MASALAH PEMBINAAN PEDAGANG KECIL

By On Tuesday, July 28th, 2015 Categories : Bikers Pintar

Timbulnya pedagang kecil/lemah karena terutama perkembangan perekonomian, mereka tegak berdiri atas kemauan serta inisiatif pribadi, untuk memperoleh pendapatan/penghasilan untuk membiayai kebutuhan hidupnya.  Pembinaan pada para pedagang kecil terutama pada masalah menagement dan masalah pengelolaan keuangan. Ada kekurangan ketrampilan dasar yang diperlukan untuk mengelola suatu usaha agar berhasil. Untuk perusahaan kecil dapat dikatakan kekurangan “Know How” usaha, engan istilah lain ialah masalah management. Tidak adanya pengetahuan “Know How” yang mendasar ini menyebabkan jika kesulitan keuangan pihak bank tidak menyediakan kredit kecil/KUK pedagang kecil.

Para pedagang kecil kenyataannya, bahwa masalah paling besar yang dihadapi adalah masalah keuangan, tentang kurangnya modal tetap dan modal kerja. Masalah lain, banyak sekali pedagang kecil yang tidak mempunyai catatan administrasi- mengenai pengeluaran dan penerimaan uang, tidak membedakan pengeluaran sifatnya pribadi dan pengeluaran uang untuk perusahaan serta tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai laba/rugi yang akan diterima. Karena adanya kedua kelemahan pengusaha kecil di atas perlu pembinaan dari berbagai golongan/organisasi khusus yang memberi pembinaan pada para pengusaha kecil :

  1. HIPPI : Himpunan Pengusaha Pribumi
  2. HIPMI : Himpunan Pengusaha Muda Indonesia
  3. KUKMI : Kerukunan Usaha Kecil & Menengah Indonesia
  4. HIPLI : Himpunan Pengusaha Lemah
  5. HIKSI : Himpunan Industri Kecil Seluruh Indonesia
  6. GENSI : Gabungan Pengecer Seluruh Indonesia

Pemerintah harus memberikan pembinaan, agar para pedagang kecil ini dapat mengembangkan usahanya, pedagang kecil yang semula menjual sayuran dengan kereta dorong, dibina menjadi pengusaha menengah.

Dalam pembinaan ini banyak kendala- kendala yang dihadapi oleh pemerintah maupun oleh pedagang kecil itu sendiri. Kendala-kendala yang dihadapi oleh pemerintah :

– Tempat-tempat usaha sehingga ketertiban sering terganggu.

– Arus lalu lintas kendaraan semakin padat, sehingga adanya para pedagang kecil di sisi/ pinggiran jalan mengganggu lalu lintas.

– Perkembangan pembangunan tempat usaha tidak bisa mengimbangi perkembangan jumlah pedagang kecil yang harus dibina.

 

Di lain pihak kendala-kendala yang dihadapi oleh pedagang kecil itu sendiri ialah

– Modalnya relatif kecil, sehingga sering menjadi mangsa para rentenir.

– Usaha yang mereka jalankan merupakan mata pencaharian pokok, mereka sulit mengalihkan ke bidang usaha lain.

– Setiap saat mereka kena gusur atau penutupan dari Pemda.

– Barang-barang mereka tidak aman terhadap polisi dan sebab-sebab lainnya seperti : hujan, panas, debu, becek, angin dan lain-lainnya.

– Golongan mereka belum mempunyai organisasi yang mantap untuk berbuat banyak dalam memperjuangkan kepentingannya.

– Di lokasi pasar yang mereka tempati biasanya telah dibangun pusat-pusat pembelanjan, toko serba ada, swalayan dan sebagainya.

– Penggusuran para pedagang menimbul-kan masalah baru, seperti lokasi pasar lain akan dipadati oleh kedatangan pedagang- pedagang yang kena gusur, munculnya pasar- pasar baru di beberapa tempat yang tidak semestinya untuk lokasi pasar.

Pemerintah DKI menghadapi masalah di atas telah merencanakan pemugaran lokasi pedagang kaki lima di bawah jembatan layang Kelender, diupayakan untuk memberi keleluasaan berdagang kepada kaki lima khusus menjelang Lebaran. Sebaiknya pertimbangan tidak terbatas hanya pada saat Lebaran saja, juga di Pasar Tanah Abang menjelang Lebarang tahun 1412 H Pemda DKI menyediakan tempat sebanyak 147 lapak untuk pedagang golongan ekonomi lemah (pegel), sebagai lokasi perdagangan dalam bulan puasa. Setelah bulan puasa, akan ada usaha-usaha pembinaan selanjutnya dari Pemda DKI untuk membantu golongan lemah ini. Begitu pula rencana tempat-tempat di bawah jalan kereta api layang dapat dimanfaatkan untuk para pedagang kecil/ lemah yang mereka tidak mampu menyewa ^ kios di pusat pembelanjaan.

Untuk mengurangi kemiskinan di kota besar seperti Jakarta pembinaan kegiatan pedagang ekonomi lemah selain dari pemerintah juga diharapkan dari para pengusaha kuat dan BUMN dengan cara-cara tertentu antara lain :

  1. Menyediakan kereta-kereta beroda 2 (dua) atau beroda 4 (empat), menyediakan

meja-meja yang praktis dan tenda-tenda, menyediakan gudang-gudang mini untuk penyimpanan barang dagangannya.

  1. Memberikan pendidikan/kursus-kursus, ceramah-ceramah dan penyuluhan praktis.
  2. Memberikan bantuan permodalan dengan menyediakan kredit kecil dengan persyaratan bunga yang murah/ringan dan mengembangkan sistim perdagangan konsinyasi.
  3. Sebagai supplier untuk menyediakan barang-barang yang dibutuhkan oleh pengusaha kecil dan menggunakan depot barang-barang.

Pembinaan oleh pengusaha kuat dalam bidang produksi, pemasaran barang dan jasa, pada ruang lingkup usaha pedagang kecil dapat dilakukan sendiri atau bekerja sama dengan perusahaan lain/pemerintah.

 

 

  1. Golongan pedagang lemah (PEGEL), khususnya golongan pedagang kecil, merupakan sebagian masyarakat yang jumlahnya sangat besar tersebar di mana- mana.
  2. Mereka dapat menyediakan barang-barang dengan harga murah dan dapat menjangkau seluruh pelosok, tanpa mereka yang biasa disebut sebagai sektor informal, ekonomi Indonesia akan mengalami kesulitan.
  3. Golongan ekonomi lemah di kota besar sering dijadikan sasaran pemerintah dengan dasar pertimbangan kepentingan ketertiban, keamanan, lalu lintas, kebersihan dan keasrian.
  4. Diadakan penggusuran-penggusuran tempat usaha golongan pedagang ekonomi lemah, akan sangat bijaksanan kalau dapat disediakan tempat penampungan yang memadai.
  5. Pengusaha golongan ekonomi kuat harus ikut membantu mengatasi masalah- masalah yang ditimbulkan oleh sektor informal dengan cara memberi pembinaan kepada golongan ekonomi lemah.
  6. Pembinaan golongan ekonomi lemah bertujuan, memberi perlindungan dan tempat yang layak, supaya menjalankan fungsinya dalam perekonomian.
  7. Pembinaan untuk meningkatkan ekonomi lemah menjadi barisan ekonomi kuat akan mengurangi kesenjangan sosial.
MASALAH PEMBINAAN PEDAGANG KECIL | ADP | 4.5