ANALISA KEBUTUHAN BELAJAR BAHASA INGGRIS

By On Tuesday, August 25th, 2015 Categories : Bikers Pintar

Secara akal sehat orang akan menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Agar orang menerima sesuatu yang diajarkan dengan senang hati tentu perlu diketahui lebih dahulu kebutuhannya. Demikian juga halnya dengan pengajaran bai.asa, supaya materi yang disusun dan diajarkan dapat dipelajari dengan penuh minat dan perhatian oleh peserta didik maka diperlukan analisis kebutuhan. Dalam pengajaran bahasa, analisis kebutuhan berkaitan erat dengan pengajaran bahasa untuk tujuan tertentu atau English for Specific Purposes (ESP) yang merupakan pendekatan untuk mendesain kurikulum yang dimulai dengan pertanyaan mengapa peserta didik perlu belajar bahasa Inggris. Tujuan dari analisis kebutuhan menurut Subyakto-N (1985) adalah sebagai berikut:

  1. Memberi suatu mekanisme agar memperoleh suatu jajaran (range) yang cukup luas mengenai masukan materi, desain dan penyebaran (dissemination) suatu program bahasa dengan melibatkan para peserta didik, para pengajar, para administrator dan para kepala (proyek) dalam proses perencanaan.
  2. Mengidentifikasi kebutuhan bahasa secara umum, agar secara khusus dapat dimasukkan identifikasi itu dalam pengembangan tujuan dan pengembangan materi suatu program bahasa.
  3. Memberi data yang dapat dipakai sebagai dasar atau acuan untuk mengevaluasi program bahasa.

Berkaitan dengan kebutuhan Widdowson (1984) mengemukakan bahwa ungkapan kebutuhan ara peserta didik memungkinkan dua interpretasi. Di satu pihak, hal itu dapat menunjuk kepada apa saja kebutuhankebutuhan peserta didik dalam memanfaatkan bahasa sesudah mereka mempelajarinya, ini merupakan batasan yang berorientasi dengan sikap akhir (terminal, behaviour) tujuan pembelanjaan (the ends of learning). Di lain pihak, ungkapan itu dapat menunjuk pada kecenderungan peserta didik dalam mempelajari bahasa supaya betulbetul menguasai bahasa itu. Ini merupakan suatu batasan yang berorientasi kepada proses dari kebutuhan dan berhubungan dengan sikap tradisional (traditional behaviour) dan alat pembelanjaan (the means of learning).

Sementara itu Hutchinson dan Waters (1987) mengemukakan dua jenis kebutuhan :

  1. Kebutuhan tujuan (target needs), yakni kebutuhan peserta didik terhadap bahasa yang bisa digunakan dalam situasi yang diinginkan.
  2. Kebutuhan pembelanjaan (learning needs), yakni bagaimana peserta didik sejak dari awal sampai kepada sasaran yang dituju.

Terdapat tiga istilah yang berkenaan dengan kebutuhan sasaran (target needs):

  1. Keperluan (necessities) yang merupakan jenis kebutuhan yang ditentukan oleh tuntutan situasi yang diingini, dan apa yang harus diketahui oleh peserta didik supaya dapat mengfungsikannya secara efektif dalam situasi yang diinginkan.
  2. Kekurangan (lacks), yakni jurang atau kesenjangan antara kemampuan yang dipunyai dengan kemampuan yang diingini atau kekurangan yang harus disempurnakan.
  3. Keinginan (wants), yakni kebutuhan yang dirasakan oleh para peserta didik dan merupakan prioritas pertama yang harus dipenuhi.

Kebutuhan pembelanjaan (learning needs) merupakan usaha untuk mengetahui situasi belajar mengajar yang berjalan dalam kelas dengan menggunakan pendekatan bahasa Inggris untuk tujuan tertentu. Barangkali terlalu naif kalau kita berpikir bahwa suatu perjalanan hanya memperhitungkan tempat pemberangkatan dan tempat tujuan. kebutuhan, potensi dan halangan dalam perjalanan (yakni situasi belajar) harus diperhitungkan sebab hal itu akan memberikan analisis yang bergunakan mengenai kebutuhan peserta didik. Situasi belajar mengajar juga sangat mempengaruhi keseriusan peserta didik dalam menekuni materi pelajaran yang diberikan. Dari penjelasan di atas, dapatlah kiranya dikemukakan bahwa analisis kebutuhan perlu dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan para peserta didik. Dalam analisis kebutuhan bahasa para peserta didik merupakan pusat perhatian dalam membuat keputusan yang akan dihasilkan dari analisis kebutuhan tersebut. Analisis kebutuhan ini perlu dilakukan agar materi yang diberikan menarik minat para peserta didik dan dengan sendirinya mereka akan dapat menguasai materi itu dengan baik. Dengan menguasai materi pengajaran bahasa Inggris dengan baik, kita juga dapat berharap bahwa peserta didik akan menggunakan bahasa Inggris sebagai alat untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas keilmuan mereka. Menjadi mahasiswa di perguruan tinggi memerlukan kesanggupan untuk belajar mandiri dalam rangka memperluas wawasan. Salah satu alat untuk memperluas wawasan adalah kemampuan berbahasa Inggris, yang di perguruan tinggi-merupakan mata kuliah dasar untuk meningkatkan kualitas keilmuan dan di dalam kurikulum disebut Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK). Bagi mahasiswa, kemampuan berbahasa Inggris diperlukan untuk membaca buku-buku teks yang sebagian bcsar masih tertulis dalam bahasa Inggris. Dari uraian sebelumnya dapat kiranya dipahami bahwa mata kuliah bahasa Inggris belumlah betul-betul berfungsi sebagai Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK). Agar mahasiswa dapat menguasai bahasa Inggris dan bahasa itu pada akhirnya digunakan sebagai alat untuk mengembangkan bidang keahlian mereka, maka sejak dari awal sikap pandang harus dirubah terhadap bahasa Inggris itu. Selama ini sebagian mahasiswa masih menganggap bahwa bahasa Inggris hanyalah sebuah mata kuliah yang wajib diikuti dirubah menjadi bahasa Inggris sebagai suatu kebutuhan. Dalam merubah sikap pandang ini perlu kerjasama semua pihak yang terlibat dalam proses bclaiar mengajar. Apabila materi pelajaran sesuai uengan kebutuhan, maka kita dapat berharap bahwa mahasiswa akan menguasai materi perkuliahan bahasa Inggris dengan baik dan dengan sendirinya dapat diharapkan betulbetul menjadi mata kuliah dasar untuk mengembangkan keahlian mereka. Untuk rpengetahui kebutuhan mahasiswa tersebut perlu dilakukan analisis kebutuhan.

ANALISA KEBUTUHAN BELAJAR BAHASA INGGRIS | ADP | 4.5