KEPEMIMPINAN SEBAGAI BENTUK PERSUASI

108 views

Beberapa ahli teori terdahulu berusaha untuk menghilangkan adanya kesan pemaksaan dalam definisi kepemimpinan, dan tetap memakai konsep pemimpin sebagai faktor yang menentukan di dalam hubungannya dengan para pengikutnya. Dalam kerangka ini tampaknya lebih tepat menggunakan konsep persuasi.

Schenk (1928) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pengelolaan manusia melalui persuasi dan inspirasi daripada melalui pemaksaan langsung. Hal ini melibatkan penerapan pengetahuan mengenai faktor manusia dalam memecahkan masalah yang konkrit. Menurut Cleeton dan Mason (1934), kepemimpinan mengindikasikan adanya kemampuan mempengaruhi manusia dan menghasilkan rasa aman dengan melalui pendekatan secara emosional daripada melalui penggunaan otoriter. Copeland (1942) berpendapat bahwa kepemimpinan adalah seni berhubungan dengan orang lain … merupakan seni mempengaruhi orang melalui persuasi dengan contoh konkrit. Dalam hal ini harus dihindari adanya intimidasi untuk memaksa orang lain bertingkah laku yang sesuai dengan keinginan dirinya. Odier (1948) membedakan nilai dengan valensi pemimpin. Valensi merupakan kekuatan manusia untuk bertindak sesuai dengan perasaan dari nilai yang dimiliki orang lain atau kelompok serta modifikasi (memperkuat atau memperlemah) di dalam suatu penampilan. Karena itu, valensi didefinisikan tidak berdasarkan nilai kepribadian pemimpin, tetapi berdasarkan kualitas pengaruh yang dikenakan kepada anggota kelompok. Koonts dan O’Donnell (1955) memandang kepemimpinan sebagai aktivitas membujuk manusia untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.

Definisi kepemimpinan sebagai bentuk persuasi cenderung banyak diminati oleh para mahasiswa (yang mendalami politik dan gerakan sosial), para ahli teori militer, dan industri yang bertentangan dengan konsepsi otoriter. Pandangan mereka belum cukup berpengaruh dalam mempertajam teori dan penelitian. Kenyataan memperlihatkan bahwa persuasi merupakan kekuatan untuk mempertajam harapan dan keyakinan dalam bidang politik, sosial, agama, dan karenanya akan tampil dan lebih diperhatikan dalam penelitian mengenai kepemimpinan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *