LANGUAGE (BAHASA) ADALAH

By On Wednesday, March 24th, 2021 Categories : Bikers Pintar

Aspek sentral dan marginal.

Language (bahasa) adalah Implikasi dari subjek ini sangatlah luas dan bervariasi sehingga bahasa dapat dikatakan merupakan aspek sentral dan marginal bagi pemikiran so­sial modern. Ia merupakan aspek sentral ketika konsep hakikat bahasa dan bahasa itu sendiri telah memberikan gagasan pen­ting—atau setidaknya metafora penting­bagi pemikiran tentang sifat dari masyara­kat. (Ide bahwa “masyarakat itu seperti bahasa” menarik banyak orang.) Ia adalah aspek marginal karena sosiologi bahasa, sebagal subdisiplin dalam sosiologi, Socio­LINGulsfics, sebagai subdisiplin linguistik, jarang menjadi perhatian utama dari sosi­olog atau ahli linguistik profesional.

Studi linguistik.

Dari para pemikir sosial terkemuka abad ke-20, hanya satu yang punya pendidikan yang mendalam di bidang studi linguistik, Antonio Gramsci (1891-1937). Ferruccio Lo Piparo (1979) berpendapat bahwa konsep HEGEMONY Gramsci yang amat berpe­ngaruh sebagian besar dilandaskan pa­da pemahaman yang diterimanya saat menjadi mahasiswa sejarah perkem­bangan bahasa nasional Italia. Linguis­tik yang dipelajari Gra msci bersifat his­toris dan idealis. Studi ini menekankan peran aktif dari individu—misalnya, penulis kreatif—dalam membentuk 3. perkembangan bahasa, namun juga mengakui bahwa hegemoni bahasa Italia “standar” sebagai bahasa pemer­satu Italia adalah hasil dari tindakan kolektif, konflik, dan pelaksanaan ke­kuatan politik. Gramsci sendiri, saat di penjara, menulis tentang “persoalan bahasa”. Yang lebih kerap disebut-sebut adalah pengaruh dari STRUCTURALISM dalam linguistik terhadap perkembangan pe­mikiran sosial dan kaitannya dengan arus utama teori sosial sekarang ini. Karya bapak pendiri linguistik struk­turalis, Ferdinand de Saussure, Course in General Linguistic yang terbit setelah dia meninggal pertama kali pada 1916 (lihat juga Culler, 1976), tidak bisa di­katakan bebas dari kosakata teori so­sial. Karya itu penuh dengan kosakata itu, dan muncul banyak perdebatan tentang apakah Saussure memperoleh kosakata tersebut (atau konsepnya) dari The Rule of the Sociological Me­thod karya Durkheim (1895). Apa pun sumber dari ide Saussure, adalah benar bahwa dalam periode setelah 1945 dia dan ahli linguistik struktural lainnya (terutama Roman Jakobson [1895- 19821) memberi konsep struktur dan konvensi kepada antropolog dan sosi­olog, dan juga memberikan perbedaan yang lebih jelas ketimbang konsep perbedaan antara proses dan praktik historis (diakronik) dengan struktural (sinkronik). Pada 1960-an dan 1970- an muncul pemikiran umum bahwa masyarakat distrukturisasikan seperti bahasa dan bahwa semua tindakan sosial adalah seperti pembicaraan yang, seperti halnya struktur sosial, di­lakukan dalam kerangka yang sesuai dengan aturan—semisal tata bahasa. Untuk diskusi kritis, lihat Giddens (1979). Untuk analisis filosofis atas konsep konvensi, lihat On Social Facts karya Margaret Gilbert (1989). Ada interseksi antara perhatian Noam Chomsky terhadap aspek sifat manu­sia—yang berbeda dengan konvensi­sebagai pembentuk bahasa yang kita pakai, dengan teori sosial anarkis. Sehagai seorang linguis, Chomsky—yang juga seorang anarkis—menggambar­kan sifat mantisia sebagai sumber ke­tertiban dan kekacauan linguistik. Ini dikarenakan manusia merniliki waris­an biologis yang kaya dan mirip se­hingga bahasa mereka juga mirip—se­hingga sifat adalah sumber ketertiban, seperti dikemukakan oleh ANARCHISM positif. Tetapi, sifat juga merupakan sumber kekacauan, seperti dalam pan­dangan anarkisme pesimis. Sebab, de­ngan penjelasan sistem tata bahasa universal yang memadai, adalah benar bahwa input bahasa yang terbatas su­dah mencukupi bagi perkembangan kompetensi linguistik individual yang kompleks, dan juga benar bahwa per­ubahan kecil dalam input dapat me­nyebabkan, setidaknya secara super­fisial, perubahan radikal dalam hasil sistem bahasanya. Pandangan ini pada dasarnya sama dengan pendapat yang dimunculkan dalam kerangka teori chaos atau teori bencana, yakni oleh teori perubahan diskontinu yang bera­kar dalam problem meteorologis men­genai peramalan cuaca jangka panjang (meski anteseden historisnya adalah debat antara penganut teori bencana dengan teori uniforrnitarian di dalam geologi abad ke-19). Untuk tema ke­tertiban dan kekacauan dalam bahasa, lihat Chomsky (1986) dan Bickerton (1981); ide ini diambil dan diaplikasi­kan dalam teori ideologi oleh Pateman (1987).

Pragmatik linguistik. Language (bahasa) adalah

Di antara teoretisi kontemporer, ada­lah Jurgen Habermas yang paling kon­sisten dalam membahas bahasa sebagai jalan utarna ke pemahaman sosial. Dia melihat pada pragmatik linguistik—se­perti yang dikembangkan oleh J. L. Austin dan John Searle (1969)—se­bagai sumber utama untuk konsep yang mengandung aspek empiris dan transendental atau semi-transendental. Pada level empiris, pragmatik linguistik memberikan kerangka analitis yang lebih baik untuk menganalisis semua bentuk komunikasi sosial ketimbang teorisasi kebebasan bersyarat di da­lam tradisi semiologi dan semiotika pasca-Saussurean. Pada level filsafat, pragmatik dapat memberikan penjelasan tentang kondisi masyarakat secara umum dan kritik terhadap tindakan yang melemahkan kemungkinan ke­hidupan sosial. Karena semua pem­bicaraan mengklaim kebenaran, maka kebenaran dan legitimasi tanpa bahasa tidak akan bisa dipakai sebagai alat komunikasi. Language (bahasa) adalah Dalam situasi atau saat tertentu, klaim itu mungkin tidak se­suai kenyataan, seperti saat kita salah; saat kita menipu; saat kita tidak punya hak untuk melakukan apa yang ingin kita lakukan. Akan tetapi, hal seperti itu terjadi dalam konteks pengandai­an kebenaran, keadaan sesungguhnya, dan legitimasi. Di abad ke-19 dan awal abad ke-20 idealis Amerika (terutama Josiah Royce) telah mengartikulasikan kemungkinan memberikan pemikiran sosial berdasarkan pemahaman tentang cara di mana bahasa dipakai untuk menghubungkan orang dengan orang lain. Dan ini dikembangkan lebih lanjut di Jerman sebagai doktrin “Sosialisme Logis”. Karya Habermas, karenanya, memodernisasikan penjelasan lama ini, dengan menggunakan teori filsafat ana­litis dan linguistik yang lebih canggih. Mengenai sosiologi bahasa, bisa di­katakan bahwa kebanyakan karya dalam bidang ini adalah tidak menarik secara metodologis, sebab hanya menjelaskan dis­tribusi bahasa (seperti perkembangan ba­hasa Inggris sebagai bahasa internasional) sebagai hasil dari faktor ekonomi, politik dan kultural. Tapi, ada karya tentang pen­ciptaan atau tentang kebangkitan kembali bahasa sebagai elemen identitas nasional­seperti Gaelic Irlandia, Hebrew, atau Tok Pisin di New Guinea. Karya yang lebih me­narik secara sosiologis adalah karya ten­tang bagaimana kebijakan standarisasi dan penyusunan bahasa secara terpusat sering ditentang, misalnya dalaiii setting pendi­dikan. Ini menimbulkan kesadaran bahwa bahasa mengandung nilai “simbolis” dan nilai “rii1″—bahasa dapat dipakai sebagai tanda identitas atau sebagai alat komuni­kasi. Pendekatan seperti ini dikembangkan oleh Pierre Bourdieu di dalam kerangka teori kapital kulturalnya: lihat karyanya Language and Symbolic Potver (1991).

Sosiolinguistik. Language (bahasa) adalah

Beberapa karya dalam sosiolinguistik pada dasarnya memiliki perhatian yang serupa, meski menggunakan pendekatan metodologi yang berbeda. Di sini studi pembicaraan dalam situasi sosial mungkin mengungkapkan bagaimana gaya pembi­caraan bervariasi secara sistematis sesuai dengan setting sosial atau status sosial dari pembicara dan pendengar. Terkadang ini seperti refleksi “pasif” dari tindakan varia­bel sosial yang “independen”; terkadang ini seperti upaya aktif agen sosial untuk mendefinisikan dan merespons situasi so­sial. Language (bahasa) adalah Lihat studi sosiolinguistik William Labov (yang umumnya positivistik), The Social Stratification of Language Use in New York City (1966). Berdasarkan riset seperti itu, akan le­bih mudah untuk memahami beberapa kegagalan kebijakan pendidikan bahasa. Pembicara bahasa Inggris tidak semuanya berbicara dengan Received Pronunciation (RP) atau menulis dengan Standard Eng­lish, bukan karena mereka bodoh atau gurunya kurang kompeten, tetapi karena mereka aktif dalam mendefinisikan iden­titas sosial dan kultural mereka dan tidak ingin sama dengan orang lain. Manusia bukan makhluk kultural yang bodoh. Dan mereka bisa dalam berkomunikasi deng­an atau tanpa RP atau Standard Eng,lish. Banyak isu kompleks dalam area linguistik edukasional ini dikaji oleh Peter Trudgill, dimulai dengan Accent, Dialect and the School (1975). Meski banyak karya sosiolinguistik, termasuk karya Labov dan Trudgill, me­muat nada positivistik, dan karenanya diragukan oleh para pakar sosiologi teo­retis, ada beberapa karya nonpositivistik tentang interaksi linguistik dalam tradisi ETI INOMETI loDoLoGY, yang kebanyakan diilhami oleh karya Harvey Sacks (lihat Sacks, 1992). Karya ini bertujuan untuk mengungkap dan menjelaskan secara for­mal kaidah sinkronik yang mengatur inter­aksi dalam suatu domain, misalnya dalam pembicaraan telepon (lihat juga CONVERSA­TION ANALYSIS). Jadi di sini ada hubungan dengan tradisi analisis strukturalis, meski­pun pakar etnometodologi umumnya le­bih menekankan pada kesementaraan in­teraksi sosial. Ini juga merupakan motif dominan dalam “dialogisme” Mikhail Ba­kuni (1895-1975) yang amat berpengaruh dan dalam pemikiran linguistik Valentin Volosinov (1895-1936) (untuk pengantar lihat Holquist, 1990; Morson dan Emer­son, 1990; Volosinov, 1929). Bukan di sini tempatnya untuk membahas dialogisme, karenanya untuk topik ini lihat Pateman (1989).

LANGUAGE (BAHASA) ADALAH | ADP | 4.5