HERMENEUTICS (HERMENEUTIKA) ADALAH

By On Thursday, March 18th, 2021 Categories : Bikers Pintar

Analisis filsafat dan kultural.

Hermeneutics (hermeneutika) adalah Area akti­vitas dan penelitian filosofis ini berkaitan dengan teori dan praktik pemahaman pada umumnya, dan interpretasi makna dari teks dan tindakan pada khususnya. Selama dua dekade setelah publikasi Truth and Method karya Georg Gadamer pada 1960, hermeneutika menjadi topik utama dalam analisis filsafat dan kultural, dan karenanya memperkuat pandangan yang termuat dalam karya seminal ini yang ber­kaitan dengan “universitas problem her­meneutika”. Pandangan Gadamer sangat penting dalam hermeneutika kontemporer. Dengan menggunakan kerangka ontologi Heidegger, dia dapat mengembangkan ru­musan awal “problem hermeneutika” dan memberi landasan bagi aplikasi hermeneu­tika untuk bidang yang lebih luas.

Me­todologi ilmu kemanusiaan.

Dalam ilmu sosial, pengaruh herme­neutika sangat luas. Misalnya, debat ten-tang status ilmiah dari ilmu sosial, relasi subjek dan objek, makna “objektivitas,” formulasi metode yang tepat, kandungan makna dari objek, semuanya itu amat di­pengaruhi oleh hermeneutika dan dewasa ini debat itu masih dilakukan di atas lan­dasan hermeneutika. Pengaruh luas dari karya Gadamer juga dapat dilacak dalam disiplin di luar filsafat dan ilmu sosial, mulai dari kedok­teran ke bisnis hingga ke arsitektur—dalam kenyataannya, di mana-mana kandungan makna dialogis didasarkan pada bidang ini. Selama hermeneutika dianggap sebagai me­todologi ilmu kemanusiaan (Geisteswis­senschaften), ia merujuk pada disiplin yang menyokong teologi, yurisprudensi, dan fi­lologi yang berusaha menyediakan kaidah dan pedoman untuk menginterpretasikan teks. Istilah itu diciptakan pada akhir abad ke-17 tetapi bidangnya, ars interpretandi, sudah ada sejak awal mula pemikiran Ba­rat. Secara khusus pada masa pergolakan sosial dan kulturallah hermeneutika diberi tugas menjelaskan pemahaman tentang makna zaman. Ketika konsep yang diteri­ma begitu saja tiba-tiba digoyahkan, maka interpretasi makna, sebagai metode yang tepat, mulai berperan aktif. Teori hermenutika seperti yang dikem­bangkan sebelum abad ke-19, yakni se­rangkaian kaidah praktis, pada dasarnya tidak mampu menyediakan landasan teo­retis untuk menginterpretasikan makna. Yang dibutuhkan untuk tujuan ini paling tidak mesti sederajat dengan kontribusi Kant kepada dasar dan justifikasi ilmu alam. Dalam hal ini, “Critique of histori­cal reason” oleh Wilhelm Dilthey (lihat Dilthey, 1927) merepresentasikan perlua­san Critique of Pure Reason dari Kant dalam menjelaskan dimensi historis dalam perkembangan pemikiran manusia. Usaha Dilthey untuk menyediakan lan­dasan bagi ilmu kemanusiaan dilanjutkan di abad ke-20 oleh Emilio Betti, yang me­manfaatkan pemikiran hermeneutika yang sudah terkumpul, dan memanfaatkannya untuk alat metodologis yang bagus. Daya tarik utama dari perspektif objek­tif-idealis Emilio Betti tentang studi makna adalah pada kemungkinannya untuk mem­perbaiki penjelasan tentang kemungkinan dari Verstehen, yang di sini dipakai dalam pengel tian bentuk pcmahaman berdasar strati’ metode yang menghasilkan hasil yang objektif.

Filsafat hermeneutika.

Betti memperkenalkan teori interpre­tasi umumnya melalui pembahasan ten-tang huhungan subjek dan objek dalam in­terpretasi bentuk-bentuk yang bermakna. Objek sains kemanusiaan dibentuk oleh nilai-nilai etika dan estetika. Mereka “me­representasikan objektivitas ideal yang mengikuti kaidahnya sendiri” (Betti, 1955, h. 9). Namun, objektivitas ideal “nilai spiritual” hanya dapat dipahami melalui “objektivitas riil dari bentuk-bentuk yang bermakna”. Bentuk-bentuk ini memuat nilai-nilai yang dianggap Betti sebagai se­suatu yang absolut, yakni dalam dirinya sendiri terdapat basis bagi validitasnya. jadi, nilai-nilai tersebut tak bisa dipahami semaunya sendiri oleh pengamat dan, se­bagai sesuatu yang eksis secara objektif, bisa diakses untuk verifikasi intersubjektif. Karya Betti merepresentasikan penjelasan yang bagus tentang teori hermeneutika se­bagai metodologi interpretasi pikiran ob­jektif. Filsafat hermeneutika, sebaliknya, menggeser fokus hermeneutika dari prob­lem Verstehen ke konstitusi eksistensial pemahaman dari sudut pandang eksistensi aktif, terutama dalam mengacu pada ke­terikatan pada bahasa dan tradisi. Heidegger. Dalam karya Edmund Hus­serl yang belakangan, figur utama dalam perkembangan PHENOMENOLOGY, dunia kehidupan—dunia kehidupan sehari-hari yang kita terima begitu saja sebagai “dunia kita”—menyediakan basis ontologis bagi setiap pengalaman yang mungkin dialami (Husserl, 1937). Fenomenologi hermeneutika Martin Heidegger mengembangkan tema ke arah analisis Dasein, manusia yang “berada” di dunia, yang dicirikan oleh pencarian makna dan eksistensi yang hermakna (Hei­degger, 1927). Makna diraih dalam melalui pembentukan kese­pakatan berdasarkan dialog. Hermeneutics (hermeneutika) adalah Hanya dalam tindakan komunikatif inilah kita dapat memahami dan mengetahui lebih lengkap apa-apa yang sebelumnya masih merupa­kan bagian yang kabur dalam pemahaman atau wawasan awal kita. Penekanan pada historisitas pemaham­an, berdasarkan tempat penafsir di dalam tradisi aktif, disebut dalam term “fore-structure” pengetahuan. Gadamer mema­hami poin ini dalam term “pra-pemaham­an” dan keniscayaan Vorurteile (yang bisa berarti prasangka dan pra-penilaian). Aspek ini dianggap sebagai “rehabili­tasi prasangka” oleh hermeneutika kritis dan karena menimbulkan pertanyaan soal asumsi yang salah yang menjadi ciri dari tradisi Pencerahan. Tetapi, pada titik ini, pandangan tentang struktur pra-penilaian dalam pemahaman ini dapat dikembang­kan lebih jauh menjadi argumen untuk “universalitas problem hermeneutika” ber­dasarkan penekanan Gadamer pada aspek kebahasaan dari Wujud kita. Bahasa bukan hanya instrumen pemi­kiran tapi ia juga beroperasi untuk meng­ungkap dunia kepada kita; kita bergerak di dalamnya dan berdasarkan basis bahasa. Pada akhirnya, adalah bahasa yang mem­bentuk “tradisi”, “pra-pemahaman”, yang menghasilkan pemahaman kita tentang diri kita dan dunia kita.

