MAKNA KEDUDUKAN

649 views

Menurut Koentjaraningrat, dalam suatu institusi, individu-individu yang menjalankannya selalu menempati kedudukan-kedudukan tertentu. Pernyataan di atas kelihatannya cukup beralasan, oleh karena secara konkrit yang menjalankan fungsi dari institusi adalah seseorang atau beberapa orang yang disebut sebagai fungsionaris, yaitu warga masyarakat yang telah menerima delegasi untuk melakukan pengaturan terhadap pola-pola perilaku dalam rangka memenuhi kebutuhan. Pada hakekatnya para fungsionaris itu terhimpun dalam suatu badan organisasi yang dinamakan assosiasi.

Kedudukan pada dasarnya merupakan suatu kompleks dari kewajiban-kewajiban dan yang mengandung hak-hak bagi fungsionaris yang menempatinya. Ditinjau dari sudut tertentu, kedudukan adalah posisi seseorang atau sekelompok orang dalam suatu kelompok sosial (organisasi-kumunitas) sehubungan dengan orang-orang lain dalam kelompok itu. Seseorang dapat memperoleh kedudukan tertentu melalui cara tertentu pula. Dalam hal ini terdapat dua cara, yaitu pertama, kedudukan yang didapat secara otomatis, yang disebut dengan ascribe^-status. Kedudukan ini didapat pada saat ia dilahirkan atau sesudahnya tanpa si individu bersangkutan berusaha untuk memperolehnya. Melalui pengakuan masyarakat, seseorang secara otomatis memperoleh kedudukan tertentu, seperti golongan umur, jenis kelamin, dewasa, dan lain-lain; kedua, kedudukan yang diperoleh melalui hasil usaha atau minimal setelah ia menjatuhkan pilihannya. Kedudukan yang tergolong ma-cam ini adalah misalnya, dokter, pengacara, petani, vguru, dan sebagainya.

Soeijono Soekanto menambahkan satu macam dari dua cara tersebut, yaitu assigned-status, yaitu kedudukan yang diberikan, dalam arti bahwa suatu kelompok atau golongan memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada seseorang. Kedudukan macam apa yang dimiliki seseorang atau kedudukan macam apa yang melekat padanya, seringkah dapat dilihat pada kehidupan sehari-hari melalui ciri-ciri tertentu, yang didalam sosiologi dinamakan status simbol Ciri-ciri tersebut seolah-olah sudah menjadi bagian dari hidupnya orang tersebut atau dapat dikatakan telah “institutionalized” atau bahkan “internalized”. 38 . Ronald Freedman at.al, mengemukakan bahwa adalah menyenangkan kalau seseorang itu diketahui sebagai seorang yang mempunyai status yang tinggi. Macam-macam kebudayaan mempermudah usaha untuk memuaskan keinginan ini. Biasanya, dalam masyarakat dengan sistem kias, paling tidak telah cukup terkristalisasikan alat-alat yang digunakan dengan mana kedudukan kelas dapat disimbolkan. Tetapi mengenai cara bagaimana kedudukan dapat dipamerkan, berlainan antara masyarakat. Di dalam sementara suku yang masih primitif, para bangsawan menunjukkan kedudukannya dengan cacahan pada tubuh, yang sengaja dibuat. Penggunaan benda-benda sebagai simbol kedudukan telah dipakai secara umum. Perhiasan-perhiasan seperti cincin dan kalung, pakaian-pakaian dengan warna dan bentuk khusus, ikat kepala, benda-benda tertentu lainnya, mempunyai fungsi yang pada dasarnya sama ialah untuk memamerkan kepada orang-orang sekitarnya kedudukan yang relatif mulia yang ditempatinya. Di dalam kenyataan, tidak terbatas hanya pada benda-benda, tetapi juga kata-kata bisa dipergunakan sebagai simbol kedudukan. Dalam ma-syarakat yang mempunyai kelas bangsawan.kedudukan bangsawan dinyatakan dengan gelar-gelar. Di Eropa misalnya, ada gelar seperti Baron, Lord. Di dalam masyarakat di mana status sosial dibedakan dengan jelas dalam hubungannya dengan jabatan-jabatan pekerjaan, berbagai gelar pekerjaan biasa digunakan juga jabatan. Kebudayaan kita memberi beberapa contoh, seperti (seolah-olah ada keharusan untuk menyebut) seorang dokter dengan sebutan dokter.

Apa yang dilukiskan oleh Ronald Freedman tersebut tadi, dapat pula ditemui pada masyarakat kita. Pada masyarakat-masyarakat tertentu, kita dapat melihat adanya gelar-gelar yang digunakan, seperti pada masyarakat di Sulawesi Selatan (Andi; Daeng) dan di Jawa Barat (Tubagus) dan gelar pekerjaan atau jabatan telah pula digunakan, seperti untuk seorang dokter disebut dengan dokter.

Koentjaraningrat menyatakan bahwa “adapun segala cara berlaku dari individu-individu untuk memenuhi kewajiban dan untuk mendapatkan hak-hak tadi, merupakan aspek dinamis dari status atau kedudukan. Cara-cara berlaku itu disebut peranan, yang dalam bahasa asingnya disebut role. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa peranan itu merupakan bagian integral dari kedudukan atau status.

1) telah ditentukan peranan-peranan sosial yang musti dimainkan oleh seseorang yang menduduki suatu status.

2) dapat diramalkan tingkah laku individu-individu di dalam mengikuti pola yang dibenarkan sesuai dengan peranannya masing-masing sewaktu mereka berintegrasi.

Dengan mendasarkan pada deskripsi ini, maka dapat dinyatakan bahwa dalam konsep peranan itu terkandung harapan-harapan tertentu, yaitu harapan agar menjalankan kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan peranan yang dipegangnya. Dalam hal ini terdapat dua macam harapan, yaitu:

1) harapan-harapan dari masyarakat terhadap pemegang peranan atau kewajiban-kewajiban dari pemegang peran,

2) harapan-harapan yang dimiliki oleh si pemegang peran terhadap masyarakat atau terhadap orang- orang yang berhubungan dengannya dalam men-jalankan peranannya atau kewajiban-kewajiban nyg.

Oleh karena di dalam peranan terkandung harapan, Gross, Mason dan McEachern mendefinisikan peranan sebagai “perangkat harapan-harapan yang dikenakan terhadap individu-individu yang menempati kedudukan sosial tertentu”, tetapi Ralph Turner memberikan pendekatan yang lain, yaitu melihat peranan lebih sebagai suatu proses dari pengambilan peran (role-taking) daripada suatu yang sudah disusun sebagai serangkaian harapan-harapan.

Sehubungan dengan konsep peranan sebagai harapan, Ralf Dahrendorf membedakan tiga macam harapan yang melekat pada peranan-peranan sosial, yaitu (1) harapan wajib (must expectation), (2) harapan yang seharusnya (shall expectation) dan (3) harapan yang dimungkinkan (can-ecpectation).

Individu di dalam masyarakat yang memainkan bermacam-macam peranan sosial, dikenai oleh seperangkat harapan pada masing-masing peranan tersebut dan kemungkinan besar harapan-harapan tersebut tidak serasi satu sama lain atau bahkan bertentangan. Untuk memberikan kejelasan; misalnya antara khidupan keluarga dengan pekerjaan dinas – di mana seorang suami dan juga seorang pegawai, diharuskan oleh departemennya untuk melakukan perjalanan dinas dan bersamaan dengan itu salah satu anggota keluarganya dalam keadaan sakit. Dalam kondisi demikian ini terdapat ketidak serasian peranan dan bahkan bertentangan. Di sini telah terjadi apa yang dinamakan “konflik peranan.” Apabila melakukan perjalanan dinas dapat berarti melepaskan peranan sebagai kepala rumah tangga dan ini bertentangan dengan harapan; tetapi bila tidak melakukan perjalanan dinas, memberi kesan yang berlawanan dengan peranan (harapan) sebagai pegawai suatu departemen. Konflik peranan menggambarkan suatu keadaan di mana individu-individu dihadapkan kepada harapan-harapan yang berlawanan dari bermacam-macam peran yang dimilikinya.

Incoming search terms:

  • pengertian kedudukan
  • kedudukan adalah
  • Arti kedudukan
  • apa itu kedudukan
  • definisi kedudukan
  • apa yang dimaksud dengan kedudukan
  • makna kedudukan
  • arti dari kedudukan
  • apa yang dimaksud kedudukan
  • Apa arti kedudukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *