ARTI DIALECTIC (DIALEKTIKA) ADALAH

By On Wednesday, March 10th, 2021 Categories : Bikers Pintar

Interkoneksi dan perubahan.

Arti dialectic (dialektika) adalah Dalam pengcrtiannya yang paling umum, dialektika berarti sebuah proses pelik konflik konseptua I atau sosial, interkoneksi dan perubahan, di mana penciptaan, interpenetrasi, dari per­tentangan, yang menimbulkan mode pc­mikiran atau bentuk kehidupan yang lebih penuh, memainkan peran yang penting. Tetapi, dialektika adalah salah satu kon­sep paling tua dan banyak diperdebatkan dalam pemikiran filsafat dan sosial. Tetapi kontroversi di abad ke-20 berkisar di sepu­tar figur abad ke-19 Hegel dan Marx. Ada dua pengertian dialektika dalam Hegel: (a) sebagai proses logis; (b) sebagai penggerak proses ini. Menurut Hegel, prinsip idealismc, pe­mahaman spekulatif tentang realitas sebagai spirit (absolut), menyatukan dua cabang dialektika kuno, gagas­an Eleatik tentang dialektika sebagai reason dan ide Ionian tentang dia lek­tika sebagai process. Keduanya disatu­kan dalam gagasan dialektika sebagai process of reason. Proses ini meng­aktualisasikan dirinya sendiri dengan mengalienasi dirinya, dan memulih­kan kesatuan dirinya dengan mengakui alienasi ini sebagai tak lain dari kebe­basan ekspresi atau manifestasinya­sebuah proses yang diikhtisarkan dan dilengkapi dalam sistem Hegelian itu sendiri. Motor proses ini adalah dialektika yang dipahami secara lebih sempit, sebagai momen “pemikiran aktual” yang kedua dan negatif, yang discbut I legel scbagai “memahami hal yang bertentangan dalam kesatuannya atau memahami hal positif dalam hal yang negatif,” Ini adalah metode yang me­mampukan pengulas dialektika un­tuk melihat proses yang dengannya kategori, gagasan, dan bentuk kesa­daran muncul dari pertentangan itu dan membentuk totalitas yang lebih inklusif, sampai sistem secara kese­luruhan menjadi lengkap. Menurut Hegel, kebenaran adalah keseluruhan dan kesalahan terletak dalam keti­daklengkapan, kesepihakan, dan ab­straksi; gejalanya adalah kontradiksi yang dimunculkannya, dan pemulih­nya adalah inkorporasinya ke dalam bentuk konseptual yang lebih penuh, lebih konkret. Dalam proses ini prin­sip terkenal sublation akan kelihatan: ketika dialektika berlangsung, tidak ada pandangan parsial yang hilang. Dalam kenyataannya dialektika Hege­lian bergerak dalam dua mode dasar: dengan memunculkan apa-apa yang implisit, tetapi tidak secara eksplisit diartikulasikan, dalam beberapa gaga­san; atau dengan memperbaiki bebe­rapa keinginan, kekurangan, dan keti­dakcukupan di dalamnya. Pemikiran “dialektikal”, yang bertentangan de­ngan pemikiran “reflektif” (atau ana­litis), memahami bentuk-bentuk kon­septual dalam interkoneksinya yang sistematis, bukan hanya dalam perbe­daannya yang tegas, dan pemikiran ini memandang perkembangan itu sebagai hasil dari fase sebelumnya yang belum berkemban; jadi selalu ada beberapa ketegangan, ironi laten, atau kejutan baru di antara setiap bentuk dan hal­-hal yang ada di dalam proses menjadi itu.

Hegemoni filsafat positivis. Arti dialectic (dialektika) adalah

Pada awal abad ke-20 idealisme ab­solut dari F. H. Bradley dan J. McTaggart di Inggris dan J. Royce di AS merupakan gagasan yang amat berpengaruh. Benede­tto Croce mcngembangkan sebentuk Hegelianisme di Italia selama periode antara dua perang dunia. Pada 1930-an penaf­siran humanistis dari A. Kojeve dan Jean Hyppolite, terutama atas Phenomenology of Spirit karya Hegel, membantu memben­tuk sebuah generasi intelektual, terutama di Perancis, termasuk Jean-Paul Sartre. J. Findlay pada 1950-an dan Charles Taylor pada 1970-an merupakan tokoh penting yang menyiapkan dasar bagi penerimaan ulang atas Hegel di masa jaya dan sesudah hegemoni filsafat positivis di dunia Anglo­phone. Empat isu utama mendominasi kon­troversi intelektual tentang dialektika da­lam tradisi Marxis: (a) perbedaan antara dialektika Marxian (materialis) dan dia­lektika Hegelian; (b) peran dialektika da­lam karya Marx dan dalam ilmu sosial Marxian yang lebih luas; (c) kompatibilitas dialektika dengan LOGIC formal, material­isme, praktik ilmiah, dan rasionalitas pada umumnya; dan (d) status upaya Engel un­tuk memperluas dialektika Marx dari du­nia sosial ke dunia alam dan seluruh wujud pada umumnya. ­ Tiga penekanan paling umum terhadap konsep ini di dalam tradisi Marxis adalah sebagai: (a) metode, biasanya metode miah, dari dialektika epistemologis; (b) seperangkat kaidah atau prinsip, yang me­ngatur beberapa bagian atau seluruh re­alitas, dialektika ontologis; (c) gerakan se­jarah, dialektika relasional. Semuanya ini dapat dijumpai dalam karya Marx. Teta­pi, paradigmanya adalah ulasan metodo­logis Marx dalam Capital, filsafat alam yang dijelaskan oleh Engels dalam Anti­Duhring, dan “out-Hegeling Hegelianism” Gyorg Lukacs dalam History and Class Consciousness—teks-teks yang bisa diang­gap sebagai, secara berurutan, dokumen dasar dari ilmu sosial Marxis, DIALECTICAL MATERIALISM, dan Marxisme Barat.

