KOTA BARU DAN PEMECAHAN MASALAH

By On Sunday, September 27th, 2015 Categories : Bikers Pintar

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai konsep pembangunan berskala besar dalam bentuk kotakota baru terlebih dahulu dibedakan beberapa pengertian mengenai konsep yang bersangkutan.
Menurut DR. Ir. Danisworo yang mengambil gelar doktornya University of Washington AS dengan disertasinya; The Validity and Applicability of The New Town Concept in Third World : A Search For New Planning Approach (1983) yang juga Ketua Tim Pengendalian Perencanaan Arsitektur Kota (TPAK-DKI Jakarta) membedakan beberapa jenis kota baru.
Pertama, Superblok (kota dalam Kota/City Within the City) merupakan suatu komplek yang luas dengan multi fungsi dan terpadu sebagai tempat tinggal bekerja, berbelanja, belajar, beribadat, berolahraga, berrekreasi dan seterusnya. Kota jenis ini biasanya berada di tengah kota inti.
Kedua, Kota Satelit (New Satelite Town). Kota jenis ini biasanya berada berdekatan dan berdempetan dengan kota inti, seperti Bintaro Jaya. Sebagian besar kebutuhan penghuninya masih bergantung kepada kota induk. Kota satelit sering pula disebut bad room community, atau kota asrama, sebab sebagian besar penghuninya bekerja di luar kota satelit di siang hari, dan hanya digunakan untuk istirahat (tidur) di malam hari.

Kota Baru Mandiri (Free Standing New Town)
Kota Baru mandiri umumnya mengambil lokasi dengafi jarak di atas 60 Km daff^kota induk. Kota jenis ini, dikartakan mandiri karena seluruh kebutuhan penghuninya rtiulai dari melahirkan, bekerja, berekreasi, pendidikan hingga meninggal dunia sudah mampu dilayani sendiri. Praktis ketergantungan kepada kota induk relatif sangat kecil.
Terlepas dari berbagai bentuk istilah dan konsep tadi, dalam pembahasan ini saya hanya ingin mengemukakan sebuah konsep perumahan yang paling tidak, akan mampu mengatasi persoalanpersoalan krusial yang seiama ini dihadapi oleh kota induk. Mjsalnya masalah beratnya beban pelayanan, masalah kemacetan lalulintas, pembangunan kota-kota kecil yang sporadis sehingga menimbulkan berbagai masalah baru se-perti banjir, arus lalu-lintas yang tidak terarah dan sebagainya.
Dalam dekade tahun 1980 hingga kini di Jabotabek sendiri telah berkembang sedemikian rupa kota-kota baru di atas lahan di atas 200 hektar. Dalam hal ini bisa disebutkan, Bumi Serpong Damai, seluas 6.000 Ha, Cikarang Baru 5.400 ha, Tigaraksa 3.000 ha, Lippo City 2.000 ha Royal Sentul 2.000 ha, Bekasi 2.000 seluas 2.000 ha, Bintaro Jaya 1.700 ha, Citraland City Surabaya 1.000 ha, Citraland Teluk Naga 1.000 ha, Gading Serpong 1.000 ha, Pantai Indah Kapuk 800 ha, Modernland 770 ha, dan Lippo City 500 ha.
Pembangunan permukiman dalam beberapa tahun terakhir ini, merupakan salah satu jawaban yang diberikan dunia usaha swasta untuk mengantisipasi berbagai masalah yang ditimbulkan oleh laju pertambahan penduduk kota besar yang demikian pesat, serta pem-bangunan perumahan yang sporadis yang juga berbagai dampak buruk yang ditimbulkannya.
Dari beberapa uraian singkat di atas, beberapa upaya pemecahan masalah bisa ditempuh antara lain menyangkut masalah :
1. Izin lokasi yang diberikan skala luas namun tidak diikuti dengan kemampuan membebaskan dan membangun dapat diberikan pinalti luas lahan yang boleh dikuasai pada perpanjangan izin berikutnya diikuti dengan pengetatan toleransi batas waktu membangun lahan yang diberikan izinnya.
2. Tenaga Kerja yang langka pada periode tertentu diketahui sulit memperoleh tenaga kerja harian terutama pada saat pengembang besar mulai melakukan pemba-ngunan besar-besaran. Karena itu selayaknyalah bila pengembang besar memilki balai latihan guna mendidik dan meningkatkan pengetahuan para tenaga kerja. Sehingga setiap Kota Baru menciptakan satuan besar tenaga terampil.
3. Bahan Bangunan, pengembangpengembang skala besar harusnya melengkapi rencana produksinya termasuk solusi pengadaan bahan bangunan Sehingga tidak harus berebut di pasaran dengan pengembang kecil. Dan tentunya akan lebih ideal lagi jika kerjasama Bapak Asuh antara pengembang besar dengan pengusaha-pengusaha kecil produsen beberapa jenis bahan bangunan dilembagakan sehingga keseimbangan supply and Demand bahan bangunan tetap terjaga.
4. Pembebasan tanah; kerjasama dengan instansi terkait terutama pada lokasi-iokasi yang akan diperuntukkan bagi pembangunan RS dan RSS sangat diperlukan. Kerjasama ini dalam upaya mengendalikan harga agar keterjangkauan harga rumah bagi masyarakat menengah ke bawah dapat terwujud.
Langkah-langkah lain yang barangkali sangat baik ditempuh untuk pembebasan tanah bagi rumah menengah atas dan ko-mersial dengan melakukan konsolidasi dengan pemilik tanah. Sehingga pemilik tanah memiliki pilihan-pilihan dalam memutuskan untuk melepaskan tanahnya.

KOTA BARU DAN PEMECAHAN MASALAH | ADP | 4.5