ARTI SEJARAH LISAN

By On Tuesday, August 20th, 2013 Categories : Bikers Pintar

sejarah lisan

Sejarah lisan adalah catatan dan interpretasi dari kesaksian-kesaksian lisan mengenai masa lampau individu. Berbeda dengan tradisi lisan (oral tradition), sejarah lisan lebih terkait dengan pengalaman-pengalaman pada masa lampau mutakhir daripada dengan transmisi ingatan-ingatan antar generasi (Henige 1982).

Ada banyak teori dan metode terkait dengan pokok bahasan ini. Kesaksian-kesaksian lisan dapat digunakan untuk memberikan pembahasan rinci mengenai kehidupan seseorang (“riwayat hidup” atau “kisah pribadi”) atau untuk memberi kemudahan bagi rekonstruksi dan analisis terhadap perubahan sosial (“analisis silang”) (Bertaux 1981; Lummis 1987; P. Thompson 1988).

Metode riwayat hidup dirintis oleh Mazhab Chicago dalam kajiannya terhadap pengalaman para imigran, budaya, kejahatan dan penyimpangan pemuda (Plummer 1983). Wawancara riwayat hidup biasanya setengah-terstruktur atau tidak terstruktur. Wawancara-wawancara itu, sebagaimana dinyatakan oleh Malinowski (1922), bertujuan “menangkap sudut pandang aslinya, hubungannya dengan kehidupan, untuk memahami visinya tentang dunia.”

Analisis-analisis silang yang didasarkan atas kesaksian lisan biasanya menggunakan sampel yang lebih besar dengan wawancara yang lebih terstruktur. Sebuah contoh yang berpengaruh di Inggris adalah kajian Paul Thompson (1993) terhadap struktur sosial dan perubahan sosial di Inggris pada masa Raja Edward. Dimulai pada tahun 1968, proyek ini mengumpulkan berbagai koleksi pribadi dari sampel yang representatif (berdasarkan sensus tahun 1911) berjumlah 500 orang. Dalam prakteknya, meskipun landasannya yang berbeda, teknik-teknik analisis silang dan riwayat hidup sering digunakan bersama-sama.

Kesaksian lisan adalah salah satu bentuk bukti sejarah yang paling tua dan paling banyak digunakan orang. Kesaksian ini merupakan bentuk utama catatan sejarah di kalangan masyarakat-masyarakat maju, dan pada umumnya digunakan dalam penelitian sejarah di Eropa sebelum pertengahan abad ke-19 (misalnya dalam karya sejarawan Perancis Jules Michelet (1847)). Namun ketika tumbuh pengaruh positivisme, sumber-sumber lisan semakin diragukan keandalannya (Henige 1982; P. Thompson 1988).

Selama kurun waktu pasca perang, sejarah lisan mengalami kebangkitan kembali di Eropa dan Amerika Serikat dengan munculnya sejarah sosial. Kemunculan dan pemeliharaan sumber- sumber lisan bernilai penting bagi sejarah, dengan kepeduliannya untuk mengungkap kembali (recover) berbagai pengalaman orang-orang yang mengalami marjinalisasi dari catatan-catatan sejarah. Sejarah lisan dengan cara pengungkapan kembali ini tetap menjadi cara yang sangat penting untuk mengumpulkan bukti mengenai kelompok-kelompok sosial non-elit, yang sering menjadi pelaku utama dalam berbagai catatan hukum, parlementer atau catatan resmi lainnya, tetapi hanya mencatat sedikit bukti berdasarkan sudut pandang pandang mereka sendiri. Sejarah lisan semacam ini sudah dipergunakan dalam bidang-bidang seperti sejarah wanita dan pekerjaan [mereka! (Davidoff dan Westover 1986; Roberts 1984), sejarah lokal dan okupasional (Samuel 1975; White 1980), sejarah pedesaan (Blythe 1977; Ewart-Evans 1975), sejarah masa kanak-kanak (Humphries 1981 T. Thompson 1981) dan sejarah keluarga (Hareven 1982). Salah satu kekuatan sejarah lisan jenis ini yang diakui adalah kemampuannya mendatangkan bukti baik tentang peristiwa-peristiwa masa lampau maupun berbagai perasaan individu terhadap peristiwa-peristiwa tersebut.

