FUNGSI DAN STRUKTUR DALAM KELUARGA

31 views

Keluarga merupakan fokus umum dari pola-pola institusional. Pola-pola pelamaran, perkawinan, dan juga pemeliharaan anak, sistem kekerabatan, merupakan aspek-aspek umum yang ada pada institusi ini. Hampir dalam setiap masyarakat, keluarga merupakan pusat kehidupan secara individual, di mana di dalamnya terdapat suatu hubungan yang intim dalam derajat yang tinggi. Terlepas dari persoalan adanya hubungan yang intim ini, keluarga selain merupakan unit yang berfungsi untuk melanjutkan keturunan, secara universal keluarga juga merupakan penanggung- jawab di dalam pemeliharaan dan pengasuhan anak. Namun, tidak itu saja; keluarga juga mempunyai fungsi untuk perawatan terhadap anggota yang sakit atau yang mendapat musibah, maupun memberikan perawatan terhadap anggota keluarga yang telah lanjut usia.

Di banyak masyarakat, keluarga juga berfungsi sebagai unit ekonomi, terutama dalam hal pemenuhan akan pangan, mungkin juga sandang dan beberapa kebutuhan material lainnya. Artinya keluarga merupakan unit produksi untuk menghasilkan pangan, san-dang dan beberapa kebutuhan material lainnya itu, dengan menggunakan tenaga kerja dalam keluarga itu sendiri maupun dari luar keluarga. Fungsi lain dari keluarga adalah dalam hal menetapkan status. Keluarga dijadikan dasar untuk menetapkan atau menentukan status. Dalam hal status yang turun temurun, keluarga dianggap sebagai sumber asalnya. Keluarga dapat dibangun atas salah satu dari dua dasar, yaitu atas dasar pertalian darah atau atas dasar perkawinan. Keluarga yang didasarkan atas pertalian darah tersusun dari ikatan darah dari beberapa generasi, di mana hubungan antara satu sama lain dapat melalui garis penghubung laki-laki (“Patrilinial”), atau garis penghubung perempuan (“matrilinial”). Dalam hubungannya dengan pertalian darah, tempat tinggal setelah melakukan perkawinan dapat bersifat matrilo- kal atau patrilokal. Anak-anak yang dihasilkan dari perkawinan itu akan menjadi kepunyaan salah satu dari mereka, keluarga suami atau keluarga isteri

Keluarga yang dibangun atas dasar perkawinan menjadikan suami-isteri sebagai dasar hubungan di atas mana keluarga itu diorganisasikan dan berbagai keluarga merupakan bagian dari sistem kekeluargaan hanyalah dalam hubungannya dengan suami atau istri tersebut. Anak-anak tidak menjadi kepunyaan keluarga suami maupun keluarga isteri, akan tetapi hanya mempunyai hubungan yang intim dengan mereka; keluarga yang dibangun atau diorganisasikan atas dasar perkawinan akan terdiri dari orang tua mereka dan mereka sendiri (seperti keluarga batih-penulis).

Sementara suatu keluarga yang diorganisasikan atas dasar pertalian darah secara kontinue memelihara hubungan dengan banyak generasi, tetapi suatu kelu-arga atas dasar perkawinan hanyalah merupakan keluarga yang semula terikat oleh setiap perkawinan. Keluarga-keluarga dalam masyarakat mempunyai perbedaan sistem untuk menarik garis penghubung. Ada sistem yang menurut mana para anggotanya menarik garis penghubung melalui leluhur atau atas pertalian kemasyarakatan atau pengangkatan. Hal yang demikian ini disebut dengan sistem kekerabatan. Beberapa dari masyarakat menggunakan garis penghubung perempuan dalam menentukan kekerabatan dan mengesampingkan semua bentuk lain yang mungkin dapat digunakan. Lain masyarakat menekankan pada garis laki-laki.

Struktur keluarga akan terbangun dari tipe per-kawinan yang dilakukan. Perkawinan dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan disebut monogami. Poligami berarti banyak isteri atau banyak suami. Di- mana perkawinan dilakukan antara seorang laki-laki dengan banyak wanita disebut poligini. Tetapi, perkawinan yang dilakukan antara seorang wanita dengan banyak laki-laki disebut poliandri. Organisasi dari berbagai peranan yang berbeda dari para anggota keluarga yang berkenaan dengan anggota keluarga lainnya disebut sistem keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *