ARTI KEBIJAKAN MONETER

By On Thursday, August 15th, 2013 Categories : Bikers Pintar

monetary policy (kebijakan moneter)

Kebijakan moneter mengacu pada penetapan suku bunga untuk mencapai tujuan-tujuan ekonomi tertentu, yang biasanya berupa usaha pengenyahan infasi atau tindakan terhadap aktivitas riil. Pengendalian berarti stabilisasi jangka pendek dan/atau pencapaian suatu tahapan sasaran dasar jangka yang lebih panjang. Permasalahan ulamanya berkaitan dengan bagaimana kebijakan harus diterapkan, pemilihan tujuan, dan otoritas yang seharusnya diberi wewenang untuk mengambil keputusan-keputusan ini.

Instrumen utama dari kebijakan moneter adalah tingkat suku bunga yang dikenakan oleh bank sentral terhadap uang yang disediakan untuk sistem perbankan. Apa pun tujuannya, keputusan sehari-hari sering kali diambil dengan acuan pada sasaran atau indika tor menengah, seperti tingkat pertukaran (exchange rate) atau tingkat pertumbuhan moneter.

Penawaran uang itu sendiri bukanlah sebuah instrumen kebijakan moneter karena bank sentral tidak dapat menerapkan kontrol langsung terhadap uang. Tetapi bank sentral dapat menerapkan kontrol tidak langsung melalui pengendalian suku bunga yang ditujukan pada sistem perbankan. Inti dari sistem ini adalah sekelompok bank yang memiliki rekening tabungan di bank sentral. Saldo dari rekening tersebut, bersama dengan uang tunai yang beredar, menjadi landasan moneternya. Dalam pelaksanaan bisnis harian, individu dan perusahaan menarik uang dari bank-bank tersebut dalam bentuk tunai, atau menyimpannya di rekening di bank-bank lain. Pada setiap akhir hari, akumulasi dari transaksi- transaksi tersebut mengakibatkan beberapa bank berhutang pada bank-bank lain  uang yang seharusnya disetorkan pada tiap akhir hari. Para pengutang biasanya mendapatkan uang yang diperlukannya dengan meminjamnya dari bank lain melalui pasar antar-bank Kadang-kadang beberapa pengutang pada akhir Hari tidak bisa mendapatkan dana yang mereka butuhkan untuk memenuhi kewajibannya. Sehingga kemudian mereka terpaksa berpaling pada bank sentral yang, sebagi tender o! last rescrt dapat menyediakan uang

Bagaimanapun bank sentral tidak bisa menolak untuk menyediakan dana kecuali jika bank sentral ingin membiarkan satu bank atau lebih jatuh pailit. Dengan demikian bukannya tidak mungkin bagi bank untuk melakukan monetary base control, meskipun bank tersebut bisa menggunakan dasar moneter sebagai sasaran antara dan menyesuaikan tingkat pemberian pinjamannya.

Implementasi kebijakan moneter tidak ter-gantung pada adanya reserve requirements, yaitu persyaratan yang menyatakan bahwa bank harus memiliki sejumlah aset dalam bentuk simpanan di bank sentral. Tentu saja bank harus meminjam dari bank sentra jika tingkat simpanan mereka berada di bawah persyaratan yang telah ditetapkan, dan syarat ini tetap berlaku kendati jumlah yarig disyaratkan adalah nol. Perubahan dalam persyaratan cadangan (reserve requirements) akan mempengaruhi pertumbuhan moneter tetapi hanya sedikit bank sentral yang mau menerapkannya. Cadangan yang disyaratkan itu memberi simpanan yang murah bagi bank sentral dan ini berperan sebagai pajak terhadap sistem perbankan. Perdebatan tentang tujuan kebijakan moneter memanas setelah dikeluarkannya buku Keynes yang berjudul General Theory pada tahun 1936.

