ARTI VOLUNTARISME

By On Tuesday, August 13th, 2013 Categories : Bikers Pintar

VOLUNTARISME

Inggris: voluntansm dari Latin voluntarius — dari voluntas (kehendak) volo (saya mau/ingin).

Istilah ini diperkenalkan oleh F. Toennies pada tahun 1883 dalam kajiannya atas Spinoza. Toennies ingin mengontraskan ajaran- ajaran yang berlaku kala itu dengan intelektualisme rasionalisme abad ke-17 dan segera dianut oleh yang lain, misalnya Wundt dan Paulsen. Voluntarisme adalah doktrin bahwa kehendak unggul atas akal. Voluntarisme bertolak belakang dengan intelektualisme atau rasionalisme, dan dikembangkan sebagai doktrin metafisika, psikologi, etika, epistemologi, maupun teologi oleh berbagai pemikir pada pelbagai zaman.

Aliran ini mengambil posisi bahwa a) kehendak manusia me-rupakan dasar fundamental dan terakhir dalam pengambilan keputusan moral dan dalam pencapaian nilai-nilai moral; b) kehendak itu unggul atas sumber-sumber harkat moral seperti suara hati, kemampuan rasional, intuisi, tradisi, perasaan-perasaan.

Pandangan Beberapa Filsuf

1. Agustinus, dengan mengkombinasikan intelektualisme Yunani dan penekanan Kristiani pada iman dan kasih, mengunggulkan yang terakhir (iman dan cinta). Dengan demikian ia menambah pentingnya kehendak (baik manusiawi maupun ilahi) dalam semua bidang yang disebutkan di atas tadi.

2. Avicebron, filsuf Yahudi abad ke-11, memandang kehendak ilahi, yang mengalir dari Allah, sebagai pencipta dan pemelihara dunia.

3. Duns Scotus menekankan kehendak ilahi sebagai sumber dan sanksi moralitas, dan supremasi kehendak insani sebagai penjelasan kebebasan manusia.

4. Thomas Hobbes mungkin dapat diambil sebagai contoh menganut voluntarisme psikologis. Ia menjelaskan perilaku manusia dalam kerangka keinginan dan keengganan.

5. Descartes, yang mengaku dirinya rasionalis, menjelaskan kekeliruan sebagai sesuatu yang terjadi dalam kasus-kasus, di mana kehendak mendominasi akal. Ia juga memandang kebebasan manusia sebagai berasal dari kehendak.

6. Hume dapat dipandang sebagai voluntaris dalam pandangan psikologis dan etisnya. Dengan menganggap akal sebagai budak nafsu, baik etika maupun teori politiknya lahir dari sisi emosi kehidupan.

7. Kendati reputasi utama Kant terletak pada karyanya Critique of Pure Reason, rencana awalnya dimaksudkan untuk memperlihatkan keunggulan akal praktis. Dan sudah pasti bagi Kant bahwa putusan etis tergantung pada kehendak moral. Setidaktidaknya ia seorang voluntaris etis. Dan program umum Kant memacu para filsuf lain untuk mengembangkan pendirian umumnya.

8. Fichte memperkuat penegasan Kant pada akal praktis. Dalam idealismenya tentang kehendak moral semua keputusan filosofis diambil dalam kerangka tuntutan kehendak.

9. Maine de Biran menekankan voluntarisme psikologis dalam filsafat Spiritualismenya.

10. Schopenhauer, berangkat dari Kant, berakhir dengan pandangan bahwa kehendak, walau buta, merupakan unsur dominan dalam alam semesta, termasuk keunggulannya atas akal dan perasaan manusia.

11. Wilhelm Wundt memandang roh sebagai fundamen materi, yang psikis lebih dasariah daripada yang fisik, dan ilmu-ilmu roh dan kebudayaan tak dapat direduksikan kepada ilmu alam.

12. William James menggabungkan penekanan-penekanan Renouvier (dianggap voluntaris pula) dan suatu psikologi yang mirip dengan, tetapi melampaui, asosiasionalisme Bain, seraya membentangkan sebuah filsafat yang voluntaristik secara psikologis, etis, dan metafisis.

13. Paulsen menganut sebuah voluntarisme yang melihat kehendak manusia sebagai kekuatan alam raya yang menjadi sadar.

14. Voluntarisme Bergson yang menekankan kebebasan manusia, keunggulan intuisi, yang memandang materi sebagai roh yang kedaluwarsa, dan menganggap elan vital sebagai sumber dinamisme dunia  bersifat sekaligus metafisis, epistemologis, psikologis, dan etis.

 

Dalam Filsafat

Voluntarisme adalah istilah yang diterapkan pada aliran-aliran filosofis yang dengan cara apa saja condong kepada kehendak ketimbang intelek (bertentangan dengan intelektualisme). Namun, voluntarisme dapat terjadi dengan banyak cara yang berlainan.

Menurut voluntarisme metafisis, realitas dalam intinya yang terdalam adalah kehendak (Schopenhauer, Eduard von Hartmann). Voluntarisme psikologis tidak berjalan sejauh itu, akan tetapi voluntarisme psikologis sungguh mengunggulkan kehendak atas intelek (Henry of Ghent: Intelek pasif semata-mata dan objeknya tunduk kepada objek kehendak. Duns Scotus, dengan cara lebih moderat: Intelek adalah sebab tambahan bagi kehendak, namun kebenaran tidak tergantung pada kehendak). Voluntarisme psikologis biasanya diperluas sampai ke voluntarisme teologis (hakikat keindahan adalah cinta Allah. Tatanan alam dan hukum moral sebagian tergantung pada kehendak Allah). Martin Luther dan dalam arti tertentu William Ockham menjadikan seluruh tatanan moral tergantung pada kemauan Allah. Menurut Luther, Allah tidak bisa diketahui, sebab Dia adalah kehendak mutlak.

Incoming search terms:

  • pengertian voluntarisme
ARTI VOLUNTARISME | ADP | 4.5