Para pengritik dan pendukung sejarah lisan pernah memperdebatkan keunggulan-keunggulan cara pengungkapan kembali ini. Jangkauan kronologinya akan selalu terbatas, karena bukti itu biasanya hanya mengandalkan ingatan. Para penganut skeptisisme juga menegaskan bahwa metode ini bersifat teleologis, karena para narator tidak terhindarkan untuk menghadirkan masa lalu dalam kerangka masa kini. Para sejarawan yang berpegang pada dokumen terutama mempertanyakan keandalannya, karena bisa jadi ada tenggang waktu 70 tahun antara terjadinya pengalaman dan diceritakannya pengalaman itu. Para sejarawan lisan menanggapinya dengan menegaskan bahwa ingatan jangka panjang tetap akurat, dan bahwa sumber-sumber tertulis seperti catatan sidang peradilan atau uraian saksi mata bagaimanapun juga seringkah merupakan hasil tindakan lisan yang ditranskripskan (P. Thompson 1988).

Bersamaan munculnya sejarah kebudayaan selama tahun 1980-an dan 1990-an, para pendukung sejarah lisan melancarkan kritik terhadap cara pengungkapan kembali. Bukannya mengupayakan kesesuaian antara sumber dokumenter dan sumber lisan, tapi justru menekankan kehebatan ucapan sebagai bentuk perwakilan masa lampau (Tonkin 1992). Bukannya membatasi efek- efek dari ingatan, tapi justru menonjolkan cara- cara yang bisa membuat orang salah-ingat, mengabaikan tanggal atau menghambat ingatan. Kebenaran psikologi atau afektif yang bisa saja bertentangan dengan kebenaran historis menjadi obyek-obyek analisis (Samuel dan Thompson 1990). Sebagai contoh, Alessandro Portelli (1991) memperbandingkan uraian-uraian tertulis mengenai kematian seorang aktivis di Terni sebuah kota pabrik baja di Italia dengan uraian-uraian lisan dari para mantan anggota komunis. Karena adanya kebutuhan untuk terus menghidupkan tradisi-tradisi radikal, orang-orang komunis di Terni telah merevisi tanggal dan peristiwa kematian itu sehingga berbarengan dengan puncak militansi buruh setempat.

Karya Portelli mencerminkan peralihan yang lebih besar menuju upaya eksplorasi terhadap dimensi-dimensi simbolis dan subyektif dari kesak¬sian lisan. Ingatan-ingatan kolektif bisa dianalisis, sebagaimana dalam kajian Portelli atau karya Luisa Passerini (1987) tentang fasisme Italia di masa perang. Di sisi lain, mitos-mitos individual atau keluarga bisa ditafsirkan dalam pengertian fungsi-fungsi psikis yang terkandung di dalamnya (Fraser 1983; Samuel dan Thompson 1990). Penekanan terhadap bahasa dan bentuk-bentuk tuturan sudah biasa dilakukan pendekatan-pendekatan Ini. Berbagai irama dan pola ucapan, jeda dan diam tanpa suara, serta interaksi antara pewawancara dan yang diwawancarai dipandang sebagai obyek analisis bukan sebagai kendala untuk mengingat kembali. Kesaksian ditafsirkan sebagai karya kultural masa kini, bukan sebagai cerminan pengalaman masa lampau yang tidak terungkap.

Karena itu karya sejarah lisan dewasa ini menekankan kualitas-kualitas tertentu dari berbagai kesaksian lisan seperti retrospeksi, ingatan dan hubungan simbiosis antara sumber dan orang yang menafsirkannya. Fokus interpretasi telah beralih dari masa lampau berdasarkan kejadian sebenarnya menjadi masa lampau berdasarkan apa yang disimbolkannya. Hal ini menimbulkan pendekatan yang lebih interdisipliner terhadap sejarah lisan yang sekarang tidak hanya mencakup sejarah sosial dan sosiologi, tetapi juga kajian-kajian feminis (terutama Gluck dan Patai 1991), psikoanalisis, kajian-kajian literer, kajian- kajian antropologi dan kultural.

Incoming search terms:

  • pengertian sejarah lisan
  • sejarah lisan
ARTI SEJARAH LISAN | ADP | 4.5