JENIS-JENIS PENELITIAN YANG BERSIFAT HISTORIS

27 views

Melalui keterangan etnohistori atau studi yang didasarkan pada bahan-bahan yang deskriptif tentang keadaan satu masyarakat dalam berbagai kurun waktu, seseorang dapat memperoleh data yang esensial sifatnya untuk segala jenis studi yang bersifat sejarah, seperti halnya dengan data-data esensial untuk segala jenis penelitian yang bersifat bukan histori yang dapat diperoleh dari etnografi. Data-data etnohistori dapat terdiri dari sumber-sumber lain daripada laporan etnografis karya para ahli antropologi; bahan etnohistori dapat meliputi penuturan dari para penjelajah, penyiar agama, pedagang dan pejabat-pejabat pemerintah. Keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi dalam usaha untuk menghasilkan dan menguji hipotesa-hipotesa, pada studi-studi tentang keadaan masyarakat pada berbagai kurun waktu, tidak berbeda dari keterbatasan yang ditemukan pada studi-studi yang hanya terbatas pada satu masa tertentu. Seperti halnya dengan studi yang bukan bersifat sejarah, studi-studi yang berkonsentrasi pada satu masyarakat yang diamati sepanjang jangka waktu tertentu, cenderung untuk menghasilkan sejumlah hipotesa, tapi pada umumnya studi demikian tidak menyajikan kesempatan untuk memungkinkan kita untuk dengan agak pasti menyimpulkan mana dari hipotesa itu yang benar.

Dalam studi-studi yang dilakukan secara lintas budaya yang bersifat historis (tentang mana kita mempunyai beberapa contoh) dihadapi keterbatasan yang sebaliknya, yaitu dalam studi jenis ini tersedia berbagai cara untuk menguji hipotesa melalui perbandingan, namun karena terpaksa mengandalkan diri pada keterangan dan data sekunder, maka kemungkinan untuk menghasilkan hipotesa dari data yang tejsedia sangatlah terhambat. Meskipun demikian, ada satu keuntungan dari studi-studi historis yang bagaimanapun jenisnya. Tujuan dari teori dalam antropologi budaya adalah menjelaskan mengapa ada variasi-variasi dalam pola-pola budaya. Ini berarti bahwa perlu dirumuskan kondisi yang bagaimana yang akan “menguntungkan” perkembangan pola budaya tertentu dan justru bukan mendorong pola budaya jenis lain. Rumusan semacam ini berkonsekuensi bahwa kita berasumsi bahwa penyebab yang diperkirakan atau kondisi yang menguntungkan perkembangan pola budaya tersebut mendahului pola yang akan diterangkan. Sehubungan dengan itu maka teori-teori atau penjelasan-penjelasan yang digunakan meliputi urutan menurut waktu, jadi merupakan bahan sejarah. Karena itu, jika kita mau memahami secara mendalam faktor-faktor yang kita duga menjadi penyebab dari variasi budaya yang menarik perhatian kita, maka sebaiknya kita harus meneliti urutan kejadian sejarah untuk mengetahui apakah kejadian-kejadian yang kita duga merupakan penyebab dari berbagai gejala budaya tertentu, benar-benar mendahului gejala-gejala itu sehingga memang kita akan dapat berkata, bahwa itulah merupakan penyebab. Kalau kita dapat mempelajari urutan kejadian historis, maka mungkinlah kita secara meyakinkan mengetengahkan bahwa “keretanya tidak dipasang di muka kudanya”.

Halangan utama untuk riset historis adalah bahwa pengumpulan dan analisa data-data historis, terutama bila itu datangnya dari berbagai penuturan para penjelajah, misionaris, dan pedagang merupakan tugas yang sangat ruwet, membosankan dan menjengkelkan. Penuturan-penuturan tersebut mungkin tidak lengkap, tidak akurat, atau kurang jelas. Karena itu mungkin lebih efisien untuk lebih dahulu menguji penjelasan-penjelasan menurut metoda bukan sejarah, supaya beberapa interpretasi dapat disisihkan. Hanya jika suatu interpretasi berhasil melalui pengujian nonhistoris, maka kita perlu memeriksa data historis untuk menguji urutan sejarah yang kita asumsikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *