peningkatan akreditasinya khusus untuk Perguruan Tinggi swasta. Pada hal untuk pengusulan peningkatan akreditasi untuk setiap program studi dibutuhkan Dosen Magister atau Doktor dua atau tiga orang saja, yang mempunyai status tetap pada PTS tersebut. Selanjutnya harus diperkuat oleh Dosen minimal S 1 dengan jabatan paling rendah Lektor.
Sesuai pengalaman-pengalaman selama penulis menjadi Dosen point kedualah yang lebih penting dari pertama, walaupun tidak menyepelekan point pertama dimaksudkan di atas, terlebih bagi kebanyakan dosen yang berpenghasilan sangat terbatas dan Per-guruan Tingginya mempunyai kemampuan dana yang pas-pasan pula. Tidak jarang pula seorang dosen yang aktif mencari dana di luar perguruan tingginya untuk melakukan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi, bila Dosen itu bisa berhemat sedemikian rupa, didukung oleh pihak keluarga di rumah dapat mengumpulkan dana sedikit demi sedikit untuk modal melaksanakan point pertama yang dimaksud. Hal itupun kadang kala pada prakteknya juga mengalami kesulitan bagi Dosen yang putra/ putrinya telah menduduki pada tingkat pendidikan menengah dan tinggi. Akan tetapi kalau dosen sudah mempunyai tekat yang kuat, pasti bisa melakukan point pertama melalui perencanaan yang matang di samping fasilitas penunjang-penunjang yang memungkinkan dari Perguruan Tinggi bagi Dosen adalah segala kegiatankegiatan Pendidikan, Penelitian dan pengabdian pada masyarakat, sesuai dengan perbandingan-perbandingan jumlah angka kredit yang ditentukan oleh surat edaran bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan kepala Badan Administrasi Kepegawaian. Pengertian dari kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi dimaksud telah diuraikan secara jelas oleh Eryus AK pada tulisannya berjudul Kemampuan Tenaga Pengajar menghitung sendiri perolehan Angka Kredit pada majalah WIDYA No. 121, tahun XII Oktober 1995, bahwa seorang Tenaga Pengajar pada prinsipnya harus melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi. Selain ketiga Dharma atau unsur utama tersebut masih ada kegiatan lain yaitu Unsur penunjang Tridharma Perguruan Tinggi, unsur utama terdiri atas tiga bidang kegiatan sedangkan unsur penunjang hanya terdiri atas satu bidang kegiatan. Dengan demikian paling banyak ada empat bidang kegiatan yang dapat dilakukan oleh seorang tenaga pengajar (Widya 1995, hal 42 s/d 43).
Pada dasarnya kewajiban seorang dosen untuk melakukan Tridharma Perguruan Tinggi tidaklah terlalu sulit, karena pekerjaan dosen dapat digolongkan sebagai pekerjaan Profesi, tepatlah kiranya Dosen berusaha merencanakan, mengorganisasi, menggerakkan dan mengawasi sampai sejauh mana dosen berusaha mengembangkan ilmu pengetahuannya, dan bersedia mempersembahkan pengembangan ilmu pengetahuannya untuk kegunaan masyarakat.
Di dalam buku yang berjudu! Management, Integrated approach, KR Andrews, yang antara lain mengatakan, bahwa untuk menentukan apakah sesuatu lapangan kerja ( area of activity) itu dapat disebut satu profesi, apabila lapangan kerja tersebut memiliki lima hal penting di dalamnya yang meliputi :
1. Pengetahuan (knowledge).
2. Diterapkannya keahlian (competment application).
3. Tanggung jawab sosial (Social responsibility).
4. Self Controlle.
5. Pengakuan oleh masyarakat (Wahjosumidho, 1984).
Kelima hal yang dikemukakan tersebut di atas pada uraiannya telah dijelaskan secara rinci pada tridharma Perguruan Tinggi. Sehingga kelima hal yang dikembangkan tersebut akan terlihat pula dalam dharma ketiga yaitu Peng-abdian Pada Masyarakat. Terutama hal-hal yang erat hubungannya dengan tugas umum Pemerintahan dan Pembangunan. Koperasi merupakan salah satu peran pem-bangunan sangat penting bagi usaha peningkatan kemampuan daya beli masyarakat yang cukup andal bagi Pembangunan. Negara yang dianggap maju apabila meningkatnya perekonomian Rakyat. Setiap Koperasi yang didirikan usahanya akan ditentukan apa yang menjadi kebutuhan anggota, kalau anggotanya banyak dari Dosen-dosen sudah barang tentu kebutuhannya diutamakan kepada usaha peningkatan mutu dosen, di samping usaha-usaha penunjang lainnya.

Incoming search terms:

  • makalah peningkatan mutu perguruan tinggi

Advertisement
Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • makalah peningkatan mutu perguruan tinggi