Kri­tik Marx terhadap Hegel.

Kritik itu ti­dak menyangkal bahwa ilmu alam, sebagai bagian dari dunia sosiohistoris, mungkin bersifat dialektikal; yang dipersoalkan adalah apakah mungkin ada dialektika alam per se. Jelas ada perbedaan antara bidang sosial dan alarn. Tetapi apakah per­bedaan spesifik ini lebih penting ketimbang kemiripan generiknya? Akibatnya, prob­lem dialektika alam menjadi varian dari problem umum NATURALISM, di mana cara pemecahannya tergantung pada apakah dialektika itu dianggap cukup luas dan du­nia manusia cukup memadai secara alami­ah untuk memperluasnya ke kemungkinan alam. Bahkan kita tidak bisa mengharap­kan ada jawaban seragam—mungkin ada polaritas dialektikal dan oposisi inklusif dalam alam, namun bukan inteligibilitas atau nalar dialektik. Arti dialectic (dialektika) adalah Menurut Engels dan Lukacs, “sejarah” dikosongkan secara efektif dari substansi­nya—menurut Engels melalui diinterpre­tasikan “secara objektivis” dalam term ka­tegori proses universal; menurut Lukacs, dengan dianggap “secara subjektif” seba­gai berbagai mediasi atau momen finalisasi tindakan realisasi diri, yang merupakan dasar logikanya. Meskipun ada kelemahan ini, baik itu dialektika materialis maupun tradisi Marxis Barat di abad ke-20 telah menghasilkan beberapa tokoh dialektik yang kuat. Dalam Marxisme Barat, selain dialektika kesadaran diri historis atau di­alektika subjek-objek dari Lukacs, ada pula dialektika teori/praktik oleh Gramsci, esensi/eksistensi Herbert Marcuse, dan kontradiksi penampakan/realitas Col­leti, semuanya kurang lebih bersumber dari pandangan Hegelian. Dalam Walter Benjamin, dialektika merepresentasikan diskontinuasi (keterputusan) dan aspek katastropik sejarah; dalam Mark Bloch di­alcktika dianggap scbagai fantasi objektif; dalam Sartre dialektika berakar dalam in­teligibilitas aktivitas total individu; dalam Henri Lefebvre dialektika menunjukkan tujuan de-alienasi kemanusiaan. Di an­tara Marxis Barat anti-Hegelian (termasuk Colletti), dialektika Della Volpean pada dasarnya terdiri dari pernikiran non-rigid, non-hipostatis, sedangkan dialektika Al­thusserian merujuk pada kompleksitas, performasi dan overdeterminasi dari kes­eluruhan. Di tengah-tengah dua kubu itu, ada Theodor Adorno yang menekankan, di satu sisi, pemikiran kritik, dan di sisi lain, pemikiran non-identitas.

Materialis dialektis. Arti dialectic (dialektika) adalah

Sementara itu, dalam tradisi dialektika materialis, kaidah ketiga Engels (negasi dari negasi) oleh Stalin dilepaskan dari ideologi resmi USSR dan kaidah pertama (transformasi kuantitas ke kualitas dan se­baliknya) oleh Mao Zedong di Cina ditu­runkan ke kasus khusus dari yang kaidah kedua (interpenetrasi hal yang bertentan­gan), yang sejak Lenin semakin ditinggal­kan. Jelas ada prinsip (dan juga motif poli­tik) materialis yang baik di balik gerakan ini. Negasi atas negasi adalah alat yang dipakai Hegel untuk meleburkan wujud tertentu ke dalam ketidakterbatasan. Di lain pihak, seperti ditunjukkan oleh Mau­rice Godelier, materialis dialektis jarang mengapresiasi perbedaan antara kesatuan dari hal-hal yang bertentangan menurut Marxis dengan identitas (kesamaan) dari hal-hal yang bertentangan menurut Hege­lian. Di dalam tradisi ini Mao pantas dise­but karena mengemukakan beberapa per­bedaan yang berguna—antara kontradiksi antagonistik dan nonantagonistik, kontra­diksi prinsip dan sekunder, aspek prinsip dan sekunder dari kontradiksi, dan sete­rusnya—dan menekankan, seperti Lenin dan Trotsky, sifat “yang memadukan dan tak seimbang” dalam perkembangannya.

ARTI DIALECTIC (DIALEKTIKA) ADALAH | ADP | 4.5