DEFINISI HUTAN KOTA

By On Saturday, September 26th, 2015 Categories : Bikers Pintar

Haeruman (1987) mengemukakan bahwa hutan kota selain di dalam kota juga terletak jauh di luar batas kota, sepanjang interaksi yang intensif antara penduduk sebuah kota dengan hutan tersebut berlangsung secara terus menerus. Sebagai contoh Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda di bandung dan Taman Hutan Raya Dr. Muh. Hatta di Padang, dan di Bengkulu sedang dalam taraf pembangunan. Ekosistem hutan kota tumbuh secara ekologis sesuai dengan lingkungan perkotaan, artinya terdiri dari tegakkan yang berlapis-lapis dimana
masing-masing fungsinya meniru hutan alami. Pemeliharaan relatif sedikit, dibandingkan misalnya lapangan olah raga, taman-taman umum dalam skala luas yang sama. Idealnya sebuah hutan kota dapat mencapai kondisi optimum sebagaimana layaknya hutan yang terbentuk karena peristiwa alam. Namun sesuai dengan nilai-nilai “urbanity” maka ada keterbatasan dalam pembentukan hutan kota tersebut seirama pula dengan perkembangan kota yang terjadi serta berbagai aspek kehidupan yang menyangkut kehidupan penduduk kota. Fakuara et. al. (1987) mengemukakan tentang hutan kota, yaitu ruang terbuka yang ditumbuhi vegetasi berkayu di wilayah perkotaan yang memberikan manfaat lingkungan sebesar-besarnya kepada penduduk kota dalam kegunaan proteksi, estetika serta rekreasi dan lainnya. Menurut Grey & Deneke (1978) hutan kota merupakan kawasan vegetasi berkayu yang luas serta jarak tanamnya terbuka bagi umum, mudah dijangkau oleh penduduk kota dan dapat memenuhi fungsi perlindungan seperti kelestarian tanah, tata air, ameliorasi iklim, penangkal polusi udara, kebisingan dan Iainlain. Jorgensen (1977 dalam Grey dan Deneke, 1978) seorang yang dianggap pelopor mengemukakan bahwa hutan kota meliputi lahan minimal ditetapkan 50-100 hektar, jarak lokasi hutan kota dapat dicapai dengan berjalan kaki dari pusat pemukiman penduduk padat; jarak sama yang ditempuh dari titik akhir jaringan transportasi umum atau setara waktu yang diperlukan pejalan kaki apabila ia bersepeda dan harus terbuka bagi umum. Menurut Zoer’aini Djamal Irwan (1994), hutan kota merupakan suatu ekosistem yaitu komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitar kota, berbentuk jalur, menyebar atau bergerombol (menumpuk) dengan struktur meniru (menyerupai) hutan alam, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa dan menimbulkan lingkungan sehat, nyaman, dan estetis.
Vegetasi sangat bermanfaat untuk merekayasa masalah lingkungan di perkotaan. Selain merekayasa estetika, mengontrol erosi dan air tanah, mengurangi polusi udara, mengurangi kebisingan, mengendalikan air limbah, mengontrol lalu lintas, dan cahaya yang menyilaukan, serta mengurangi pantulan cahaya, mengurangi bau. Robinatte (1972) dalam Grey dan Deneke (1978), mengemukakan berbagai sifat tumbuhan yang khas dan pengaruh-pengaruhnya dapat menolong memecahkan masalahmasalah teknik yang berhubungan dengan lingkungan yaitu daging daun yang mengurangi bunyi, ranting-ranting yang bergerak dan bergetar untuk menyerap dan menutupi bunyi-bunyian. Bulu-bulu daun untuk menjebak dan menarik partikel-partikel air, stomata daundaun untuk mengganti bau busuk di sekitarnya. Daun dan rantingranting untuk memperlambat angin, danpurahan hujan. Akaryang menjala’r untuk menahan eoosi tanah. Daun-daun tebal untuk menghalangi cahay^ Daun-daun tipis untuk menyaring cahaya. Menurut v-Zoer’aini Djamal Irwan (1989) fungsi hutan kota tergantung kepada fungsi vegetasi dan secara umum dapat dikelompokkan menjadi Fungsi lansekap, Fungsi pelestarian lingkungan dan Fungsi estetika.
Fungsi pelestarian lingkungan antara lain hutan kota dapat meredam kebisingan. Kebisingan adalah suara yang berlebihan, tidak diinginkan dan sering disebut polusi tak terlihat yang menyebabkan efek fisik dan psikologi. Efek fisik berhubungan dengan transmisi gelombang suara melalui udara, efek psikologis berhubungan dengan respon manusia terhadap suara. Intensitas suara yang dapat didengar oleh telinga manusia antara 0-120 desibel. Fakta-fakta berikut ini memberikan beberapa arti fisik terhadap skala desibel dari tingkat intensitas suara : 0 desibel sama dengan awal pendengaran, 130 desibel dapat disamakan awal dari rasa sakit. Suara yang biasa terdengar adaiah 40 desibel, di lokasi yang tenang di pemukiman maiam hari dan 80 dB truk besar atau sepeda motor yang lewat dalam jarak 16 m. Menurut Leonard (1971) intensitas suara dengan 0 dB menggambarkan permulaan kemampuan mendengar oleh manusia normal, klakson mobil 110 dB, gonggong anjing 92 dB, jalan raya yang ramai 75 dB, pusat pengetikan 72 dB, kantor yag sibuk 52 dB dan bicara normal 48 dB. Suhu dan angin merupakan variabel iklim yang mempengaruhi penyebaran suara. Jika suhu bervariasi dalam atmosfir, gelombang suara mengikuti lengkung alur, tidak merupakan garis lurus. Jalur pohon yang menuruti jurusan angin dari sumber kebisingan, akan mengurangi tingkat suara yang sangat besar. Hasil penelitian Earn et. al. (1986) di Penang menunjukkan bahwa penyebab utama kebisingan bersumber dari kesibukan lalu lintas, kemudian dari para tetangga.