Post-strukturalisme. Hermeneutics (hermeneutika) adalah

Penekanan Gadamer pada sifat produktif dari interpretasi adalah paralel dengan pergeseran dalam pemikiran sastra dan fi­losofis Perancis ke arah pandangan “post­strukturalis”. Salah satu aliran, yang dike­nal sebagai “tekstualis”, cukup menarik di sini, terutama karena wakil utamanya, Jacques Derrida, melakukan dialog dengan Gadamer (lihat, misalnya, Derrida, 1967).”Fusi wawasan” yang merepresentasi­kan konstitusi dialogis dari makna tampak dalam pemikiran post-strukturalis sebagai “intertekstualitas”. Istilah ini juga meru­juk pada relasi aktif pembaca dengan teks, pada interaksi dan performa ketimbang konsumsi pasif atau analisis makna tetap yang berjarak. Pada saat yang sama, ini menggerakkan titik utama perbedaan dari STRUCTURALISM dan semiologi (lihat SEMI­OTICS) dengan penekanannya pada “tanda­tanda” sebagai penutup. Namun, ketika sebagian post-struktu­ralisme bergandengan dengan hermeneu­tika, ia menolak setiap dasar pengetahuan dalam pengertian asumsi operatif tentang basis swa-bukti dari klaim pengetahuan. Menurut tradisi ini, adalah mustahil meng­gunakan gagasan seperti “mencapai kon­sensus” atau “mendapatkan kebenaran” tanpa menjadi terperangkap dalam ling­karan kontradiksi dari gerak pemikiran. Istilah lingkaran hermeneutika dipakai oleh Gadamer untuk menolak objektivisme yang inheren dalam Geisteswissenschaf­ten historis-hermeneutik. Ketika ditantang Betti untuk memproduksi kriteria menilai ketepatan atau kebenaran dari interpre­tasi. Gadamer menjawab bahwa dia hanya ingin menunjukkan apa yang selalu terjadi saat kita memahami. Referensi Gadamer pada keterikat­an interpretasi dengan tradisi dianggap oleh Betti sebagai subjektivisme. Menurut hermeneutika kritis hal itu tidak hanya menghalangi hermeneutika untuk menjadi metodologi yang signifikan, tetapi juga, dan yang lebih penting, ia melucuti otono­mi yang tinggi dari kekuatan tradisi yang dijaga oleh pemikiran Pencerahan. Dalam karya filsuf sosial yang bekerja di dalam tradisi FRANKFURT SCHOOL, seper­ti Karl-Otto Apel dan Jurgen Habermas, dicoba dilakukan integrasi filsafat herme­neutika dengan tradisi lain seperti feno­menologi, pragmatisme, filsafat linguistik, dan analisis Freudian. Keduanya berusaha mengintegrasikan analisis Gadamer den­gan kajian sosiopolitik yang canggih, Habermas, yang mengikuti “proyek Pencerahan”, berusaha mengembangkan ilmu sosial kritis yang merekonstruksi ke­mungkinan pembebasan yang belum ter­ungkap. Sebagai sains sosial kritis-dialek­tis, hermeneutika mendalam yang digagas Habermas dimaksudkan untuk menjem­batani objektivitas kekuatan historis deng­an subjektivitas aktor. Karena tujuannya adalah mengungkap potensi melalui proses rekonstruksi represi maka tidak mengejut­kan jika habermas menggunakan psikoa­nalisis sebagai modelnya. Karena represi terjadi di dalam dan melalui bahasa, kerangka teoretis yang dibutuhkan untuk program ini adalah “teori kompetensi komunikatif”. Ideologi memberikan penjelasan palsu tentang ma­syarakat yang dicirikan oleh dominasi satu bagian atas bagian lain. Konsensus dalam kondisi seperti itu sangat mungkin adalah palsu atau terdistorsi, yakni sebagai hasil dari “komunikasi yang didistorsi secara sistematis.” Dalam kondisi ketimpangan, konsensus hanya dapat merupakan asumsi “kontrafaktual,” tujuan dari interaksi so­sial yang sudah direncanakan, bukan pra­kondisi yang tidak dipertanyakan lagi.

Postmodernisme. Hermeneutics (hermeneutika) adalah

Gagasan etika diskursif Habermas, yang berpusat pada ide tentang dialog yang be-bas dari dominasi, telah ditolak oleh para filsuf yang mengambil inspirasi dari Hei­degger dan Nietzsche. Maksud pemikiran Pencerahan yang universalistik dan program pembebasan­nya kini dianggap sebagai ilusi, dan juga sangat mungkin represif. Proyek semacam itu menggunakan justifikasi filosofis, yang menurut istilah Jean-Francois Lyotard di­sebut “grand narrative” atau “meta-nar­rative” (1979). Fungsinya adalah men­ciptakan konsep objek yang sepihak dan monologis tentang dan untuk melegitimasi aturan prosedurnya sendiri. Salah satu narasi besar itu ditunjukkan oleh “hermeneutika makna”, dan ia men­jadi ciri kondisi postmodern yang akan kita masuki “dengan ragu-ragu”. Sikap ini muncul dari pengakuan akan manfaat ke­ragaman, pluralitas, dan determinasi lokal, dan membuat Lyotard menolak kemungki­nan keseragaman pemikiran yang diwujud­kan dalam formasi konsensus, yang diang­gapnya bukan hanya sebagai sesuatu yang tidak realistis tetapi juga membahayakan, “meneror.” Sepanjang menyangkut kajian filosofis dan praktis-politis terhadap formasi kon­sensus, adalah perlu untuk menyatakan bahwa bentuk makna dialogis dan usaha untuk kesepakatan rasional secara komu­nikatif adalah tidak terkait dengan imposisi monologis dari permainan bahasa tertentu. Hermeneutika kritis berurusan dengan pe­rumusan kondisi kemungkinan pluralitas. Kondisi ini hanya dapat ada di atas basis norma konsensual di mana pandangan yang berbeda-beda dapat dengan bebas dikembangkan dan disuarakan. Hermeneutics (hermeneutika) adalah Herme­neutika kritis berusaha mengembangkan ruang bebas itu dengan membantu men­ciptakan upaya menyingkirkan rintangan yang menghalangi pembentukan konsen­sus yang sesungguhnya. Pemikiran hermeneutika menunjukkan bahwa semua aktivitas berada dalam ke­rangka interpretasi tertentu. Ia menarik perhatian kita pada pra-anggapan, dan keterbatasan, semua bentuk pemikiran dan praktik sosial. Tujuan penganut pemikiran ini adalah memperkaya interaksi komuni­kasi dan memfasilitasi perkembangan ben­tuk ko-eksistensi sosial yang benar-benar manusiawi dan rasional.

HERMENEUTICS (HERMENEUTIKA) ADALAH | ADP | 4.5