ARTI EMPIRICISM (EMPIRISME) ADALAH

By On Sunday, March 14th, 2021 Categories : Bikers Pintar

Skeptisisme tentang eksistensi.

Arti empiricism (empirisme) adalah Ini mengandung arti sekumpulan teori penjelasan, definisi, dan justifikasi konsep kita dan/atau pe­ngetahuan, yang diambil dari dan/atau dijelaskan (danlatau dijustifikasi) dalam term pengalaman-indrawi (atau intros­peksi). Biasanya penganut empirisme (em­pirisis) berpendapat bahwa pengetahuan didapat melalui induksi dari (atau diuji dengan lawan dari) pernyataan observasi yang incorrigible, atau setidaknya belum disimpulkan. Ini selalu menimbulkan pro­blem tentang status proposisi matematika (yang dikatakan oleh J. S. Mill dan, di akhir abad ke-20, David Bloor, adalah em­piris), yang tampaknya merupakan sintesis dari prinsip-prinsip seperti keseragaman alam (diakui oleh Bertrand Russell ter­batas pada empirisme) dan empirisme itu sendiri (apakah ia analitis, dan karenanya dalam frasa John Locke, “trifling”, seper­ti yang diakui oleh Wittgenstein; atau apakah ia hanya empiris, dan karenanya terkena keraguan induktif?) Dalam ben­tuk Humeniannya, empirisme telah mela­hirkan skeptisisme tentang eksistensi (a) objek yang independen dari persepsi kita atas objek itu dan (b) keniscayaan natural (yaitu, koneksi yang niscaya di alam—dan karenanya memunculkan problem tentang status hukum). Sebagai salah satu karak­teristik Posmvism pada umumnya, empiris­me merupakan epistemologi dan teori sains yang dominan di hampir sepanjang abad ke-20; tetapi pengaruh empirisme juga me­luas sampai ke etika (seperti emotivisme), linguistik dan psikologi (seperti behavior­isme) dan ilmu-ilmu sosial pada umum­nya. Dalam fasenya yang mungkin paling berpengaruh empirisme mengambil bentuk empirisme logika seperti digagas oleh lingkaran Vienna pada 1920-an dan 1930-an, yang pada mulanya mengawinkan episte­mologi sensasionalis Ernst Mach dengan atomisme logis Russell dan Wittgenstein. Anggota utama lingkaran ini adalah M. Schlick, R. Carnap, dan Otto Neurah.

Teori ilmu deduktivisme. Arti empiricism (empirisme) adalah

Definisi contoh (instance) ini mungkin nyata atau operasional (P. W. Bridgman); dan jika ia nyata, ia adalah fisikalis (Neur­ath) atau fenomenalis—respons dominan terhadap problem (a), yang mana objek di­analisis sebagai data indra yang aktual atau yang mungkin, tetapi ini mendapat kritik tajam dari Wittgensteinians dan aliran LIN­GUISTIC PHILOSOPHY Oxford yang dipimpin oleh John Austin dan Gilbert Ryle setelah pertengahan abad ke-20. P1 rawan ter­hadap interpretasi deskriptivis dan instru­mentalis (Ryle); dan dari idealis transen­dental dan empirisis yang kaku. P2 rentan terhadap interpretasi induktivis (Carnap) dan falsifikasionis (Karl Popper); dan dari konvensionalis dan positivis. Dari P1 ke P2 adalah teori penjelasan tentang kejadian, hukum, teori ilmu—deduktivisme—ten­tang simetri penjelasan dan prediksi, dan teori perkembangan ilmu sebagai monistik, serta konfirmasi atau penguatan dan falsi­fikasi, dan teori rasionalitas ilmiah (lihat Bhaskar, 1975, appdx bab 2). Filsafat ilmu selama sepertiga abad terakhir ini memper­tanyakan kecukupan P1 dan P2; sedangkan selama seperempat abad terakhir ini karya Bhaskar mempertanyakan keniscayaan P1 dan P2, mengganti dasar ontologi realisme empiris dengan ontologi yang terdiferen­siasi dan bertingkat dari realisme transen­dental dan menyediakan tandingan yang realis untuk problem empirisis (b) dalam rangka membela ide tentang keniscayaan dan universalitas (yang dianalisis sebagai transfaktualitas nonempiris) dari hukum atau kaidah. Realisme transendental me­mungkinkan penolakan neo-Kantian terh­adap empirisme dan rasionalisme, di mana ditunjukkan bagaimana, dalam perkem­bangan sains, kita bisa memiliki pengeta­huan keniscayaan alamiah a posteriori. Perlu dijelaskan sedikit tentang run­tuhnya empirisme abad ke-20. Sampai tingkat tertentu, empirisme logis ambruk karena tekanan dari keraguan internalnya sendiri (lihat KNOWLEDGE, THEORY OF). N. R. Campbell pada 1920-an telah berargu­men menentang kecukupan teori penjelas­an deduktivis, dengan berpendapat bahwa model adalah sangat dibutuhkan untuk pemahaman dalam sains. Warisannya di­ambil oleh filsuf seperti Scriven, yang me­nyerang gagasan simetri penjelasan dan prediksi, S. E. Toulmin, M. B. Hesse dan terutama Rom Harre, yang berpendapat bahwa model dapat berarti mekanisme generatif dan struktur kausal yang secara empiris dapat dibangun— entah itu deng­an perseptual langsung atau kriteria kausal tak langsung—sebagai sesuatu yang riil, sebuah pandangan yang telah didukung oleh sejarah ilmu pengetahuan seperti fisi­ka dan kimia. Pada saat yang sama, karya Popper, Thomas Kuhn, I. Lakatos dan P. Feverabend melemahkan kredibilitas teori perkembangan ilmiah monistik, menun­jukkan besarnya perubahan saintifik yang telah terjadi di abad ke-20. Reduksionisme dan atomisme yang implisit di dalam teori bahasa ilmiah mendapat kritik tajam dari W. V. O. Quine, W. Sellars, N. R. Hanson dan yang lainnya. Mereka berpendapat bahwa predikat observasional dilekatkan pada dunia objek dengan cara yang lebih banyak tergantung pada teori yang non­isomorfis dan rumit ketimbang yang di­asumsikan.

Hermeneutisis dan dualis. Arti empiricism (empirisme) adalah

Sementara itu, pendukung hermeneu­tika—terutama mungkin H. G. Gadamer, 1). Winch—mempertanyakan daya terap dari model empiris untuk domain sosial. Baik itu teori maupun praktik ilmu sosial empiris telah dikritik oleh penulis-penulis antinaturalis dan anti-naturalis empiris yang ingin menekankan kekhususan ilmu kemanusiaan. Yang terutama berpengaruh di sini adalah argumen Jurgen Habermas bahwa positivisme, yang sibuk dengan hal­hal yang dapat diamati dan dimanipulasi, merefleksikan sebentuk praktik instrumen­tal-teknis yang hanya memuat kepenti­ngan manusia yang terbatas. Pada saat yang sama naturalis kritis seperti Bhaskar berpendapat bahwa model empiris menye­babkan hermeneutisis dan dualis (seperti Habermas) melebih-lebihkan perbedaan antara ilmu sosial dan ilmu alam. Perha­tian khusus diarahkan pada batas-batas untuk pengukuran dan investigasi kuanti­tatif dalam ilmu sosial dan pada efek dari empirisme (misalnya, dalam menyebabkan kemunduran interaksionis dan reduksionis) di bidang ilmu sosial. Psikologi behavioris menerima banyak kritik dari banyak kala­ngan, termasuk Erving Goffman, etnome­todologi Harold Garfinkel, dan psikologi sosial yang dibentuk dalam tradisi Witt­gensteinian dan Vygotskian. Model pem­belajaran bahasa empiris, yang biasanya dikaitkan dengan B. F. Skinner, dan model bahasa pada umumnya, mendapat seran­gan tajam dari rasionalis Noam Chomsky dan linguistik strukturalis. Arti empiricism (empirisme) adalah Penerimaan in­ternasional pada 1970-an terhadap gagas­an Volosinov dan Bakhtin (pertama kali dirumuskan pada 1920-an) dan perkem­bangan strukturalisme dari Ferdinand de Saussure melalui Claude Levi-Strauss telah melahirkan semiotika—atau ilmu tanda­tanda struktural—di tangan praktisi yang bervariasi seperti Roland Barthes dan M. Pecheux. Semua ini dianggap mengguna­kan kritik terhadap identitas subjek-objek, isomorfisme atau korespondensi yang di­asumsikan oleh empirisme. Pada 1980-an ada kebangkitan par­sial empirisme di dalam karya pemikir se­perti B. van Fraassen dan N. Cartwright. Yang lebih umum, empirisme cenderung berubah menjadi beberapa bentuk konvensionalisme, pragmatisme seperti yang direpresenta­sikan Richard Rorty, atau bahkan supra­idealisme seperti dalam berbagai bentuk post-strukturalisme dan post-modernisme umum, di mana kriteria objektivitas, ke­benaran dan kebutuhan manusia cende­rung hilang. Sementara itu, aspek lain dari kritik realis kritis terhadap empirisme adalah penilaian ulang atas karya Marx sebagai antiempirisis tetapi bukan (ber­beda dengan interpretasi Marxis Barat) anti-empiris dan penilaian ulang materi­alisme dialektik sebagai bentuk einpirisme objektivis. Saat abad ke-20 akan berakhir, di antara topik yang diteliti adalah kondisi dari kemungkinan dan efek empirisme itu sendiri (dengan reifikasi fakta dan personi­fikasi terselubung (humanisasi) atas benda­benda); ambruknya pemisahan perbedaan fakta-nilai dan teori-praktik (setidaknya dalam domain sosial) yang diasosiasikan dengan empirisme; dan kemungkinan real­isme dalam etika.­

ARTI EMPIRICISM (EMPIRISME) ADALAH | ADP | 4.5