MELAWAN KANGKER DENGAN WORTEL

By On Saturday, July 18th, 2015 Categories : Bikers Pintar

Selama beberapa tahun terakhir ini beribu-ribu dolar biaya penelitian tentang kangker telah digunakan untuk menjawab pertanyaan yang agak menggelikan : Bagaimana mungkin si kecil c (carrots) dapat menghancurkan di besar C (Cancer) ? Mengherankan sekali, wabah kangker yang disebabkan karena merokok atau polusi lingkungan lainnya dapat diatasi dengan cara yang sederhana, mengunyah dan menelan tumbuhan yang berwarna jingga atau hijau tua setiap hari.

Sari wortel telah diuji terhadap manusia dan ternyata merupakan suatu antidotum yang potensial terhadap kangker. Yang berkhasiat disini adalah sekelompok senyawa kimia yang disebut karoten, atau karotenoid, yaitu pigmen utama yang terdapat pada sayur-sayuran berwarna jingga tua atau hijau tua (zat warna klorofil yang berwarna hijau menutupi warna jingganya).

Sebenarnya semua ini bukan dimulai dari wortel, tetapi dari hari (liver), yaitu dari suatu tipe vitamin A yang terdapat dalam hari. Vita-min A terdapat dalam dua bentuk : retinol yang berasal dari hewan, seperti hati dan susu, dan karoten tumbuhan yang diubah dalam tubuh menjadi retinol.

Penelitian-penelitian di berbagai negara menjumpai bahwa vitamin A dapat mengontrol diferensiasi sel, melindungi sel-sel epitel pada bagian dalam luar tubuh, kulit, paru, dan tenggorokan. Nampaknya vitamin A dapat bertindak sebagai pelindung terhadap kangker. Akan tetapi para ahli mendapatkan hal yang agak bertentangan. Penelitian pada hewan coba ternyata meragukan. Kadar vita-min A yang rendah dalam darah ternyata tidak secara konsisten berhubungan dengan tingginya resiko terkena Icangker. Kenyataan ini membuat teori hubungan vitamin A – kangker menjadi gugur.

Adalah Richard Peto dan kawan-kawan dari The Imperial Cancer Research Fund, Oxford, yang berhasil memecahkan dilemma ini. la mengatakan bahwa beta karoten – senyawa yang berubah menjadi vitamin A, dan bukan vitamin A yang terdapat dalam makanan yang berasal dari hewan – yang ternyata dapat menekan pertumbuhan kangker. Sayur-sayuran dan buah-buahan mengandung kira-kira 500 senyawa yang termasuk dalam golongan karotenoid, dimana kira-kira sepuluh persen, termasuk beta karoten, diubah dalam tubuh menjadi vitamin A yang terpakai. Dalam hubungan antara vitamin A – karotenoid, beta karoten merupakan superstar. Senyawa ini banyak terdapat dalam wortel, ubi merah (sweet potatoes), bayam, dan kale (sejenis kubis).

Bagaimana tepatnya beta karoten dapat melawan kangker dalam sel ? Mula-mula dianggap bahwa perubahan beta karoten menjadi Vitamin A membuat senyawa ini menjadi suatu antagonis kangker. Tetapi ternyata beta karoten, tidak seperti vitamin A yang biasa, merupakan suatu senyawa yang bersifat antioksidan. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa beta karoten mempunyai efek imunitas yang luas. Senyawa ini dapat merangsang produksi sel-sel T pembantu, fungsi vital yang melindungi tubuh terhadap beta karoten dapat melindungi sistem kardiovaskular, bertindak sebagai agen antiradang, dan bahkan dapat menunda proses penuaan.

Sebenarnya, hampir semua karotenoid merupakan antioksidan dengan kekuatan yang berbeda-beda. Dr. Krinsky misalnya, menguji canthaxanthin, suatu karotenoid yang tidak mempunyai aktivitas vitamin A sama sekali. Ternyata bahwa senyawa ini juga mempunyai efek mencegah pertumbuhan sel menjadi kangker pada binatang seperti halnya beta karoten.

Menurut Dr. Frederick Khachik dari United States Departement of Agriculture, beberapa tanaman yang dapat bersifat antikangker ternyata mengandung kadar karotenoid lain yang jauh lebih tinggi dari beta karoten. Semua tanaman ini mengandung karotenoid lutein yang sangat tinggi. Dr. Khachik menduga luteinlah, dan bukan beta karoten, yang berperan sebagai antikangker. Hal ini membuat para ahli menganggap bahwa efek antikangker ini tidak hanya disebabakan oleh beta karoten saja melainkan oleh kerjasama dari beratus-ratus antioksidan karotenoid yang belum diidentifikasi. Oleh Dr. Hans Stich hal semacam ini disebut sebagai cocktail effect, yang hingga kini belum diselidiki secara mendalam. Dan cocktail effect ini selalu terdapat dalam makanan yang kita korsumsi sehari-hari.

Selain wortel makanan yang juga banyak mengandung senyawa antikangker antara lain sayuran yang banyak mengandung serat, buah-buahan, padi-padian, polong-polongan, susu, jeruk, ikan, bawang, tomat, jagung, broccoli, labu, dan masih banyak lagi. Yang juga perlu diingat adalah bahwa daging dan makanan dengan kadar lemak yang tinggi dapat menyebabkan tubuh kita mudah terserang kangker.

Gerakan back to nature yang melanda Eropa sejak tahun 1970 ternyata tidak hanya terbatas pada tanaman obat-obatan saja, tetapi juga makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Kebiasaan memakan makanan yang diawetkan, yang semula dianggap lebih praktis, lama-kelamaan mulai ditinggalkan karena ternyata efek yang merugikan dari bahan tambahan makanan yang digunakan lebih besar dari manfaatnya. Bahan pengawat seperti BHA (Butylated hydroxyanisole) dan BHT (butylated hydroxytoluene) diperkirakan bersifat karsinogen, setidak-tidaknya dapat menjadi promotor kangker. Demikian juga zat pemanis sintetik sakarin dan beberapa pewarna makanan. Bahkan kini sedang menjadi polemik di antara para ahli mana yang iebih baik, mendapatkan vitamin dalam bentuk tablet atau langsung dari makanan. Suatu penelitian menyimpulkan bahwa lebih dari separuh tablet kalsium karbonat yang beredar di pasaran Amerika, ternyata tidak mudah dicerna.

Yang jelas, kelebihan pengobatan dengan makanan dibandingkan dengan obat-obatan adalah bahwa makanan, sejauh dikonsumsi secukupnya, tidak menyebabkan efek samping ataupun resistensi yang merugikan, yang sering dijumpai pada obat-obatan. Selain itu, bukankah memakan sepiring gado-gado lebih nikmat daripada menelan sebutir tablet vitamin ?

 

MELAWAN KANGKER DENGAN WORTEL | ADP | 4.5