EFEKTIVITAS DAN KESULITAN KOMUNIKASI

By On Friday, November 21st, 2014 Categories : Bikers Pintar
  1. Kriteria

Sebagaimana telah disinggungdi atas komunikasi mencapai sasaran jikakomunikan dapat menangkap pengertian yang sama dengan pengertian komunikator. Jika tidak demikian, komunikasi itu gagal. Ukuran lain untuk menentukan keberhasilan komunikasi ialah ketepatan waktu. Jadi jika amanat yang diberikan komunikator diterima terlambat, meskipun tepat arti, komunikasi dianggap gagal. Dengan kata lain upaya utama dalam proses komunikasi perlu dipusatkan pada masalah ketepatan arti dan ketepatan waktu. Untuk itu perlu dicari kesulitan yang harus dihadapi dan bagaimana memecahkannya.

  1. Kesulitan Komunikasi

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi komunikator meliputi beberapa aspek: amanat, komunikan, media dan unsur sosio-budaya.

Kesulitan pada Amanat

Yang penting dalam komunikasi ialah kejelasan isi dan maksud amanat. Masyarakat sebagai komunikan tidak selalu bisa menangkap isi dan maksud yang dikehendaki komunikator sehingga timbul keraguan, salah tangkap dan salah langkah dalam penerapannya.

Tugas pertama komunikator ialah berusaha agar amanat itu jelas bagi dia sendiri, maupun bagi komunikan. Komunikator harus tahu benar apa yang hendak disampaikan, untuk apa dan untuk siapa.

Ungkapan-ungkapan yang lazim/digunakan dalam komunikasi yaitu:

1) Bahasa Isyarat

Bahasa isyarat seperti gerak tangan, kepala, mata dan lain-lain hanya dipakai dalam jarak dekat. Ketepatan arti hanya dimengerti jika komunikator dan komunikan hidup dalam satuan budaya yang sama.

2) Bahas? Kata

Bahasa kata sering menimbulkan kesulitan yang menggagalkan tercapainya maksud komunikator, atau sekurang-kurangnya mengurangi keberhasilannya. Hal ini berhubungan dengan kata-kata (istilah) yang dipakai, susunan kalimat yang tidak benar serta singkatan yang tidak dimengerti komunikan. Oleh karena itu komunikator harus berhati-hati dalam memilih perbendaharaan istilah yang dipakai. Setiap ahli memakai bahasanya sendiri yang belum tentu dimengerti secara tepat oleh lingkungan lain. Bahasa filsafat yang amat padat dan abstrak misalnya tidak selalu dimengerti oleh lingkungan ahli teknologi dan ekonomi. Demikian pula bahasa biologi dan aljabar belum tentu dimengerti oleh kalangan di luar lingkup itu. Selain itu, komunikator juga harus menggunakan kalimat yang baik dan benar dan singkatan yang umum dipakai.

3) Bahasa Lambang

Pengungkapan amanat dapat dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang, yaitu tanda konvensional yang mengandung arti tertentu. Jika suatu lambang dipakai, tetapi arti dan maksud yang dikehendaki komunikator belum dikenal (belum ada konvensi atau konsensus) pihak komunikan, maksud komunikasi mungkin tidak tercapai. Lambang berfungsi untuk menjelaskan ide yang abstrak dan sulit diterangkan dengan kata-kata. Dengan lambang masalah yang kompleks menjadi lebih jelas dan mudah diingat, serta lebih mengesankan. Misalnya, lambang O- berarti kelamin laki-laki, dan 0+ kelamin wanita, bibit kelapa adalah simbol dari pramuka.

Jadi masalah pokok yang berhubungan dengan penggunaan lambang ialah, apakah dapat dipastikan bahwa pemberian arti dan interpretasi dari pihak komunikan searti dan sefaham dengan pihak komunikator. Pertanyaan ini harus dijawab oleh setiap komunikator seperti seorang monitor, seorang pemimpin, seorang pengkhotbah, seorang guru dan sebagainya. Bertolak dari sudut pandangan di atas, komunikasi dapat juga diartikan sebagai proses penyampaian lambang-lambangyang berarti kepada seseorang atau suatu golongan. Dalam penggunaan lambang, perlu diadakan seleksi lambang yang akan dipakai. Seperti halnya bahasa kata, lambang yang digunakan harus disesuaikan de-ngan komunikan (muda-mudi, petani, pegawai negeri atau jenis komunikan yang lain).

Bobot dan jenis juga menentukan keberhasilan komunikasi. Bobot amanat tidak semata-mata tergantung pada penilaian komunikator. Pihak komunikan ikut juga menentukan. Isi amanat yang tidak menguntungkan komunikan tidak akan mendapat respons. Sebaliknya amanat yang mendatangkan keuntungan akan menarik perhatian sebagian besar pihak yang berkepentingan dan dapat dipastikan komunikasi akan lebih berhasil.

Setelah isi amanat diolah dengan baik dan siap untuk dikirimkan, masih ada beberapa petunjuk yang perlu diperhatikan oleh komunikator, yaitu:

–              Komunikasi harus setia, artinya benar-benar menyatakan apa yang dimaksud oleh komunikator. Komunikasi menjadi tidak setia pada fungsinya jika amanat yang disampaikan sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga komunikan menangkapnya dengan arti lain.

–              Komunikasi harus lengkap atau utuh. Seluruh pesan harus sampai kepada komunikan, tidak mengalami “kebocoran” di tengah jalan. Jika tidak, komunikasi dinilai tidak mencapai tujuan.

Incoming search terms:

  • kesulitan komunikasi
EFEKTIVITAS DAN KESULITAN KOMUNIKASI | ADP | 4.5