Seberapa jauh tingkat kebisingan dapat dikontrol oleh vegetasi tergantung kepada jenis spesis, tinggi tumbuhan, kerapatan, dan jarak tumbuh, faktor iklim yaitu angin, kecepatan, suhu dan kelembaban, properti dari suara yaitu tipe, asal, tingkat desibel, dan intensitas suara. Gelombang suara diabsorbsi oleh daun-daun, cabangcabang, ranting-ranting dari pohon dan semak. Telah dipostulasikan bahwa bagian tanaman yang paling efektif untuk absorbsi suara adaiah bagian yang memiliki daun tebal, berdaging dengan banyak petiole. Kombinasi ini memberikan tingkat fleksibilitas dan vibrasi tertinggi (Robinette 1972, dalam Grey dan Deneke 1978). Suara juga didefleksi dan direfraksi oleh cabang yang lebih besar dan batang pohon. Diduga hutan dapat mereduksi suara pada tingkat 7dB setiap 30 m dengan jarak dan frekuensi pada sekitar 1000 CPS (Embleton, 1963 dalam Grey dan Deneke 1978).
Hasil penelitian Bianpoen et. al. (1988) menunjukkan bahwa kadar debu, kebisingan maupun suhu di dalam taman lebih rendah. Cook dan Van Haverbeke (1971) mengemukakan hasil studi oleh School of Engineering di Universitas Nebraska, Rocky Mountain Forest, Range Experiment Station, dan di hutan Amerika dengan hasil sebagai berikut:
1. Pengurangan kebisingan yang disebabkan oleh kendaraan yang berkecepatan tinggi dan truk di daerah pedesaan dicapai hasil terbaik dengan pohon dan semak, lebarnya 20m 30m, penyangga tepinya 16m 20m dari pusat jalur lalu lintas terdekat. Deretan pusat pohon dengan ketinggian minimal 14 m.
2. Penurunan kebisingan dari lalu lintas mobil dengan kecepatan sedang di daerah perkotaan, pohon dan semak penyangga lebarnya 6m 16 m akan efektif dengan penyangga semak yang tepinya 2m 2,5m serta latar belakangnya deretan pohon dengan tinggi sekitar 4,5m 10m.
3. Untuk mendapatkan hasil yang optimum, jajaran semak dan pohon seharusnya ditanam dekat pusat kebisingan.
4. Penggunaan pohon-pohon tinggi yang rindang, vertikal, seragam, dikombinasikan dengan semak atau rumput yang tinggi maupun penutup tanah yang lembut sebagai lawan dari permukaan trotoar, tumpukan batu atau krikil.
5. Pohonan dan semak ditanam saling menutupi merupakan suatu kesatuan, dapat menjadi oafer yang kuat.
6. Sebaiknya ditanam conifer atau vegetasi yang hijau sepanjang tahun.
7. Penyangga sebaiknya dua kali jarak dari pusat sumber suara ke penerima, dan pada kedua sisi dan sepanjang jalan jika digunakan pada jalur lalu lintas.
Penggunaan vegetasi untuk peredaran kebisingan tidak akan efektif bila tidak memperhatikan ukuran dan kepadatannya. Akan lebih efektif lagi jika vegetasi digunakan kombinasi dengan permainan topografi jalan. Hutan kota dapat menyerap sekitar 6-8 desibel dengan kelipatan jarak per 30m. Kerapatan tanaman lebih penting dari pada jenis spesis dalam hal mengurangi kadar bising Panjang gelombang suara relatif lebih besar dibanding ukuran tanaman. Pohon-pohon dan semak bila digunakan secara tepat akan memegang peranan. Begitu pula posisi sumber suara dengan penerima suara akan mempengaruhi nilai hutan kota sebagai penyaring suara, seperti terhadap suara pesawat terbang atau lebih tinggi, tidak akan bermanfaat. Apalagi sumber suara terlihat, akan menguatkan satu sama lain (Leonard, 1971). Hutan kota dalam hal mengurangi kebisingan selain menghalangi gelombang suara, juga menghalangi sumber suara. Cook dan Van Haverbeke (1971) dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa jalur pepohonan yang tinggi dan padat dikumbinacikan dengan semak, digabungkan dengan per-mukaan halus lainnya, akan me-ngurangi kebisingan sampai 50%.
Hasil penelitian Zoer’aini Djamal Irwan (1994) bentuk danstruktur hutan kota yang berbeda, memberikan peranan yang berbeda pula untuk meredam kebisingan. Untuk mengefektifkan fungsi, hutan kota perlu dibangun dan dikembangkan berdasarkan kepada bentuk dan struktur. Hutan kota yang berstrata banyak memberikan fungsi yang lebih efektif untuk meredam kebisingan di perkotaan.

DEFINISI HUTAN KOTA | ADP | 4.5