HUBUNGAN ANTARA KEPEMIMPINAN DENGAN EFEKTIVITAS ORGANISASI

By On Saturday, August 22nd, 2015 Categories : Bikers Pintar

Pada dasarnya sebagai seorang pemimpin setiap manajer mempunyai tugas pokok yaitu mempengaruhi bawahan serta menggerakkan seluruh fasilitas kearah pencapaian tujuan. Dengan demikian, kepemimpinan sangat diperlukan bagi efektivitas organisasi.

Menurut pendapat Winardi (1977) fungsifungsi manajemen adalah sebagai berikut:

  • Planning
  • Organizating
  • Actuating
  • Coordinating Leading
  • Communication
  • Controlling

Planning (perencanaan) merupakan aktivitas yang menentukan hal-hal atau apa yang akan dikerjakan.

Organizating (pengorganisasian) dirumuskan sebagai keseluruhan aktivitas manajemen dalam mengelompokkan orangorang, alat-alat, tugas-tugas. wewenang, tanggung-jawab sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan dalam rangka mencapai tujuan.

Komunikasi adalah suatu proses di mana pihak tertentu menyampaikan kepada pihak lain pandangannya, keinginannya, pendiriannya dengan harapan pihak yang dihubungi itu dapat mengerti dan melaksanakan tindakan sesuai dengan yang diinginkan. Di dalam suatu organisasi isi komunikasi biasanya terdiri dari instruksi dan perintah untuk dikerjakan maupun untuk tidak dikerjakan serta laporan, pertanyaan, permohonan yang dikomunikasikan ke atas. Komunikasi di dalam organisasi dikenal sebagai komuniksi formal dan informal. Komunikasi informal arus komunikasinya sesuai dengan kepentingan dan kehendak masing-masing pribadi yang ada dalam organisasi. Sedangkan informasi formal mengikuti jalur hubungan formal yang tergambar dalam susunan struktur organisasi.

Menurut Miftah Toha. (1983) proses komunikasi formal dibedakan atas tiga dimensi yaitu :

  1. Dimensi vertikal yaitu komunikasi yang bersifat timbal balik, baik dari atas maupun dari bawah.
  2. Dimensi horizontal adalah komunikasi yang dilakukan antara berbagai pejabat yang mempunyai kedudukan yang sama.
  3. Dimensi luar organisasi adalah komunikasi yang dilakukan pihak luar yang berada lingkungan di mana organisasi tersebut berada.

Controlling (pengawasan) adalah fungsi manajemen yang mengadakan penilaian dan bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar. Adapun ciri pengawasan yang baik :

  1. Fungsi pengawasan harus memenuhi fakta-fakta tentang bagaimana tugas-tugas dijalankan dalam organisasi.
  2. Bersifat preventif.
  3. Diarahkan pada masa sekarang.
  4. Alat untuk meningkatkan efisiensi.
  5. Untuk menemukan yang tidak betul.
  6. Bersifat membimbing.

Di dalam suatu organisasi para manajer baik yang berkedudukan sebagai top manajer, medle manajer maupun lower manajer kesemuanya melakukan fungsi tersebut.

Lebih lanjut Richard M. Steers mengemukakan bahwa :

  1. Kepemimpinan mengisi kekosongan struktur organisasi yang tidak sempurna
  2. Kepemimpinan membantu mempertahankan stabilitas organisasi dan adaptasi yang segera pada kondisi lingkungan yang sedang berubah.
  3. Membantu koordinasi dari unit-unit organisasi yang berbeda-beda selama pertumbuhan dan perubahan.

Dari pendapat di atas jelaslah bahwa kepemimpinan akan menentukan keberhasilanorganisai. Untuk mengukur kepemimpinan yang dijadikan tolak ukur ialah :

Kualitas pimpinan dengan indikatorn^a sebagai berikut:

Tingkat pengalaman yang dimiliki manajer.

Tingkat pengetahuan (pendidikan for-, mal dan non formal).

Tingkat mental para manajer. Kekuatan fisik para manajer.

  • Managerial skill dengan indikator sebagai berikut:

Sampai seberapa jauh kemampuan manajer dalam melaksanakan fungsi perencanaan, pengorganisasian, koordinasi dan pengawasan.

Jika pemimpin di dalam suatu organisasi, memiliki kualitas pimpinan, kemahiran manajemen yang tinggi maka efektivitas organisasi juga tinggi. Hal ini terlihat dari tingginya : kriteria internal, eksternal, produktivitas, otonomi, fleksibilitas, stabilitas di dalam organisasi tersebut.

Pengertian Partisipasi

Keith Davis, (1957) memberikan pengertian partisipasi adalah sebagai berikut: “Partisipasi sebagai keterlibatan mental dan emosi seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk membantu tujuan kelompok dan sama-sama bertanggung jawab terhadapnya”.

Kemudian Tjokrowinoto menambahkan bahwa :

dari pendapat di atas jelaslah bahwa dalam partisipasi terdapat unsur keterlibatan atau unsur keikutsertaan mental dan emosi serta gerak seseorang dalam rangka mewujudkan tujuannya. Dengan demikian tanpa partisipasi, organisasi tidak akan berjalan kearah pencapai-an tujuan. Hal ini sesuai dengan hakekat dari organisasi di mana sistem kerjasama kelompok merupakan dasar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Pendapat ini didukung oleh pendapat Sondang P. Siagian yang mengatakan : “Organisasi hanya hidup apabila di dalamnya terdapat para anggota yang rela bekerjasama satu sama lain. Pencapaian tujuan organisasi akan lebih terjamin apabila para anggota dengan sadar dan atas dasar keinsafan yang mendalam bahwa tujuan pribadi mereka akan tercapai melalui jalur pencapaian tujuan. Dengan demikian melalui partisipasinya, anggota bukan hanya merupakan obyek, tetapi merupakan subyek. Lebih dari itu, anggota akan mempunyai rasa memiliki yang besar terhadap anggota”.

Georgopoulos dan Tannenbaum membuat suatu daftar perincian untuk mengukur tingkat partisipasi suatu organisasi yaitu :

  1. Kehadiran dalam pertemuan tetap.
  2. Kehadiran dalam pertemuan khusus.
  3. Tingkah laku dalam pertemuan.
  4. Jabatan yang dipegang.
  5. Keanggotaan dalam kepanitiaan kelompok.
  6. Pemberian suara sewaktu pemilihan

kepanitiaan kelompok.

Partisipasi anggota pada dasarnya akan melihat sejauh mana keterlibatan mental, emosi anggota dalam menyumbangkan daya pikiran dan tenaga sdrta memberi dukungan dan tanggung-jawab terhadap pencapaian tujuan organisasi.

HUBUNGAN ANTARA KEPEMIMPINAN DENGAN EFEKTIVITAS ORGANISASI | ADP | 4.5