MENENTUKAN KEUNTUNGAN-KEUNTUNGAN UMUM DARI PERUBAHAN BERENCANA

17 views

Persoalan pertama yang dihadapi oleh antropologi terapan dalam menghadapi proyek baru adalah cara bagaimana memutuskan apakah suatu perubahan yang direncanakan akan bermanfaat bagi penduduk yang hendak dicapai. Memang mengherankan juga bahwa keputusan ini sering sukar membuatnya. Agaknya, dalam beberapa hal yang mencakup kemajuan cara pengobatan, manfaat bagi penduduk sasaran tak perlu diragukan lagi. Kita semua merasakan bahwa keadaan sehat lebih baik daripada keadaan sakit, tapi ini pun barangkali tak selalu benar. Coba ambil suatu penemuan baru untuk memajukan kesehatan umum, seperti suntikan pencegahan penyakit. Sekalipun pasti akibatnya akan menguntungkan dengan turunnya angka kematian suatu penduduk, mungkin terjadi konsekuensi-konsekuensi yang tak diperhitungkan sebagai akibat penyusutan angka kematian yang mungkin pula menimbulkan kesulitan- kesulitan baru. Jika, setelah program pencacaran dimulai, jumlah anak-anak yang tertolong jiwanya meningkat tetapi angka rata-rata produksi pangan tidak dapat dinaikkan mengingat taraf dari tingkat teknologi, dan modal maupun sumber-sumber alam yang dimiliki oleh penduduk bersangkutan, maka angka rata-rata kematian pun dapat naik lagi ke tingkat semula, mungkin bahkan meningkat lebih tinggi lagi. Dalam kasus semacam itu program pencacaran hanyalah menggantikan satu sebab kematian yang lain, sekurang-kurangnya dalam jangka panjang. Yang utama sekali hendak ditunjukkan dalam contoh itu ialah bahwa program perubahan berencana itu, sungguhpun dapat membuahkan kebaikan-kebaikan dalam jangka pendek, namun perlu dipikirkan secara mendalam dan diadakan pemikiran penelitian mengenai akibat-akibatnya dalam jangka panjang. Persoalan yang paling penting dan paling sukar di antara persoalan dalam antropologi terapan ini ialah tuntutan untuk memperkirakan seluruh akibat yang mungkin timbul sebagai hasil dari salah satu program yang diusulkan itu.

Sebagai contoh dapat dilihat suatu program yang dicoba di sebuah kelompok masyarakat pedesaan di Afrika Barat. Dalam percobaan itu kelihatan bagaimana perawatan kesehatan malahan memburuk akibat cara pemeliharaan kesehatan asing diperkenalkan ke dalam satu kebudayaan tanpa mengikutsertakan adat kebiasaan lain yang erat berhubungan dengannya. Di dalam masyarakat tersebut para wanita selama hamil tetap saja melanjutkan .pekerjaan di kebun, sesuai dengan tradisi setempat. Kemudian, melalui suatu proyek untuk merawat kesehatan ibu menjelang kelahiran anaknya, para wanita yang hamil itu tidak diperkenankan lagi bekerja. Tapil karena para pelaksana program itu lalai, tidak memberikan petunjuk kepada ibu-ibu di Afrika itu agar membiasakan diri dengan latihan-latihan jasmani atau olahraga lainnya selama menghentikan kegiatan di ladang, para ibu di Afrika tadi sebenarnya kemungkinan kesehatannya terganggu dan bayinya lahir meninggal malahan meningkat. Dalam beberapa hal, bilamana sesuatu perubahan kebudayaan yang diusulkan dalam jangka panjang jelas-jelas akan menghasilkan akibat yang parah, para ahli antropologi dapat menentukan bahwa perubahan kebudayaan tersebut tidak berfaedah bagi penduduk bersangkutan, sungguhpun penduduk itu sendiri menginginkan perubahan itu dan oleh karena itu mereka menasehatkan agar program itu tidak dilaksanakan. Di Geizira, suatu daerah di Sudan, misalnya, produksi pertanian senantiasa rendah, disebabkan tidak adanya pengairan yang cukup. Maka, diusulkan suatu program pengairan secara besar-besaran supaya hasil pertanian meningkat. Program itu lalu dimulai, dan hasilnya pun benar-benar meningkat secara besar-besaran. Akan tetapi, dengan bertambah banyaknya air di daerah-daerah yang berdekatan dengan tempat tinggal penduduk dan karena penduduk semakin sering berhubungan dengan air maka terciptalah suatu kondisi yang mengancam kesehatan. Ada dikenal suatu penyakit yang disebabkan oleh parasit yang dinamakan bilharziasis yang jarang sampai berakibat fatal, tetapi sangat melemahkan para korban penyakit itu. Sebelum saluran-saluran irigasi dibangun, penyakit itu jarang sekali berjangkit di Sudan. Sesudahnya, kurang lebih 80 persen dari anak-anak penduduk setempat dijumpai menderita penyakit tersebut. Air yang bertambah banyak di daerah itu telah meningkatkan kemungkinan pembiakan organisme pembawa bilharziasis, sehingga makin banyak penduduk yang bekerja sekitar air tersebut, makin banyak pulalah korban yang terkena penyakit itu. Akhirnya diputuskan bahwa program pengairan pertanian itu terpaksa dihentikan sampai lingkaran penyakit itu dapat ditembus, yaitu dengan melenyapkan keong-keong pembawa penyakit itu.

