APAKAH YANG DIMAKSUD PSIKOTERAPI?

99 views

APAKAH YANG DIMAKSUD PSIKOTERAPI? – Dalam hal apa psikoterapi berbeda dengan dukungan nonprofesional semacam itu? Apakah perbedaannya ditentukan oleh gelar akademik atau lisensi tertentu yang dimiliki atau tidak dimiliki oleh si pemberi dukungan? Apakah berkaitan dengan si pemberi informasi memiliki atau tidak memiliki teori yang melandasi atau sekurang-kurangnya memandu apa yang disampaikannya? Apakah tergantung pada seberapa masuk akalnya asumsi-asumsi dasar dalam teori yang digunakannya? Semuanya adalah pertanyaan yang sulit, dan sebagaimana dalam area psikologi abnormal lainnya, hanya terdapat sedikit kesepakatan di antara para profesional. Penting untuk dicatat bahwa orang-orang yang mencari atau dikirim ke pertolongan profesional mungkin telah mencoba mendapatkan pertolongan non-profesional untuk meringankan beban, namun mereka tidak berhasil mendapatkannya. Sebelum mendatangi terapis, sebagian besar orang telah meminta pertolongan kepada teman-teman atau pasangan mereka, mungkin kepada dokter keluarga, berkonsultasi dengan ahli agama, atau dengan membaca sejumlah buku-buku dan program pertolongan diri yang sangat populer.

Bagi sebagian besar orang yang mengalami tekanan psikologis, satu atau beberapa pilihan di atas dapat memberikan ketenangan, dan mereka tidak mencari pertolongan lebih jauh. Namun bagi yang lainnya, upaya-upaya demikian hanya memberikan sedikit keberhasilan, dan akhirnya mereka merasa tidak berdaya, bahkan sering kali putus asa. Merekalah yang kemudian datang ke klinik-klinik kesehatan mental, pusat-pusat konseling universitas, dan kantor-kantor para praktisi. London (1964, 1986) menggolongkan psikoterapi sebagai terapi pencerahan (insight theray) atau terapi aksi (action therapy behavioral). Terapi pencerahan, seperti psikoanalisis, berasumsi bahwa perilaku, emosi, dan pikiran mengalami gangguan karena orang tidak cukup memahami apa yang memotivasinya, terutama ketika terjadi konflik antara kebutuhan dan dorongan. Terapi pencerahan berupaya membantu orang menemukan sebab-sebab yang mendasari perilaku, perasaan, dan pikirannya. Asumsinya adalah kesadaran terhadap mo tivasi yang semakin besar akan menghasilkan kontrol yang lebih besar terhadap pikiran, emosi, dan perilaku sehingga akan menghasilkan perbaikan pada ketiganya. Tentu saja, pencerahan bukan hanya terjadi dalam terapi pencerahan, juga tidak ada tindakan yang menjadi ciri khas terapi perilaku. Sebagaimana akan kita lihat terapi aksi juga memberikan pencerahan kepada individu, dan terapi kognitif yang muncul lebih akhir dapat dianggap gabungan terapi pencerahan dan behavioral. Hal itu berkaitan dengan penekanan, berkaitan dengan fokus. Dalam terapi behavioral fokusnya adalah mengubah perilaku; pencerahan sering kali merupakan manfaat sampingan. Terapi kognitif memberikan penekanan lebih besar pada beberapa macam pencerahan tertentu, sebagaimana akan kita bahas nanti pada bab ini. Dalam terapi pencerahan fokusnya tidak terletak pada mengubah perilaku secara langsung, namun lebih pada meningkatkan pemahaman terhadap berbagai mo tif, rasa takut, dan konflik. Untuk memudahkan pencerahan semacam itu, para terapis dengan sudut pandang teoretis yang berbeda menggunakan berbagai macam teknik, mulai dari asosiasi bebas dalam psikoanalisis hingga refleksi perasaan yang digunakan dalam terapi terpusat pada klien (client-centered therapy). Teori dan psikoterapi sangat banyak jumlahnya, mungkin ratusan, masing-masing memiliki pendukung yang antusias. Dalam bab ini kami menyajikan pembahasan rinci
mengenai berbagai teori dan metode intervensi yang lebih terkenal dibanding lainnya. Kami bermaksud memberikan cukup rincian mengenai pendekatan-pendekatan utama sehingga akan memberikan pemahaman terhadap isu-isu dasar dan suatu perspektif lengkap terhadap bidang terapeutik. Kami berharap dapat memberikan alat bagi para
pembaca untuk mengevaluasi secara kritis terapi-terapi baru yang muncul atau sekurang-kurangnya mengetahui pertanyaan-pertanyaan apa yang harus diajukan agar dapat mengevaluasinya secara efektif.

Countertransference mengacu pada perasaan analis kepada pasien. Para analis harus menyadari kebutuhan dan perasaan mereka sendiri sehingga dapat menilai pasien dengan jernih, tanpa distorsi. Untuk alasan ini, suatu analisis training, di mana dilakukan psikoanalisis kepada peserta training, umumnya menjadi bagian training psikoanalisis. Tantangan yang dihasilkan oleh countertransference digambarkan berikut ini dalam pembahasan terapi para pasien depresi. Ketika hal-hal yang sebelumnya
ditekan mulai terungkap dalam terapi, interpretasi mulai berperan. Dalam teknik ini, analis menunjukkan kepada pasien makna beberapa perilaku tertentu. Fokus utama interpretasi adalah mekanisme pertahanan, yang seperti telah kita bahas, merupakan alat bawah sadar ego untuk menghindari konfrontasi dengan kecemasan. Contohnya, seorang pria yang mengalami masalah dengan keintiman dapat mengalihkan pandangannya ke luar jendela dan mengubah topik kapan pun terjadi pembicaraan yang berkaitan dengan kedekatan dalam suatu sesi. Sampai titik tertentu analis akan berusaha menginterpretasi perilaku pasien, menunjukkan sifat defensifnya dengan harapan akan mendorong pasien mengakui bahwa dia menghindar dari topik semacam itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *