KOMUNIKASI MENURUT GEORGE HERBERT MEAD

By On Friday, November 14th, 2014 Categories : Bikers Pintar

Mead dianggap sebagai bapak interaksionisme simbolik, karena pemikirannya yang luar biasa. Dia mengatakan bahwa pikiran manusia mengartikan dan menafsirkan benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya, menerangkan asal mulanya dan meramalkannya. Pikiran manusia menerobos dunia luar, seolah-olah mengenalnya dari balik penampilannya, la juga menerobos dirinya sendiri dan membuat hidupnya sendiri menjadi objek pengenalannya yang disebut Mead self yang dapat kita terjemahkan menjadi aku atau diri. Self dikenalnya mempunyai ciri-ciri dan status tertentu. Manusia yang ditanya siapa dia, akan menjawab bahwa ia bernama anu, beragama anu, berstatus sosial anu, dan lain sebagainya. Cara manusia mengartikan dunia dan dirinya sendiri berkaitan erat dengan masyarakatnya. Mead melihat pikiran (mind) dan dirinya (self) menjadi bagian dari perilaku manusia, yaitu bagian interaksinya dengan orang lain. Interaksi itu membuat dia mengenal dunia dan dia sendiri. Mead mengatakan bahwa pikiran (mind) dan aku/diri (self) berasal dari masyarakat (society) atau proses-proses interaksi.

Bagi Mead tidak ada pikiran yang lepas bebas dari situasi sosial. Berpikir adalah hasil internalisasi proses interaksi dengan orang lain. Berlainan dengan reaksi binatang yang bersifat naluriah dan langsung, perilaku manusia diawali oleh proses pengertian dan penafsiran.

Sehubungan dengan proses-proses tersebut yang mengawali perilaku pada manusia, maka konsep role taking (pengambilan peran) amat penting. Sebelum seseorang bertindak, ia membayangkan dirinya dalam posisi orang lain dan mencoba untuk memahami apa yang diharapkan orang itu. Hanya dengan menyerasikan diri dengan harapan-harapan orang lain, maka interaksi menjadi mungkin.

Semakin mampu seseorang mengambil alih atau membatinkan peran-peranan sosial, semakin terbentuk identitas atau kediriannya.

Pada akhir proses ini orang bersangkutan memiliki suatu gambaran tentang generalized other atau orang lain pada umumnya. Tidak lagi peranan seseorang, misalnya seorang ulama atau seorang suami atau seorang polisi, secara khusus membentuk gambaran itu, melainkan peranan ulama, suami, atau polisi pada umumnya yang lebih abstrak. Setelah belajar untuk jangka waktu lama, the generalized other mengganti orang-orang konkret serta harapan mereka. Sekarang yang belajar itu telah membatinkan nilai-nilai, makna-makna, dan norma-norma kelompok serta menyesuaikan pengertiannya, penafsirannya dan kelakuannya kepada semuanya itu. (Veeger, 1985: 222 – 223).

Jelasnya, generalized other adalah persepsi seseorang mengenai cara orang lain melihat dia. Konsep diri (self concept)-r\ya timbul untuk disatukan dan diorganisasikan melalui internalisasi orang lain secara umum itu.

Ada dua segi dari self tadi, yang masing-masing melakukan fungsi penting dalam kehidupan manusia. / yang dapat diterjemahkan sebagai Aku yang merupakan bagian yang unik, impulsif, spontan, tidak terorganisasikan, tidak bertujuan dan tidak dapat diramal dari seseorang. Me atau Daku (meminjam istilah Veeger) itulah generalized other yang terbina dengan pola-pola yang terorganisasikan secara ajeg dari orang lain. (The I is the unique, impulsive, spontaneous, unorganized, undirected, and unpredictable part of the person. The Me is the generalized other, made up of the organized and consistant patterns shared with others). Setiap kegiatan dimulai dari impuls atau gerak hati pada I yang segera dikontrol oleh Me. Dalam suatu kegiatan I adalah daya gerak, sedangkan Me melakukan bimbingan dan panduan. Mead menggunakan konsep Me untuk menerangkan perilaku yang secara sosial diterima dan diadaptasi dan I untuk menjelaskan gerak hati yang kreatif dan tidak dapat diramal pada seseorang. Dapat disimpulkan bahwa Mead meninjau seseorang sebagai organisme yang secara biologis berkembang dengan pikiran yang rational dari otak yang mampu. Dengan menggunakan kiai (gesture) dan pengambilan peranan, orang menjadi objek bagi dirinya, dalam pengertian dia melihat dirinya sebagaimana orang lain melihatnya. Orang itu membatinkan pandangan dirinya secara umum dan dengan demikian berperilaku secara ajeg. Dengan pikirannya, orang merencanakan dan melatih perilaku simbolik sebagai persiapan sebelum berinteraksi dengan orang lain (Littlejohn, 1978 : 61).

KOMUNIKASI MENURUT GEORGE HERBERT MEAD | ADP | 4.5