Untuk dapat menentukan manfaat secara menyeluruh dari perubahan terencana, maka penting sekali untuk memahami berbagai segi yang sangat mendasar dari kebudayaan masyarakat setempat yang kemungkinan besar akan mengalami pengaruh dari program tersebut. Biasanya kota-kotalah yang pertama-tama memperlihatkan akibat perubahan, karena lapisan sosial yang lebih tinggi dari penduduk sasaran sering kali- yang lebih dahulu menerima teknologi baru serta gagasan-gagasan baru. Perubahan-perubahan menampakkan diri dalam organisasi rumah tangga, sebab basis ekonomi dari sumber penghasilan berubah melalui proses-proses teknologi yang baru. Pada umumnya, di tempat-tempat di mana ikatan tradisional itu demikian ketat dalam keluarga (extended family), maka sebagai akibat perubahan ikatan-ikatan kelompok keluarga cenderung melemah. Bila tanaman-tanaman dagang dimasukkan ke dalam satu lingkungan masyarakat yang masih menggunakan teknologi sederhana, dan uang menjadi penting sekali dalam kehidupan masyarakat, maka pola-pola kerja kooperatif tradisional di pedesaan juga ikut berubah. Di Haiti dan di daerah-daerah di Afrika Barat misalnya, pekerjaan di ladang-ladang secara tradisional dilakukan oleh sejumlah besar buruh tani, dan selama mereka bekerja mereka dihibur oleh kelompok-kelompok penyanyi dan penabuh tambur. Musik yang mengiringi itu berperan membantu meningkatkan daya kerja buruh petani yang sedang bekerja tersebut, dan sekaligus merupakan alat ekspresi perasaan sosial masyarakat. Akan tetapi, begitu uang mulai masuk di masyarakat itu, dan para tuan tanah membayar setiap buruh tani yang bekerja di ladangnya, para pemusik itu pun menghilanglah, dan lenyaplah tradisi kerja yang telah bertahan lama itu.

Kebiasaan makanan yang sering menjadi memburuk sebagai akibat sampingan yang umumnya terjadi akibat dari perubahan kebudayaan berencana adalah hal yang sangat pula disayangkan. Begitu orang-orang diyakinkan bahwa beberapa jenis makanan asing lebih menarik daripada makanan asli setempat, karena bernilai gizi tinggi, karena soal gengsi atau karena kenikmatan rasanya, maka sering mereka pun tahu bahwa mereka tidak mampu membeli makanan sebanyak yang diperlukan. Lagipula proses akulturasi yang cepat sekali, sering kali disertai dengan meningkatnya perpecahan dan kelompok yang bertentangan di kalangan masyarakat desa. Di banyak negara-negara yang sedang berkembang, penduduk di daerah pedesaan mudah sekali tersinggung, melihat tetangga mereka mempunyai kakus baru atau pakaian baru, karena adat kebiasaan mereka, yaitu untuk bersama-sama menikmati serta saling memberi, menyebabkan mereka berpikir bahwa tidak seorang manusia pun dapat makmur hidupnya tanpa mengambil sesuatu dari tetangganya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *