ARTI NORMA-NORMA

By On Friday, August 16th, 2013 Categories : Bikers Pintar

norms (norma-norma)

Norma-norma sosial berada dalam dua bentuk dasar. Norma jenis pertama merujuk pada perbuatan yang bersifat umum atau biasa. Norma- norma semacam itu menggambarkan apa yang dilakukan kebanyakan orang, sehingga bisa disebut norma deskriptif (descriptive norms). Berbagai norma itu memotivasi perilaku kita dengan cara memberikan bukti tentang apa yang dianggap oleh sebagian besar orang sebagai perbuatan efektif bagi mereka dalam situasi tertentu. Dengan hanya mencatat apa yang dilakukan orang lain dan kemudian meniru perbuatan mereka, berarti kita telah memilih secara efisien dan benar. Berbagai bukti menunjukkan bahwa orang cenderung mengikuti tokoh dari suatu kelompok. Para peneliti sering menunjukkan bahwa persepsi tentang apa yang dilakukan kebanyakan orang akan mempengaruhi perilaku si pengamat, bahkan ketika perilaku-perilaku itu mengandung moralitas yang netral seperti memilih produk sehari-hari (Venkatesan 1966) atau menatap ruang kosong di angkasa (Milgram et. al. 1969).

Norma jenis kedua mengacu pada harapan-harapan bersama dalam suatu masyarakat, organisasi atau kelompok mengenai perbuatan tertentu yang diharapkan aturan-aturan moral yang kita setujui untuk dilaksanakan. Norma-norma semacam itu merefleksikan apa yang disetujui dan yang tidak disetujui oleh sebagian besar orang. Norma-norma itu memotivasi perilaku kita dengan cara menjanjikan ganjaran atau hukuman sosial informal atas perilaku itu. Berbeda dengan norma deskriptif, yang sering diistilahkan dengan norma-norma “merupakan”, norma-norma ini justru sering disebut dengan norma-norma “seharusnya”. Norma-norma des-kriptif menginformasikan perilaku kita, sedangkan norma-norma ini mengaturnya; sehingga norma-norma ini bisa juga disebut norma injungtif (injunctive norms). Sebagian contoh dari norma injungtif ini meliputi norma balas budi (reciprocity) dan norma tanggung jawab sosial. Menurut Gouldner (1960), tidak ada satu masyarakat pun yang tidak menganut norma balas budi, yang mewajibkan kita membalas orang lain dengan perbuatan (misalnya pemberian, pertolongan atau konsesi) yang sama dengan perbuatan mereka kepada kita. Norma tanggung jawab sosial, yang juga disebut norma bantu-membantu (helping norm), menyarankan perlunya memberikan bantuan pada orang yang membutuhkan. Berdasarkan laporan juga, norma itu sudah ada sejak lama dalam banyak budaya (Berkowitz 1972).

Terjadi perdebatan mengenai kegunaan konsep norma-norma injungtif dalam menjelaskan atau memprediksi perilaku manusia secara memadai. Sebagian ahli berpandangan bahwa aturan-aturan moral bersama merupakan sarana yang sangat berguna dan penting untuk memahami perbuatan sosial (misalnya Pepitone 1976). Sementara, ada pandangan lain yang menyatakan bahwa norma-norma injungtif telah didefinisikan secara salah dan lemah, terutama, dalam hal pengaruhnya terhadap fungsi kemanusiaan (Krebs dam Miller 1985). Perdebatan ini mereda dengan munculnya pengakuan bahwa seberapa besar derajat suatu norma mampu mengarahkan perilaku bergantung seberapa besar derajat perhatian orang bersangkutan terfokus pada norma tersebut. (Cialdini et.al. 1991). Artinya, meskipun nomia-norma injungtif berlaku selamanya dalam suatu masyarakat, organisasi atau kelompok, namun norma-norma itu tidak depat dipaksakan selamanya. Hanya dalam situasi tertentu di mana suatu norma diaktifkan (artinya, sangat ditonjolkan) dalam kesadaran individu yang bisa mengarahkan perbuatan individu itu secara paksa (Miller dan Grush 1986; Rutkowski et. al. 1983). Sehingga kita memiliki alasan untuk menerima bahwa norma-norma sosial bisa digunakan sebagai alat paksa untuk mengarahkan perbuatan manusia. Namun, alasan ini terutama berlaku pada mereka yang memfokuskan secara alamiah pada pertimbangan-pertimbangan normatif atau mereka yang secara temporer memusatkan perhatian pada berbagai pertimbangan tersebut.

ARTI NORMA-NORMA | ADP | 4.5