ARTI PSIKOLOGI OKUPASIONAL

By On Tuesday, August 20th, 2013 Categories : Bikers Pintar

occupational psychology (psikologi okupasional)

Psikologi okupasional adalah istilah yang tampaknya merangkum satu bidang kajian dengan sebutan macam-macam, yaitu psikologi industri, psikologi organisasional, psikologi vokasional, dan psikologi sumber daya manusia. Psikologi industri barangkali memberikan petunjuk tentang psikologi yang berkaitan dengan kepentingan- kepentingan manajemen psikologi organisasional membatasi bidang itu hanya pada konteks khusus tertentu psikologi vokasional cenderung membahas berbagai karir individu di luar konteks organisasional yang biasa mereka tekuni, sedangkan psikologi sumber daya manusia bisa dikatakan mengabaikan konteks non-organisasional. Dengan demikian psikologi okupasional merupakan label yang bermanfaat, karena merangkum semua penekanan ini.

Secara historis, kita dapat melihat perkembangan psikologi okupasional itu sebagai produk perubahan-perubahan sosial, ekonomi dan kultural dalam masyarakat industri Barat. Berbagai dampak perubahan ini kadang-kadang terjadi melalui perkembangan-perkembangan paralel dalam aliran utama psikologi. Beberapa contoh barangkali akan memperjelas hubungan-hubungan ini.

Determinisme biologi abad ke-19 yang ditunjukkan dalam penelitian-penelitian Galton mengenai dasar kemampuan intelektual yang bersifat bawaan bersamaan dengan pertumbuhan “manajemen ilmiah”. Sebagaimana dikemukakan oleh F. W. Taylor, pendekatan ini menyatakan bahwa kerja bisa dipilah-pilah menjadi bcbcnips tugas yang membutuhkan kemampuan-kemampuan spesifik. Perang Dunia l telah mendorong perkembangan tes-tes psikometrik untuk melakukan seleksi bagi tugas-tugas kernJHcTan, dengan demikian justifikasi ideologi dan alat praktek telah tersedia untuk tumbuhnya gerakan pengujian psikometrik demi tujuan-tujuan seleksi pekerjaan. Tradisi ini hidup terus terbukti dari kutipan ahli psikologi terapan Amerika, Marvin Dunnette, berikut ini: “Berbagai atribut kemanusiaan memang benar-benar eksis dalam berbagai situasi secara konsisten dan memadai, sehingga prediksi terhadap kinerja kerja manusia bisa dilakukan secara realistis berdasarkan pengujian bakat dan keahlian yang terpisah dari pengaruh situasional” (Dunnette dan Hough, 1990). Pernyataan ini jelas menunjukkan asumsi bahwa individu-individu memiliki sejumlah karakteristik yang kekal bahwa berbagai karakteristik ini tetap benar dalam berbagai situasi; bahwa karakteristik itu terkait dengan berbagai aspek tertentu dari pekerjaan, dan bahwa pekerjaan-pekerjaan itu bisa didefinisikan berdasarkan tugas-tugas yang tercakup di dalamnya.

Pengaruh kedua terhadap psikologi okupasional adalah penekanan pada arti pentingnya kelompok kecil selama pertengahan pertama abad ke-20. Lagi-lagi, Perang Dunia 11 memberikan bukti tentang nilai penting keterpaduan (cohesiveness) kelompok dalam meraih tujuan tertentu. Gagasan militer untuk kepemimpinan dan penekanan pasca-perang pada berbagai keterampilan manajemen manusia menyebabkan makin banyaknya kajian tentang kelompok-kelompok kerja. Konsep tentang kelompok kerja sebagai faktor dependen terhadap keberhasilannya dalam hubungan interpersonal telah mendapatkan kepercayaan, dan para manajer dipandang memiliki orientasi pada pemeliharaan hubungan-hubungan ini dan juga pada pencapaian tujuan-tujuan organisasional. Dari situlah teori-teori kepemimpinan dari Fred Fiedler, dan teori manajemen tipologi x dan y yang dikemukakan oleh David McGregor sesuai benar dengan Zeitgeist (semangat berpikir) mutahir.

Gelombang ketiga perkembangan psikologi okupasional itu terkait dengan pengaruh kultural v ing kuat dari humanisme pada tahun 1960-an, yang ditunjukkan dalam naskah populer berjudul The Greening of Amcrk oleh Theodore Reich (1970). Aktualisasi diri, yaitu pencapaian potensi seseorang secara sempurna, dan slogan-slogan lain memperoleh dukungan dari para pakar psikologi aliran utama seperti itu seperti Carl Rogers dan Abraham Maslow. Pengaruh mereka masuk ke dalam psikologi okupasional dalam bentuk berbagai kelompok pelatihan dalam program pengembangan manajemen. Tujuan kebanyakan program ini adalah membantu individu-individu untuk mendekati “diri mereka yang sebenarnya” dan sebagai konsekuensinya lebih menyadari potensi-potensi riel mereka sebagai individu.

Dalam perspektif sinis, sejarah psikologi okupasional dapat dianggap sebagai respons terhadap kesempatan untuk mempopulerkan segala trend kultural. Sedangkan sudut pandang alternatif menyatakan bahwa para pakar psikologi sudah terbiasa mendukung tujuan-tujuan praktis bila ternyata para penguasa menganggap tujuan-tujuan itu bermanfaat.

Psikologi sosial banyak membahas tentang hubungan antara organisasi dan individu dalam teori peranan tentang makna kerja dalam pendekatan-pendekatan fenomenologi terhadap kognisi tentang karir-karir kehidupan (life careers) dalam teori-teori rentang kehidupan (lifespan theories) perkembangan manusia dan tentang hubungan antar organisasi dan antar negara-kebangsaan dalam teori-teori konflik dan negosiasi. Perhatiannya sekarang tidak lagi tertuju pada individu-individu yang terisolasi dari konteksnya, dan juga tidak lagi pada kelompok pekerja primer. Konteks keija organisasional, bersama dengan nilai-nilai dan citra yang ditampilkannya, jauh lebih menonjol. Demikian juga lingkungan organisasi itu, di mana mereka harus terus-menerus beradaptasi bila ingin menjamin kelangsungan posisinya. Yang juga penting, hubungan-hubungan kerja dan perubahan ekonomi maupun teknologi sedang dimasukkan sebagai bagian fokus psikologi. Kajian-kajian antar-budaya mulai menunjuk-kan betapa etnosentrisnya teori-teori kita sekarang ini, dan betapa tidak relevannya teori-teori tersebut dengan berbagai kebutuhan bangsa-bangsa yang sedang berkembang. Bila suatu perspektif luas mampu membuktikan lebih kuat daripada profesionalisme picik, maka psikologi okupasional yang sebenarnya akan tampak jelas.

Incoming search terms:

  • pengertian vokasional menurut para ahli
ARTI PSIKOLOGI OKUPASIONAL | ADP | 4.5