Apakah Metoda Ilmiah itu?

16 views

Perkembangan kearah metoda ilmiah sebenarnya telah dimulai setelah Reformasi Protestan, di mana beberapa orang terutama Francis Bacon menyadari bahwa metoda filosofis juga mempunyai keterbatasan, khususnya apabila digunakan untuk mempelajari dunia fisik. Dengan demikian, kita melihat bahwa logika itu saja tidak cukup untuk mempelajari sesuatu tetapi harus didampingi dengan pengujian secara empiris. Timbullah gagasan untuk melakukan penggabungan antara kedua pendekatan ini, untuk menyusun meto- da yang lebih dapat diandalkan dalam menemukan pengetahuan yang benar. Gabungan antara pendekatan rasional, dan pendekatan empiris dinamakan metoda keilmuan Jujun S. Suriasumantri dalam hal ini menyatakan bahwa “rasionalisme pada hakekatnya memberi suatu kerangka pemikiran yang koheren dan logis, sedangkan empirisme merupakan kerangka pengujian dalam memastikan suatu kebenaran.” Menggunakan kedua pendekatan ini akan menghasilkan suatu pengetahuan yang konsisten dan sistimatis serta dapat diandalkan, sebab pengetahuan tersebut telah diuji kebenarannya.

Apakah suatu pengetahuan yang telah diuji kebenarannya itu telah dapat disebut sebagai ilmu? Diskusi ini dibuka dengan menampilkan definisi ilmu pengetahuan menurut Ronald Freedman at. al. la menyatakan bahwa istilah ilmu pengetahuan merupakan salah satu dari istilah-istilah yang paling banyak dipergunakan, akan tetapi merupakan istilah yang sulit untuk dimengerti. Walaupun adanya pernyataan ini, akan tetapi perlu dikaji pengertian ilmu itu. Sekedar sebagai pedoman, dalam rangka membicarakan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ronald Freedman merumuskan ilmu pengetahuan sebagai suatu metoda untuk mendapatkan pengetahuan. Dinyatakan bahwa :  “Ini adalah suatu metoda yang berbeda dengan metoda yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan, dengan tekanannya yang keras atas test-test empiris yang harus dilakukan. Dengan demikian pertanyaan yang selalu diajukan dalam setiap ajaran ilmiah adalah “apa yang menjadi bukti untuk pernyataan itu”.

Metoda ilmiah berlainan dengan metoda yang lain untuk mendapatkan pengetahuan dengan penolakkannya untuk memberikan kepercayaan kepada intuisi dan logika. Fi- kiran-fikiran mengenai apa yang mungkin benar harus dicek dengan apa yang nyata-nyata benar.” Peter R. Seen, merumuskan ilmu sebagai suatu sistem yang menghasilkan kebenaran, dan seperti sistem-sistem lainnya, ia (baca: Ilmu) mempunyai komponen-komponen yang berhubungan satu sama lainnya. Komponen utama dari sistem ilmu adalah (1) perumusan masalah, (2) pengamatan atau deskripsi (3) penjelasan dan (4) ramalan dan kontrol.   Soerjono Soekanto, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan (knowledge) yang tersusun dengan sistematis, dengan menggunakan kekuatan pemikiran, pengetahuan mana selalu dapat dikontrol atau diperiksa dengan kritis oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya.

Diakui bahwa perumusan di atas sebetulnya masih jauh dari sempurna, akan tetapi yang penting adalah bahwa perumusan tersebut mencakup beberapa unsur pokok. Unsur-unsur atau “elements” yang merupakan bagian-bagian yang tergabung dalam suatu kebulatan itu adalah:

  1. Pengetahuan (knowledge)
  2. Tersusun secara sistematis
  3. Menggunakan pemikiran
  4. Dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.

Apabila diperhatikan dengan saksama rumusan ilmu pengetahuan tersebut di atas, dapatlah dikatakan bahwa perumusan tersebut mempunyai tekanan yang berbeda. Rumusan pertama dan kedua, kelihatannya lebih menekankan pada prosesnya, sedangkan rumusan ketiga lebih menekankan pada hasilnya. Memang ilmu pengetahuan akan mencakup dua aspek itu. Dengan demikian, secara sederhana dapat dinyatakan bahwa ilmu itu akan mencakup:

  1. Pengetahuan (knowledge)
  2. Metoda untuk memperoleh pengetahuan
  3. Disusun secara sistematis

Atau, dengan lain perkataan, ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metoda ilmiah dan disusun secara sistematis. Jadi, metoda ilmiah itu bukanlah ilmu itu sendiri akan tetapi hanyalah sebagai cara untuk memperoleh pengetahuan yang dapat dipercaya kebenarannya. Sebagai suatu cara, metoda ilmiah akan mencakup tiga langkah utama; demikian dinyatakan oleh Bertrand (Alvin L. Ber- trand). Ke tiga langkah tersebut adalah:

  1. Perumusan masalah atau hipotesa atau statement yang mengutarakan keyakinan bahwa suatu kondisi atau suatu hal mempunyai kaitan atau hubungan dengan kondisi atau hal lain.
  2. Melakukan test (pengujian) empiris atas hubungan yang dihipotesakan.
  3. Melakukan klasifikasi dan deskripsi secara sistematis terhadap apa yang telah ditest (diuji) dan diamati menjadi sistem-sistem atau pola-pola pengetahuan.

Menurut Bertrand, sistem atau pola-pola pengetahuan (yang merupakan hasil) itulah yang akhirnya dikenal menjadi hubungan-hubungan pengetahuan atau ilmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *