JURNALISTIK PEMBANGUNAN

By On Monday, November 10th, 2014 Categories : Bikers Pintar

Pengertian Jurnalistik Pembangunan (Development Journalism) tidaklah sederhana apa yang dikatakan orang pada umumnya, yaitu bahwa Jurnalistik Pembangunan adalah penyiaran berita hasil pembangunan oleh media massa. Pengertian pembangunan dalam Jurnalistik Pembangunan bukan hanya mengenai pesan (message) yang disiarkan oleh pers, tetapi juga semua unsur yang terlibat dalam penyiaran pesan tersebut. “Journalism is the key to communication”, kata Spencer Crump dalam bukunya “Fundamentals of Journalism”. Journalistik diibaratkan sebagai kunci pembuka saluran informasi. Tanpa kunci yang sesuai, pintu tak akan terbuka, tanpa Jurnalistik yang tepat, informasi tak akan tersalurkan. Informasi yang mengalir ada sumbernya, ada tujuannya dan ada sarana yang mengatur penyalurannya, yang kesemuanya terjalin kait-mengait, bukan saja antara unsur-unsur tersebut, tetapi juga dengan faktor-faktor yang terpautkan dengannya.

Pers sebagai media komunikasi massa adalah subsistem dari sistem sosial yang kompleks. Karena merupakan subsistem sosial, maka per-tautan (relationship) unsur-unsur yang terlibat melalui pers menjadi kompleks pula. Unsur pertama adalah lembaga pers itu sendiri. Banyak pertautannya : SIUPP, Ideologi Negara, Undang-Undang Dasar Negara beserta undang-undang yang berkaitan dengan pers, pembiayaan, perburuhan, dan lain sebagainya. Unsur kedua adalah komunikator yang terdiri dari wartawan dan anggota masyarakat atau pejabat pemerintah penulis artikel, pengisi “ruang pembaca penulis”, atau pemasang iklan.

Sebagai komunikator wartawan tidaklah sebebas kiai, dalang, atau perorangan lainnya yang peranannya berkomunikasi, baik secara infor-matif maupun persuasif. Wartawan adalah komunikator yang terlembaga- kan (institutionalized communicator) yang “dibelenggu” oleh berbagai restriksi, yang membatasi ruang geraknya, la “dibelenggu” oleh Kode Etik Jurnalistik, Undang-Undang Pers, KUHP, policy surat kabar, dan lain-lain, sehingga apabila ia melakukan kegiatan jurnalistiknya – apakah itu meng-olah berita, membuat tajuk rencana, membikin pojok atau menyusun reportase restriksi-restiksi tersebut tidak bisa tidak harus ia perhitungkan. Tidak kurang kompleksnya adalah unsur ketiga, pesan atau informasi yang harus disiarkan, disebabkan harus universal, mengenai apa saja yang terdapat dan terjadi di bawah matahari; tentang apa saja yang menarik perhatian dan memenuhi kepentingan pembaca. Unsur keempat adalah sasaran yang terdiri bukan saja dari masya-rakat tetapi juga pemerintah. Kompleksnya sasaran disebabkan keaneka-ragaman individu-individu pembaca dalam hal kepentingan, cita-cita, ke-senangan, status sosial, jenis pekerjaan, taraf pendidikan, tingkat ke-budayaan, suku bangsa, agama, juga umur.

Semua unsur dengan segala faktor yang bertautan dengannya merupakan suatu totalitas, kait mengait tak terpisahkan. Wartawan bukan saja komunikator, juga anggota masyarakat. Pembaca bukan saja sasaran, ia juga komunikator. Demikian pula, pemerintah selain sasaran, juga komunikator. Demikianlah, maka kalau kita berbicara mengenai Jurnalistik Pem-bangunan, yang terliput adalah semua unsur, bukan saja pesan, tetapi juga masyarakat, pemerintah dan pers beserta wartawan dan karyawannya. Jurnalistik Pembangunan adalah jurnalistik yang membangun masyarakat, pemerintah dan pers itu sendiri. Yang mendasari suksesnya misi Jurnalistik Pembangunan adalah faktor saling percaya mempercayai di antara ketiga dimensi tersebut. Para ahli di bidang jurnalistik dan pers mengakui, bahwa pers mem-punyai fungsi menyiarkan informasi, mendidik, menghibur, mempengaruhi serta mengontrol masyarakat dan pemerintah. Dari tahun ke tahun tampak semakin banyaknya tantangan kepada pers Indonesia yang harus dijawab dengan peningkatan kemampuan dan keterampilan. Bobot pelaksanaan fungsi menyiarkan informasi dan mendidik tidak lagi tertuju kepada masyarakat, tetapi juga kepada pemerintah. Sebab, memang pemerintah membutuhkannya. Sebagai contoh dapat diketengahkan masalah komunikasi timbal balik yang semakin mendapat perhatian pemerintah.

Pemerintah sangat membutuhkan derasnya arus balik (feedback) informasi dari bawah ke atas, dari masyarakat ke pemerintah. Dibutuhkan, karena dianggap penting untuk bahan pengambilan keputusan dan pengambilan kebijaksanaan. Dibutuhkan, ka-rena ternyata informasi yang sampai ke pemerintah tidak sesuai dengan kenyataan di masyarakat. Oleh sebab itulah, dan tidak mengherankan, kalau Presiden Suharto terjun sendiri ke desa-desa untuk memperoleh arus balik informasi langsung, murni dan bersih. Memang selama faktor ABS (Asal Bapak Senang) masih mem-budaya, informasi dari bawah ke atas bisa dikorupsi oleh sejumlah pejabat. Yang disampaikan ke atas hanyalah yang bagus-bagus; yang tidak menyenangkan bapak atau yang merugikan dirinya diubah, di-perbesar, diperkecil atau dihilangkan sama sekali, sehingga yang sampai ke atas hanyalah yang serba baik dan menyenangkan bapak. Bayangkanlah berapa banyaknya pejabat yang harus dilalui infor-masi dari bawah sebelum sampai ke atas. “Hierarchy always corrupts communication”, kata Kenneth E.Boulding mengenai arus balik informasi ini.

Dalam hubungan ini, pers mempunyai, peranan yang sangat penting. Pers merupakan saluran “by-pass” yang melangsungkan informasi dari masyarakat ke pemerintah. Informasi ini cepat, nyata, objektif, dan dapat dipercaya. Tidak mengherankan, kalau banyak pejabat pemerintah yang menjadikan clipping surat kabar sebagai bahan untuk mengambil keputusan dan kebijaksanaan. Hal ini merupakan tantangan bagi para wartawan untuk membina dirinya dengan memperluas pengetahuannya dan meningkatkan ke-terampilannya, sehingga beritanya nyata bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah yang sedang membangun. Akan nyata pula fungsinya sebagai pengontrol masyarakat dan pemerintah.

Sehubungan dengan itu pula, wartawan harus kritis terhadap tindakan pemerintah dan peka terhadap setiap gejala yang timbul di masyarakat. “Hanya kalau demikianlah, ia dapat diberi predikat jurnalis” – kata Prof.Daniel Lev, “jika tidak, ia hanyalah teknolog dalam soal tulis-menulis”. Kalau kita perhatikan berita surat kabar sekarang, belum banyak yang mengandung faktor apa yang disebut “Environmental Impact Assessment” atau Penilaian Impak Lingkungan (PIL). Apabila kita mengetengahkan hal ini, justru karena selalu dijadikan pegangan pemerintah di mana saja, badan-badan internasional atau lembaga-lembaga penting lainnya dalam mengambil suatu kebijaksanaan. IMF, umpamanya, tidak akan memberikan bantuan dana, apabila rencana proyek yang akan dibangun oleh suatu pemerintah tidak dilengkapi dengan PIL. Pernah terjadi di Amerika Serikat, sebuah reaktor atom tidak jadi dibangun, disebabkan berita surat kabar yang mengandung P.I.L. Berita yang mengandung PIL bersifat “Future oriented”, bukan saja mengenai hal-hal yang tampak kini, tetapi juga mengenai akibat-akibat di masa yang akan datang. Jadi, kalau seorang wartawan meliput berita mengenai pembangunan sebuah proyek, maka ia harus berorientasi ke masa depan, apa dampak proyek kepada lingkungan dan ada dampak lingkungan kepada proyek. Dengan demikian, seorang wartawan bukan saja melihat sebuah peristiwa dalam tiga dimensi, yakni panjangnya, lebarnya dan tingginya, tetapi juga dalammya (the depth); bukan saja berenang di atas permukaan, tetapi juga menyelam; bukan saja melihat dengan mata kepala, tetapi juga dengan mata hati.

“One new characteristic of news is the stronger emphasis on back-ground, as a kind of fourth dimension of news”, kata Prof.Charnley dalam bukunya “Reporting” (1975 : 17).

Berita yang berdiri sendiri tanpa ada pertautan dengan lingkungan hanyalah setengah kisah berita. Dalam era yang kompleks seperti sekarang ini, tidak ada suatu peristiwa yang terisolasikan secara total. Sebuah berita mengenai suatu kejadian yang tidak menunjukkan konteksnya, adalah berita yang belum selesai. Untuk memperoleh “the depth” atau “the background” dari sebuah berita, penting sekali bagi wartawan keterampilan dalam interview: teknik mencari informasi, teknik menggali isi hati orang. Tanpa metode dan teknik interview yang baik, seorang wartawan akan sukar mengetahui isi hati dan perasaan masyarakat: hasrat, cita-cita, rasa senang, dongkol, sedih, marah, kecewa, dan lain sebagainya. Hal-hal yang serba “inwardly held” itu, tidak nampak dari luar, yang apabila meletus menjadi action, di situlah baru diketahui akibatnya. Jadi, kalau isi hati dan perasaan orang-orang yang terpautkan dalam usaha pembangunan, dikemukakan oleh seorang wartawan dalam berita-nya, hasil sikap “future oriented” si wartawan ini, akan merupakan isyarat bagi kesiagaan dan kebijaksanaan pemerintah.

Wibawa wartawan disebabkan pengetahuannya yang luas menye-luruh mengenai setiap hal dan peristiwa disertai kemahiran dalam penyaji-an berita, akan menyebabkan jurnalistik Indonesia mempunyai arti besar dalam menunjang pembangunan. Ditinjau dari sudut jurnalistik, pembangunan adalah suatu proses yang dalam kelangsungannya mencapai sasaran yang dituju, yakni tingkat hidup kemasyarakatan yang lebih tinggi dan merata daripada sebelumnya, menjumpai faktor-faktor yang memperlancar dan yang menghambat. Fungsi Jurnalistik Pembangunan ialah menunjang berlangsungnya pembangunan, dalam arti kata membantu memperlancar dan meng-hilangkan hambatan-hambatan. Pembangunan tidak akan mencapai tuju-annya dengan^ segera, apabila faktor-faktor yang menghambat tidak dihilangkan. Karena itu, maka dalam menangani berita pembangunan, redaksi surat kabar perlu membagi perhatiannya kepada dua aspek : berita pembangunan dan berita penghambat pembangunan. Sebaliknya yang pertama ditangani secara poly-facta, yang kedua secara monofactum.

 

Incoming search terms:

  • pengertian jurnalisme pembangunan
  • pengertian jurnalisme pembangunan menurut para ahli
JURNALISTIK PEMBANGUNAN | ADP | 4.5