MAKNA – PENGERTIAN INFLASI

By On Wednesday, September 30th, 2015 Categories : Bikers Pintar

Presiden R.I. (1996) dalam Keterangan Pemerintah tentang Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 1996/ 1997, antara lain menegaskan bahwa tantangan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia dewasa ini adalah adanya pemanasan ekonomi yang berlebih. Ada dua gejalanya, yang pertama adalah, telah tiga tahun berturut-turut laju inflasi berada jauh di atas 5%, di atas sasaran REPELITA VI. Bahkan di atas laju inflasi negara-negara teiangga Indonesia. Yang kedua adalah, meningkatnya defisit transaksi berjalan pada tahun 1995/1996, yang jauh lebih tinggi dari perkiraan semula.
Karena itu (Presiden Rl, 1996), dalam tahun 1996, laju inflasi harus lebih dikendalikan. Pemerintah telah mulai melancarkan kebijakan serempak dan serasi di sektor fiskal dan moneter serta di sektor-sektor rill.
Lembaga yang sangat berperan dalam pengenaalian inflasi di Indonesia adalah Bank Sentral, yang didirikan berdasarkan UndangUndang No. 13 Tahun 1968. Tulisan ini dimaksudkan sebagai kajian yuridis ekonomis, yaitu menyampaikan bahasan tentang fungsi Bank Sentral sebagai lembaga pengendali inflasi serta fungsi lain yang terkait dengan upaya mendorong kelancaran produksi dan pembangunan bangsa secara keseluruhan. Bahasannya dilakukan secara diskriptif kualitatif.

PENGERTIAN INFLASI
Boediono (1994) merumuskan secara singkat, bahwa inflasi adalah kecenderungan dari hargaharga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja, tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain. Kenaikan harga-harga karena, misalnya, menjelang hari-hari besar, atau yang terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan) tidak disebut inflasi. Kenaikan harga semacam ini tidak dianggap sebagai masalah ekonomi, dan tidak memerlukan kebijakan khusus untuk menanggulanginya.
Sukirno (1995) memberikan pengertian tentang tingkat inflasi, sebagai persentasi kecepatan kenaikan harga-harga dalam satu tahun tertentu, biasanya digunakan sebagai ukuran untuk menunjukkan sampai di mana buruknya masalah ekonomi yang dihadapi. Dalam perekonomian yang berkembang pesat, inflasi yang rendah tingkatnya, biasanya tidak dapat dielakkan. Pada waktu peperangan atau ketidakstabilan politik, inflasi dapat mencapai beberapa ratus atau beberapa ribu persen.
Menurut Boediono (1994), perkataan kecenderungan dalam definisi inflasi perlu digaris-bawahi. Kalau seandainya harga-harga dari sebagian besar barang diatur atau ditentukan oleh pemerintah, maka harga-harga yang dicatat oleh Biro Pusat Statistik mungkin tidak menunjukkan kenaikan apapun (karena yang dicatat adalah hargaharga resmi pemerintah). Tetapi mungkin dalam realita ada kecenderungan bagi harga-harga untuk terus menaik. Keadaan seperti ini tercermin dari, misalnya, adanya harga-harga bebas atau hargaharga tidak resmi yang lebih tinggi daripada harga-harga resmi dan yang cenderung menaik. Dalam hal ini, masalah inflasi sebetulnya ada, tetapi tidak diperkenalkan untuk menunjukkan dirinya. Keadaan seperti ini disebut suppressed inflation atau inflasi yang ditutupi, yang pada suatu waktu akan timbul dan menunjukkan dirinya karena harga-harga resmi makin tidak relevan bagi kenyataan. Untuk mengetahui tinggi rendahnya kenaikan harga atau laju kecepatan inflasi, sering digunakan indeks harga. Yang paling banyak digunakan adalah Indeks Biaya Hidup, yang mencakup 62 macam barang, dan sudah diperbaiki lagi menjadi Indeks Harga Konsumen (IHK), yang meliputi 150 macam barang. Untuk meneliti laju inflasi, biasanya barang-barang kelompok sandang, kelompok perumahan dan kelompok Iain-Iain (Suparmoko, 1990).

MACAM INFLASI
Penggolongan macam inflasi, dapat dilakukan melalui beberapa cara, sesuai dengan kebutuhannya. Boediono (1994) mengelompokkan ke dalapn tiga pendekatan, yaitu dari (1)’ tingkat keparahann^a, (2) sebab musababnya/dan (3) urutan dari kenaikan harga*
Penggolongan pertama didasarfcan atas parah tidaknya inflasi tersebut. Di sini dibedakan beberapa macam inflasi, yaitu :
1. Inflasi ringan (di bawah 10% setahun)
2. Inflasi sedang (antara 10-30% setahun)
3. Inflasi berat (antara 30-100% setahun)
4. Hiperinflasi (di atas 100% setahun).
Penentuan parah tidaknya inflasi, tentu saja sangat relatif dan tergantung pada selera untuk menamakannya. Di samping itu, tidak dapat ditentukan parah tidaknya suatu inflasi, hanya dari sudut laju inflasi saja, tanpa mempertimbangkan kelompok masyarakat yang menanggung beban, dan yang memperoleh keuntungan dari inflasi tersebut. Misalnya, laju inflasi sebesar 20% dan semuanya berasal dari kenaikan barangbarang yang dibeli oleh golongan yang berpenghasilan rendah, maka seharusnya dinamakan inflasi yang parah.
Penggolongan yang kedua adalah atas dasar sebab musabab awal dari inflasi. Atas dasar ini, dibedakan dua macam inflasi, yaitu :
1. Inflasi yang timbul karena permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat. Inflasi semacam ini disebut demand inflation (inflasi permintaan).
2. Inflasi yang timbul karena kenaikan ongkos produksi. Inflasi ini disebut cost inflation (inflation penawaran).

