ARTI TEORI MAKRO EKONOMI

By On Wednesday, August 14th, 2013 Categories : Bikers Pintar

macroeconomic theory (teori makroekonomi)

Istilah makroekonomi diciptakan oleh Ragnar Frisch pada 1933 untuk diterapkan pada studi mengenai hubungan antar agregat ekonomi yang bersifat luas, seperti pendapatan nasional, inflasi, pengangguran agregat, neraca pembayaran, dan seterusnya. Ini sangat berbeda dengan studi mengenai unit-unit pengambilan keputusan individual dalam perekonomian seperti rumah tangga, pekerja dan perusahaan, yang secara umum dikenal dengan sebutan mikro- ekonomi. Bukan suatu kebetulan jika tahun 1930- an menjadi saksi berkembangnya teori ekonomi Keynesian, yang ditandai dengan General Theory of Employment, Interest and Money {Keynes 1936) dan didirikannya Econometric Society yang mempunyai tujuan melanjutkan ‘teori ekonomi dalam hubungannya dengan statistik dan matematika’. Sebeium periode ini, tidak ada perbedaan yang nyata antara teori mikroekonomi dan makroekonomi, kendati banyak analisis klasik seperti mekanisme arus-spesi (specie flow) dari Hume, atau studi-studi awal mengenai hubungan antara neraca perdagangan dan kekayaan nasional (national wealth) oleh para merkantilis seperti Mun, yang ditulis dalam bentuk yang sekarang dikenai dengan istilah makroekonomi. Namun, perangsang riil terhadap perkembangan teori makroekonomi adalah munculnya ekonomi Keynesian yang disebut revolusi Keynesian. Para ahli ekonomi klasik seperti Smith dan Hume dan para ahli ekonomi neo klasik seperti Marshall dan Pigou melihat dunia dalam keadaan ekuilibrium jika kuantitas mengalir dan harga bergerak seolah-olah berada dalam mesin yang besar dan lancar: ” adalah tidak mungkin menghimpun uang melampaui tingkat seharusnya” (Hume 1752). Dalam jangka panjang, klasik dan neo klasik memandang bahwa segalanya justru akan mencapai ‘tingkat yang seharusnya’. Dengan demikian, dihadapkan pada pengangguran besar-besaran dan kronis pada masa perang, respons klasik terhadap pertanyaan, “Apa solusi terhadap problem pengangguran?” barangkali adalah ‘pengurangan populasi’ karena program wajib militer terhadap pengangguran akan menurunkan tingkat subsistensi pendapatan. Karena ini jelas-jelas merupakan solusi yang bersifat sangat jangka panjang, maka jawabannya mestinya mengandung asumsi bahwa pengangguran merupakan problem yang sangat jangka panjang: karena itu, diktum Keynes yang terkenal adalah ‘dalam jangka panjang, kita semua mati’. Teori makro Keynesian berpandangan bahwa perekonomian harus mencapai ‘underem-ployment equilibrium’ dan mungkin membutuhkan intervensi pemerintah khususnya dalam bentuk belanja publik, dengan tujuan untuk bergerak pada equilibrium full employment (kondisi di mana seluruh sumber daya, khususnya tenaga kerja, terserap sepenuhnya).

Aliran lain yang penting dari teori makro-ekonomi, yang pada dasarnya klasik, adalah monetarisme, di mana University of Chicago selama beberapa periode telah dianggap sebagai pusat intelektual. Perbedaan mendasar antara teori makroekonomi Keynesian dan monetaris bisa digambarkan sebagai berikut. Pada kebanyakan tingkat fundamentalnya, makroekonomi dipandang sebagai cara menghadapi pola interaksi lima agregat pasar: pasar barang, pasar uang, pasar obligasi, pasar valuta asing dan pasar tenaga kerja. Monetaris memfokuskan hanya pada pasar kedua dan sangat memperhatikan penawaran dan permintaan uang. Hal ini karena beberapa asumsi secara implisit terbentuk berkaitan dengan penawaran dan permintaan dalam pasar-pasar tersebut. Pasar valuta asing diasumsikan sudah jelas (penawaran adalah sama dengan permintaan) karena tingkat kurs bersifat fleksibel. Tingkat upah diasumsikan menyesuaikan sehingga tidak terdapat pengangguran yang tidak sukarela setiap orang yang ingin bekerja pada tingkat upah yang berlaku akan mendapatkan pekerjaan jadi pasar tenaga kerja sudah jelas. Sama dengan itu, harga-harga barang diasumsikan fleksibel sehingga pasar barang juga jelas. Sisanya, hanya pasar obligasi dan pasar uang. Tapi, salah satu prinsip penting ekonomi, yang dikenal dengan hukum Walras, menyatakan bahwa jika pasar n-1 dari suatu sistem pasar n jelas, maka ken juga harus jelas (pada dasarnya ini sama dengan menyelesaikan suatu sistem c kuasi simultan).

Kareija itu, berdasarkan asumsi-asumsi sebelumnya, pasar obligasi dapat diabaikan dan kondisi ekuilibrium di seluruh perekonomian makro dapat ditandai hanya berdasarkan kondisi ekuilibrium pasar uang saja. Pada dasarnya, teori makroekonomi Keynesian akan menolak satu atau lebih asumsi-asumsi tersebut. Sebagai contoh, jika upah karena kontrak tenaga kerja dalam jangka panjang bersifat tetap, maka lowongan kerja yang tersedia lebih sedikit dibandingkan jumlah orang yang mencari pekerjaan lie theory dengan tingkat upah meningkat dengan demikian pasar tenaga kerja tidak akan jelas dan dimungkinkan adanya pengangguran tidak sukarela.

Populernya teori ekonomi makro Keynesian di 1950-an dan 1960-an adalah seiring dengan suksesnya kebijakan makroekonomi Keynesian, terutama di AS dan Inggris. Tapi, meningkatnya pengangguran dan inflasi pada akhir 1960-an dan awal periode 1970-an, membuat teori ekonomi makro mengalami krisis yang lebih parah. Krisis ini mencapai puncaknya dalam kontra revolusi monetaris. Lebih-lebih lagi ketika Richard Nixon mengumumkan ‘kita semua adalah penganut Keynesian sekarang’ di 1969, popularitas teori ekonomi pun mulai mengalami masa surut. Milton Friedman High Priest monetarisme yang pada kesempatan kuliah pelantikannya di hadapan American Economic Association (Friedman 1968) menjabarkan secara garis besar teorinya mengenai ‘kurva ekspektasi- membesar Phillip’ tampil untuk menjelaskan koeksistensi inflasi dan pengangguran dalam terminologi monetaris. Seperti halnya para ahli ekonomi klasik, ahli moneter mengasumsikan bahwa terdapat suatu ekuilibrium atau tingkat alamiah dari ketenagakerjaan. Menurut pandangan ini, pemerintah hanya bisa meningkat-kan penyerapan tenaga kerja employment melampaui tingkat ini, katakanlah, melalui suatu kebijakan moneter perluasan, dengan cara menipu para pekerja untuk mengestimasi terlalu rendah tingkat inflasi. Karena itu, jika pemerintah meningkatkan penawaran uang dan harga- harga naik sampai pada satu titik di mana para pekerja mengestimasi terlalu rendah tingkat inflasi periode berikutnya maka para pekerja akan terlalu rendah dalam menetapkan permintaan upah mereka. Karena itu, pada periode berikutnya, tenaga kerja akan tampak murah bagi produsen, dan akan lebih banyak pekerja menerima, sehingga tingkat agregat penyerapan tenaga kerja (employment) akan naik. Namun, jika ekspektasi inflasi terkejar, para pekerja akan memperoleh klaim upah mereka dengan sendirinya, sehingga tingkat upah riel atau harga yang disesuaikan akan kembali pada tingkat sebelumnya, dan perekonomian kembali pada tingkat penyerapan tenaga kerja alamiah sekalipun pada tingkat inflasi yang lebih tinggi.