Esensi Keynesian mengatakan tidak atau sekurang-kurangnya tidak akan terjadi sebelum kita semua mati. Kelompok monetaris, yang saat ini meng-asingkan diri di Chicago dan di beberapa pos terpencil di Inggris, menyerang pandangan ini dari dua bidang. Yang pertama, adalah kebijakan moneter yang pada kenyataannya memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap permintaan. Yang kedua, bahwa ekonomi akan selalu kembali pada tingkat aktivitas yang alamiah, dan para pengambil kebijakan harus berusaha memperbaiki tingkat alamiah ini dari pada mencampuri kekuatan-kekuatan pasar yang menjalankan ekonomi. Mereka juga menambahkan sebuah pandangan bahwa berbagai otoritas ini tidak kompeten untuk menyesuaikan permintaan tepat pada waktunya. Dengan pandangan ini mereka menolak manajemen permintaan baik yang melalui kebijakan fiskal maupun moneter, tetapi terutama yang diagitasi oleh prospek para pengatur permintaan yang menggunakan kebijakan moneter secara tidak kompeten. Mereka berpendapat bahwa akan lebih baik jika mereka mengambil senjata ampuh ini dari tangan para pengatur tersebut dan mengalihkannya pada tujuan berangka panjang untuk menetapkan inflasi yang rendah dengan cara menetapkan sasaran yang tetap bagi pertumbuhan moneter.

Terjepit di antara dua pilar besar mekanisme kebijakan moneter dan struktur perekonomian adalah sebuah permasalahan yang dikenal sebagai mekanisme transmisi, di mana perubahan dalam kebijakan moneter bisa mempengaruhi output dan pekerjaan (jobs). Pandangan ini berubah secara mendasar pada tahun 1970-an dan 1980-an Pada masa sebelumnya, ada anggapan bahwa perubahan kebijakan moneter hanya menyebabkan bertambahnya atau berkurangnya permintaan dari individu dan perusahaan ourpu: yang dihasiiKan domestik, atau menukar antara barang-barang domestik atau impor jika kebijakan tersebut mengubah tingkat pertukaran Selanjutnya. dinyatakan bahwa mereka akar, dipengaruhi baik oleh kebijakan afCuai maupun kebijakan yang dihanapkan expected dan bahwa perubahan kebijakan moneter hanya akan mempengaruhi aktivitas jika kebijakan diberlakukan secara mendadak. Sebagai contoh. perusahaan telah mengetahui bahwa pemerintah 2.–2T.

mengendorkan kebijakan moneter utuk mening-katkan output di atas tingkat alamiah, mereka akan menaikkan harga terlebih dahulu. Semua itu tujuannya adalah untuk mendapatkan peningkat¬an output sementara dari ekspansi tersebut yang lebih besar dari pada yang diharapkan, dan untuk mencapai ekspansi jangka panjang diperlukan sekuen kejutan percepatan pertumbuhan moneter, yang dibarengi oleh percepatan inflasi.

Model teoretis telah dikembangkan untuk menganalisis efek ekspektasional ini, yang mencapai puncaknya pada hipotesis ekspektasi rasional, yang bisa digunakan sebagai senjata oleh kedua belah pihak. Yang pertama, individu yang cerdik dapat memperkirakan keseluruhan tindakan yang akan dilakukan oleh otoritas moneter yang rasional, yaitu bahwa kebijakan kejutan tidak mungkin dilakukan. Para aktivisnya berpendapat lain bahwa kebijakan yang diharapkan dapat efektif jika perusahaan menetapkan harga sebelum mereka menyadari akan adanya tindakan kebijakan di masa depan. Kebalikannya, jika otoritas dikenal sangat committed terhadap full employment, para penawar upah tidak perlu cemas dalam menuntut kenaikan upah yang tinggi karena mereka tahu bahwa jika perusahaan tidak mampu membayar mereka, dan mereka mulai mem-PHK-kan para pekerjanya, maka pemerintah akan menaikkan tingkat permintaan sehingga mereka dapat menaikkan harga untuk mendapatkan uang untuk membayar biaya upah yang makin besar. Dengan demikian kebijakan stabilisasi menciptakan bias infiasioner. Lebih lanjut, kebijakan yang aktif mempersulit perusahaan untuk membedakan kenaikan-kenaikan atas harga yang menunjukkan bahwa share mereka atas tingkat permintaan yang alamiah telah meningkat, dengan kenaikan- kenaikan yang mencerminkan tindakan kebijakan yang pada akhirnya mengakibatkan kenaikan seluruh harga tanpa adanya perubahan permintaan jangka panjang. Dengan demikian kebijakan moneter aktif dapat mengurangi efisiensi harga sebagai mekanisme pemberitahu (signalling mechanisni).

Permainan, kebijakan juga menciptakan kesulitan untuk mengimplementasikan sasaran inflasi jangka panjang yang pasif. Strategi jangka panjang yang optimal adalah dengan mengumumkan bahua tnckat inflasi yang rendah akan dipertahankan dalam keadaan apapun. Tetapi jika muncul resesi, tanggapan optimal pemerintah.

ARTI KEBIJAKAN MONETER | ADP | 4.5