Akibat dari dua macam inflasi tersebut, dari segi kenaikan harga output, tidak berbeda, tetapi dari segi volume output (GDP riil) ada perbedaan. Dalam kasus demand inflation, biasanya ada kecenderungan untuk output (GDP riil) menaik bersama-sama dengan kenaikan harga umum. Besar kecilnya kenaikan output ini tergantung dari elastisitas kurva aggregate supply; biasanya semakin mendekati output maksimum semakin tidak elastis kurva tersebut. Sebaliknya, dalam kasus cost inflation, biasanya kenaikan harga-harga dibarengi dengan penurunan omzet penjualan barang (kelesuan usaha).
Perbedaan yang lain dari kedua proses inflasi tersebut, terletak pada urutan kenaikan harga. Dalam demand inflation, kenaikan harga barang akhir (output) mendahului kenaikan barang-barang input dan harga-harga faktor produksi (upah dan sebagainya). Sebaliknya, dalam cost inflation, kenaikan harga barang-barang akhir (output) mengikuti kenaikan harga barang-barang input/faktor produksi.
Kedua macam inflasi tersebut, jarang dijumpai dalam praktek dalam bentuk yang murni. Pada umumnya, inflasi yang terjadi di berbagai negara di dunia, merupakan kombinasi dari kedua macam inflasi tersebut, dan seringkali keduanya saling memperkuat satu sama lain.
Penggolongan yang ketiga adalah berdasarkan asal dari inflasi. Di sini dibedakan :
1. Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation).
2. Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation).
Inflasi yang berasal dari dalam negeri timbul misalnya karena defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan pencetakan uang baru, dan sebagainya. Inflasi yang berasal dari luar negeri, timbul karena atau di negara-negara langganan berdagang negara Indonesia. Kenaikan harga barangbarang yang diimpor, mengakibatkan (1) secara langsung kenaikan indeks biaya hidup, karena sebagian dari barang-barang yang tercakup di dalamnya berasal dari impor, (2) secara tidak langsung menaikkan indeks harga melalui kenaikan ongkos produksi (dan kemudian, harga jual) dari berbagai barang yang menggunakan bahan mentah atau mesin-mesin yang harsu diimpor (cost inflation), (3) secara tidak langsung menimbulkan kenaikan harga di dajam negeri, karena ada kemungkinan (tetapi ini tidak harus demikian) kenaikan harga barang-barang impor mengakibatkan kenaikan pengeluaran pemerintah/swasta yang berupaya mengimbangi kenaikan harga impor tersebut (demand inflation).
Penularan inflasi dari luar negeri ke dalam negeri, dapat pula lewat kenaikan harga barang-barang ekspor, dan saluran-salurannya hanya sedikit berbeda dengan penularan lewat kenaikan harga barang-barang impor. (1) Bila harga barang-barang ekspor (seperti kopi, teh) naik, maka indeks biaya hidup akan naik pula, sebab barang-barang ini langsung masuk dalam daftar barang-barang yang tercakup dalam indeks harga. (2) Bila harga barang-barang ekspor (seperti kayu, karet, timah dan sebagainya) naik, maka ongkos produksi dari barang-barang yang menggunakan barang-barang tersebut dalam produksinya (perumahan, sepatu, kaleng dan sebagainya) akan naik, dan kemudian harga jualnya akan naik pula (cost inflation). (3) Kenaikan harga barang-barang ekspor berarti kenaikan penghasilan eksportir (dan juga para produsen barang-barang ekspor tersebut). Kenaikan peng-hasilan ini, kemudian akan dibelanjakan untuk membeli barangbarang (baik dalam maupun luar negeri). Bila jumlah barang yang tersedia di pasar tidak bertambah, maka harga-harga barang lain akan naik pula (demand inflation).
Penularan inflasi dari luar negeri ke dalam negeri, jelas lebih mudah terjadi pada negara-negara yang perekonomiannya terbuka, yaitu yang sektor perdagangan luar negerinya penting (seperti Indonesia, Korea, Taiwan, Singapura, Ma-laysia dan sebagainya). Namun seberapa jauh penularan tersebut terjadi juga tergantung pada kebijakan pemerintah yang diambil. Dengan kebijakan-kebijakan fiskal dan moneter tertentu, pemerintah dapat menetralisasi kecenderungan inflasi yang berasal dari luar negeri.

MAKNA – PENGERTIAN INFLASI | ADP | 4.5