Pada 1970-an, aliran ketiga teori makro-ekonomi muncul, dikenal dengan sebutan Aliran Klasik Baru. Termasuk dalam aliran ini adalah ahli-ahli ekonomi seperti Robert Lucas dan Thomas Sargent, yang keduanya kemudian bernaung di University 6f Minnesota. Bila kaum monetaris menegaskan bahwa kebijakan moneter hanya efektif dalam jangka pendek, maka para ahli ekonomi klasik baru justru menyatakan bahwa kebijakan moneter hampir selalu tidak berguna. Para ahli ekonomi klasik baru membuktikan ini dengan cara menerapkan pe-rangkat monetaris dan mencangkokkan asumsi tambahan mengenai ‘ekspektasi rasional’. Menurut hipotesis ekspektasi rasional, berbagai ekspektasi para agen terhadap variabel-variabel makro¬ekonomi masa depan pada dasarnya sama dengan ekspektasi matematika murni yang berdasarkan semua informasi yang tersedia. Dengan demikian, pada contoh yang diberikan di atas, para agen akan menyadari bahwa penawaran uang telah meningkat, lalu, dengan menggunakan semua informasi yang tersedia, mereka akan melakukan estimasi yang paling tepat mengenai tingkat harga periode berikutnya. Bukan berarti mereka mempunyai pandangan ke masa depan yang sempurna, tapi estimasi terbaik mereka bisa jadi ‘terlalu tinggi’ atau ‘terlalu rendah’, karena jika mereka secara terus-menerus mengestimasi terlalu rendah terhadap pergerakan harga, mereka akan merevisi metode estimasi mereka secara rasional. Karena itu, rata-rata. ramalan para agen akan benar peningkatan upah akan berada pada tingkat rata-rata sehingga menghasilkan peningkatan harga melalui kebijakan moneter ekspansif, tingkat upah penyesuaian harga akan tetap, dan tingkat pengangguran tidak akan bergerak. Jika monetarisme tradisional memungkinkan suatu peran bagi aktivis kebijakan moneter hanya pada suatu tingkat di mana para agen bisa dibodohi, teori klasik baru menyatakan bahwa akan sangat sulit untuk membodohi mereka. Revolusi ekspektasi rasional tahun 1970-an dipicu oleh suatu industri besar dalam makro¬ekonomi akademik. Kendati terdapat banyak orang yang tidak setuju, adalah benar untuk mengatakan bahwa makroekonomi Klasik Baru sekarang telah memasuki masanya, terutama sebagai akibat hilangnya keyakinan terhadap asumsi mengenai ekspektasi rasional terhadap ekspektasi rasional itu sendiri telah dilakukan berbagai penelitian empiris yang menolak hipotesis tersebut dalam sejumlah konteks dan menambah bukti akan adanya keterkaitan antara upah dan harga.

Pada situasi bagaimana teori makroekonomi ditinggalkan? Ketika terjadi krisis yang cukup parah. Sebagaimana telah jelas dalam pembahasan terdahulu, aliran teori makroekonomi secara garis besar bisa diklasifikasi menurut apakah moneter ‘non netralitas’ (sebagai contoh, efek kebijakan moneter terhadap variabel-variabel riel agregat seperti output dan ketenagakerjaan) muncul dari penalaran-penalaran informatif sebagaimana ada pada aliran pemikiran ekuilibrium seperti monetaris, klasik baru, atau aliran yang lebih baru, teori siklus bisnis riel (lihat, Lucas 1976) atau untuk alasan lain seperti rigiditas harga atau upah, sebagaimana yang ada pada teori makroekonomi Keynesian. Karena hilang-nya keyakinan terhadap kemampuan ekonometrik untuk memilah berbagai pandangan mak¬roekonomi alternatif bukan karena ekuivalensi observasional dari ekonometrik yang harus berada dalam kondisi tertentu (Sargent 1976) maka, keutamaan suatu teori makroekonomi tertentu dibandingkan yang lain barangkali lebih berkaitan dengan keyakinan para ahli ekonomi terhadap pandangan tertentu mengenai dunia, jadi bukan karena masalah lain. Karena itu, para ahli teori siklus bisnis riel terus menganalisis model-model dinamis di mana harga bersifat fleksibel dan agen-agen ekonomi adalah para pelaku yang optimis secara rasional, sementara tugas utama Ekonomi Keynesian Baru’ adalah ‘menjelaskan mengapa perubahan-perubahan dalam tingkat harga agregat sangat sulit (Gordon 1990). Kenyataan bahwa metode kebijakan makro-ekonomi yang berbeda ini bisa berasal dari setiap kelas teori biasanya intervensionis untuk teori Keynesian atau Keynesian baru, non intervensionis untuk para ahli teori ekuilibrium maka, pilihan pun jadi bergantung pada tarikan ideologi politik tertentu sebagaimana yang dimaklumi dalam teori ekonomi.

Incoming search terms:

  • pengertian ekonomi makro menurut para ahli
  • pengertian full employment
  • teori makro ekonomi menurut ahli ekonomi klasik
  • ekonomi makro menurut para ahli
  • teori makroekonomi ahli ahli ekonomi klasik
  • pengertian full employment equilibrium
  • definisi ekonomi makro menurut para ahli
  • definisi makro ekonomi menurut para ahli
  • pengertian makro ekonomi menurut para ahli
  • teori ekonomi makro menurut para ahli
ARTI TEORI MAKRO EKONOMI | ADP | 4.5