IDENTITY (IDENTITAS) ADALAH

By On Friday, March 19th, 2021 Categories : Bikers Pintar

Jati diri seseorang.

Identity (identitas) adalah Diambil dari akar kata Latin, idem, yang mengimplikasikan arti kesamaan dan kontinuitas, istilah ini pun­ya sejarah filsafat panjang di tengah-tengah perubahan dan keragaman pandangan, na­mun dalam periode modern istilah ini ter­kait erat dengan munculnya INDIVIDUALISM, dan analisisnya dianggap dimulai oleh tu­lisan-tulisan John Locke dan David Hume. Tetapi, baru pada abad ke-20 istilah ini menjadi populer; terutama sejak 1950-an istilah ini makin populer di Amerika Utara berkat terbitnya buku-buku seperti The Lonely Crowd (Riesman, et al., 1950) dan Identity and Anxiety (Stein, et al., 1960). Buku-buku ini, bersama dengan teks-teks drama dan sastra, mendokumentasikan hilangnya makna dalam MASS SOCIETY dan upaya pencarian identitas; dan sepanjang periode ini istilah tersebut dipakai luas dalam mendeskripsikan pencarian tentang “siapa jati diri seseorang itu.” Identity (identitas) adalah Pada awal­nya pencarian identitas berkaitan dengan krisis yang dihadapi oleh orang kulit hitam, Yahudi, dan minoritas religius lainnya, tetapi kemudian digeneralisasikan untuk seluruh masyarakat modern. Menjelang 1970-an, Robert Coles mengklaim bahwa istilah ini adalah “bentuk klise paling mur­ni”.

Krisis identitas. Identity (identitas) adalah

Dalam ilmu-ilmu sosial, diskusi iden­titas mengambil dua bentuk, psikodinamis dan sosiologis. Tradisi psikodinamis mun­cul bersama teori identifikasi Freud, yang menyatakan bahwa anak akan mengasi­milasi (atau menyerap) person atau objek eksternal (biasanya superego orang tuan­ya). Teori psikodinamis menekankan inti struktur jiwa sebagai identitas yang ber­kesinambungan (meski sering berkonflik). Menurut Lichtenstein ini adalah “kapasitas untuk tetap tak berubah di tengah-tengah perubahan yang terus-menerus” (1977, h. 135). Tetapi yang mengembangkan gagas­an ini lebih jauh adalah psikohistorian Erik Erikson. Dia memandang identitas bukan hanya sebagai “proses `menemukan’ dalam inti individu tetapi juga dalam inti kultur komunal, sebuah proses yang menciptakan identitas dari kedua identitas tersebut” (1968, h. 22). Dia mengembangkan istilah “krisis identitas” selama Perang Dunia II untuk menyebut pasien yang “kehilangan pemahaman akan keutuhan personal dan kesinambungan sejarah” (h. 17), dan dia kemudian menggeneralisasikannya ke selu­ruh tahap kehidupan (sebagai bagian dari model tahap-hidup epigenetiknya—dela­pan tahap manusia). Di sini, masa muda diidentifikasi sebagai periode krisis kebi­ngungan identitas personal, yang akhirnya bisa diselesaikan melalui komitmen pada ideologi sosial yang lebih luas: ada “kebu­tuhan psikologis universal akan sistem ide yang dapat memberikan citra dunia yang meyakinkan” (h. 31). Identity (identitas) adalah Krisis personal dan momen historis di sini saling terkait. Ke­mudian, istilah “krisis identitas” menjadi populer, dan belakangan konsep krisis patub baya juga populer—yang diciptakan pada 1970-an dalam karya Gail Sheehey (1976) dan Daniel Levinson (1978). Tradisi teori identitas dalam sosiologi dikaitkan dengan SYmBouc INTERACTIONISM dill% muncul dari teori pragmatis diri yang didiskusikan oleh William James dan George Herbert Mead (1934). Menurut James, identitas terungkap ke­tika kita bisa mengatakan: “Inilah diri ..aya yang sebenarnya!” (dikutip dalam Erikson, 1968, h. 19). Diri (self) adalah kapasitas khas manusia yang memampu­kan orang untuk merenungkan sifat mere­ka clan dunia sosial dengan menggunakan bahasa dan komunikasi. James dan Mead memandang diri sebagai sebuah proses dengan dua fase—”I” yang merupakan “yang mengetahui”, fase batin, subjektif, kreatif, menentukan dan tidak dapat dik­eta hui; dan “Me” yang merupakan fase sosial, ditentukan, lahiriah, dan dikenali. Seierti dikatakan Mead: “I” adalah res­pons terhadap organisme terhadap sifat dari organisme lain; “me” adalah sederet­an asumsi sikap tentang orang lain yang” (Mead, 1934, h. 175). Adalah “Me” yang paling terkait dengan identitas—dengan cara kita memandang diri kita sebagai se­buah objek melalui tindakan mengamati diri kita sendiri dan diri orang lain. Iden­tifikasi di sini adalah proses penamaan, proses menempatkan diri kita dalam kate­gori yang dikonstruksi secara sosial, dan Bahasa menjadi penting dalam proses ini (Strauss, 1969). Dalam karya Erving Goff-man dan Peter Berger, identitas jelas dilihat sebagai sesuatu yang “diberikan secara so­sial, dipelihara secara sosial dan diubah sesosial” (Berger, 1966, h. 116). Orang membangun identitas personal mereka herdasarkan kultur tempat mereka hidup. Pendekatan sosiologis dan psikodina­mis bertujuan untuk menghubungkan du­nia batin dengan dunia luar, tetapi pene­k anannya berbeda. Akan tetapi, menurut kedua pendekatan itu, perjuangan untuk mendefinisikan diri adalah terkait dengan cara di mana komunikasi mengkonstruksi konsepsi tentang orang dan kehidupan. Di dunia modern, kedua perspektif itu menunjukkan bahwa sebuah komunitas bersama sebagian telah bubar—membuat orang tidak memiliki pemahaman identi­tas yang jelas (lihat juga ANOMIE). Dilema ini menghasilkan banyak literatur, terma­suk drama dan novel yang bertema utama “pencarian identitas” atau “keruntuhan diri.” Penjelasan ini memuat versi pesimis dan optimis, dan dapat menimbulkan am­bivalensi (Waterman, 1985). Menurut versi optimis, dunia modern meningkatkan indi­vidualitas dan pilihan atas berbagai macam identitas. Jadi orang lebih mungkin untuk “mengaktualisasikan diri”(Maslow, 1987); untuk menemukan diri yang bebas dari pengaruh tradisi, kultur atau religi; untuk mencari individualitas yang lebih besar, pemahaman diri yang lebih luas, fleksibili­tas, dan perbedaan. Ini adalah “demokrati­sasi kepribadian” (Cleack, 1983, h. 179). Sebaliknya, versi pesimis menggambarkan kultur pengasingan massal: tradisi psiko­dinamis menggarisbawahi hilangnya ba­tas-batas antara diri dan kultur dan mun­culnya kepribadian narsistik; sedangkan sosiolog melihat tren ke arah fragmentasi, ketiadaan rumah, dan ketiadaan makna, mengeluhkan hilangnya otoritas dalam dunia publik akibat bertambahnya pe­nyerapan diri dan sikap mementingkan diri sendiri (Lasch, 1978; Berger et al., 1973; Bellah et al., 1985). Semua ini diberi label “Me Decade” (Wolfe, 1976). Apa pun ben­tuk analisisnya, semua setuju bahwa ada pergeseran besar dalam kedirian di masa modern, menjadikannya lebih individualis­tis dan impulsif ketimbang di masa lalu. Selain ide tentang identitas memben­tuk basis bagi praktik terapeutik, ide itu juga menimbulkan bentuk politik yang berbeda. Politik identitas makin menge­muka sejak akhir 1960-an, dan biasanya diasosiasikan dengan minoritas etnis dan keagamaan, dan dengan gerakan feminis, gay dan lesbian. Ia mengambil dari model kesadaran kelas Marx di mana kelompok su bond inat mengembangkan kesada ran diri tentang posisinya dan mulai mengam­bil langkah politik (perbedaan Marx anta­ra kelas dalam dirinya sendiri dengan ke­las untuk dirinya sendiri). Di sini terdapat pergerakan dari politik berbasis kelas ke serangkaian aliansi yang luas. Pengalam­an seperti penindasan atas warga kulit hi-tam, gay, atau wanita menjadi dasar bagi pembentukan identitas terpisah—sebagai identitas kulit hitam, gay, atau feminis. Di seputar identitas ini muncul dukungan kultural dan lahir bentuk analisis politik tersendiri. (Lihat juga COUNTERCULTURE.) Karenanya ada dialektika kultur, politik, dan identitas yang melahirkan perubahan sosial (lihat Weeks, 1985). Sampai akhir abad ke-20, beberapa komentator post­modernis menganggap politik “identitas” sebagai pola masa depan (lihat MODERN­ISM AND POSTMODERNISM). Perbedaan tradis- ional aliran “kiri-kanan” tampaknya akan hilang setelah muncul aliansi baru.

IDENTITY (IDENTITAS) ADALAH | ADP | 4.5