ALIRAN ATAU TEORI EKOLOGI KEBUDAYAAN

117 views

Kemungkinan adanya pengaruh dari lingkungan terhadap kebudayaan merupakan pemikiran yang secara relatif baru akhir-akhir ini digarap secara sungguh-sungguh. Untuk banyak ahli antropologi, lingkungan hanya dilihat sebagai faktor yang mempunyai pengaruh yang membatasi kebudayaan yaitu bahwa aktivitas tertentu mustahil terjadi pada iklim-iklim tertentu (seperti kebudayaan pertanian di daerah kutub). tapi jangkauan yang lebih jauh tidak ada sehingga lingkungan hanya dilihat sebagai sesuatu yang tak mempunyai pengaruh langsung terhadap kebudayaan. Julian Steward adalah salah seorang yang mula-mula menyarankan pengkajian tentang ekologi kebudayaan, yaitu analisa mengenai hubungan antara suatu kebudayaan alam dengan sekitarnya atau lingkungannya. Steward merasa bahwa penjelasan untuk beberapa aspek-aspek variasi-variasi kebudayaan dapat dicari dalam adaptasi masyarakat terhadap lingkungannya. Yang Steward hendak lakukan bukan saja mengajukan hipotesa bahwa lingkungan menentukan atau tidak menentukan perbedaan antara kebudayaan-kebudayaan, tapi Steward juga ingin menjawab pertanyaan itu secara empiris, yaitu, dia ingin melakukan penelitian-penelitian untuk menunjang pembuktian pandangannya.1″1 Namun Steward juga mengatakan bahwa ekologi kebudayaan harus dipisahkan dari ekologi biologi (yaitu pengkajian terhadap hubungan antara organisme dengan lingkungannya). Penganut-penganut ekologi kebudayaan yang lebih baru seperti Andrew P. Vayda dan Roy A. Rappaport16 ingin menggabungkan prinsip-prinsip dari ekologi biologi ke dalam studi ekologi kebudayaan agar dapat merangkumnya menjadi satu ilmu tentang ekologi. Menurut pandangan ini, unsur-unsur kebudayaan seperti juga unsur-unsur biologis, tunduk juga pada proses seleksi oleh alam dan dapat dianggap bersifat mampu atau tidak mampu menyesuaikan diri. Jadi lingkungan, termasuk lingkungan fisik dan sosial, berpengaruh terhadap perkembangan dari kebudayaan, yaitu dalam arti bahwa individu-individu dan bangsa-bangsa berperilaku menurut cara yang berbeda, mencapai keberhasilan yang berbeda tingkatnya dalam perjuangannya untuk mempertahankan kelompoknya dan jumlah mereka dan sebagai konsekuensinya, berbeda juga mengenai cara penyampaian atau transmisi pola-pola perilakunya dari satu generasi ke generasi berikutnya.17

Perhatikanlah misalnya bagaimana kebudayaan dan lingkungan saling berkaitan di antara orang-orang Tsembaga yang hidup di pedalaman Irian.18 Orang-orang Tsembaga berbudaya horticulture yaitu terutama hidup dari hasil tanaman akar-akaran dan sayur-sayuran yang mereka tanam di kebun mereka; mereka juga memelihara babi-babi yang dipakai untuk memenuhi beberapa fungsi yang berguna. Meskipun babi jarang dimakan, namun babi itu “menjaga” kebersihan halaman karena memakan sampah-sampah, dan karena tanah untuk perkebunan dikorek-korek oleh babi, maka pengolahan tanah itu dibantu persiapannya. Pemeliharaan babi dalam jumlah kecil mudah dilaksanakan: babi itu berlarian bebas sepanjang hari, kemudian kembali di malam hari dan memakan apa saja yang “dibuang” manusia. Jadi babi yang membutuhkan pemeliharaan yang minimal ini, berguna sebagai “pembersih sampah” dan juga sebagai mesin “pengolah tanah”

Tetapi berbagai masalah timbul jika jumlah babi menjadi terlalu banyak. Sering kali sisa makanan, sampah danr kotoran tidak cukup lagi sehingga harus ditambah makanannya yang diambil dari jatah makanan manusia. Dan akhirnya terpaksa juga orang bekerja untuk menyediakan makanan bagi babi. Sama halnya bila sejumlah kecil babi piaraan memang berjasa sebagai pembersih halaman dan sebagai pengolah tanah perkebunan, jumlah ternak yang besar tampaknya malah memakan hasil kebun. Babi bahkan dapat merusak kerukunan dalam masyarakat, misalnya jika seekor babi masuk ke kebun tetangga, pemilik kebun sering kali membunuh babi tersebut, isteri pemilik kebun atau seekor babi pemilik kebun. Jika perselisihan demikian semakin banyak, diusahakanlah supaya babi benar-benar tidak mendekati kebun orang-orang lain.

Demikianlah untuk mengatasi masalah kelebihan ternak babi, maka rupanya orang-orang Tsembaga telah mengembangkan serentetan upacara yang rumit, dan penyembelihan sejumlah besar babi yang kelebihan, merupakan unsur yang penting dalam upacara itu. Babi sembelihan itu dapat dibagikan dagingnya (merupakan barang berharga) kepada teman-teman dan kepada nenek moyang (orang Tsembaga percaya bahwa nenek moyang akan mengaruniai mereka dengan kekuatan, keberanian, sebagai balasan persembahan daging babi tersebut). Jadi suatu praktek kebudayaan (upacara pesta babi), dapat dilihat sebagai adaptasi terhadap faktor lingkungan yang menghasilkan babi secara berlebihan (surplus); pesta-pesta demikian juga mengurangi konflik dalam masyarakat.

Incoming search terms:

  • teori ekologi budaya
  • Teori ekologi kebudayaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *