MENEMUKAN DAN MEMPERGUNAKAN SALURAN PENGARUH SETEMPAT

16 views

Dalam merencanakan proyek yang meliputi perkenalan unsur-unsur kebudayaan baru, administrator proyek itu harus berusaha untuk mengetahui jaringan-jaringan pengaruh yang umumnya terdapat pada rakyat yang akan jadi sasaran proyeknya. Pada kebanyakan masyarakat sudah melembaga jaringan komunikasi tertentu dan ada tokoh-tokoh yang mempunyai prestise yang tinggi atau pengaruh, yang setiap hari dicari orang untuk memperoleh bimbingan dan petunjuk-petunjuk. Sangat penting untuk mengetahui jaringan pengaruh semacam itu, agar dapat menentukan dengan cara bagaimana program perubahan itu diperkenalkan di daerah tersebut. Selain dari itu berguna pula untuk mengetahui pada saat mana dan dalam keadaan bagaimana suatu saluran akan lebih berhasil untuk menyebarkan informasi tertentu.

Suatu contoh dalam mempergunakan saluran pengaruh setempat secara efektif, ialah, waktu beberapa tahun yang lalu timbul epidemi penyakit cacar di distrik Kalahandi di Orissa, India. Usaha dari petugas-petugas kesehatan untuk melakukan vaksinasi penduduk pedesaan, guna memberantas penyakit itu, selalu mengalami tantangan. Penduduk pedesaan curiga dan takut pada orang asing dengan alat-alatnya yang aneh itu, dan tidak mau menyediakan diri, dan terutama bayi-bayi mereka, untuk mengalami eksperimen ganjil yang hendak mereka laksanakan. Karena khawatir mengenai menjalarnya penyakit itu, penduduk minta bantuan kepada pendeta setempat, yang pendapatnya dalam hal-hal semacam itu dipercayai. Pendeta itu kemudian kerasukan, dan menerangkan bahwa penyakit itu disebabkan karena Dewa Thalerani murka pada rakyat. Dewa itu hanya bisa ditentramkan, katanya selanjutnya, jika diadakan pesta-pesta besar, persembahan-persembahan, dan bukti-bukti lain yang menunjukkan pemujaan rakyat kepadanya. Insaf sekarang bahwa pendeta itu adalah pemimpin utama dalam membentuk pendapat rakyat, paling tidak dalam soal-soal pengobatan, petugas-petugas kesehatan itu, yang selama ini menderita frustasi, mencoba agar pendeta itu dapat meyakinkan penduduk agar bersedia divaksinasi. Mulanya pendeta itu menolak untuk bekerja sama dengan orang-orang asing itu; tetapi waktu kemenakannya yang paling disayanginya jatuh sakit, karena putus asa, memutuskan untuk mencoba segala-galanya agar anak itu sembuh kembali. Maka pendeta itu kerasukan kembali, dan mengatakan kepada penduduk desa di situ bahwa Dewa Thalerani menghendaki, agar semua yang memujanya divaksinasi. Untung saja rakyatnya setuju, dan epidemi sebagian besar dapat dikuasai.20 Pelaksana-pelaksana proyek pembaruan sangat dianjurkan untuk mengenal dan bekerja melalui jaringan-jaringan pengaruh yang ada di antara penduduk di mana mereka bekerja.

Jika dipikirkan, bahwa mungkin besar sekali hambatan-hambatan dalam usaha mengubah keadaan masyarakat, dan mungkin banyak kesukaran yang timbul, dapat saja disebabkan oleh pelaksana-pelaksana pembaruan itu sendiri, bagaimanakah jadinya kebudayaan-kebudayaan sampai bersedia menerima pembaruan yang terencana? Dalam beberapa keadaan, kebanyakan dari anggota masyarakat itu sendirilah yang ingin mengadakan perubahan. Dalam hal demikian, keinginan penduduk setempat untuk menerima inovasi yang ditawarkan itulah merupakan dorongan yang paling kuat untuk mengadakan perubahan kebudayaan. Dalam situasi-situasi yang lain lagi, mungkin ada faktor-faktor kebudayaan, sosial atau psikologis tertentu yang menyokong perubahan, walaupun penduduk tidak secara aktif mencari perubahan itu. Tetapi, pada waktu ini, belum banyak yang diketahui mengapa masyarakat-masyarakat tertentu atau bagian-bagian tertentu dari masyarakat itu kelihatannya lebih bersedia menerima perubahan, dibandingkan dengan masyarakat-masyarakat lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *