MENGENAL JENIS-JENIS MIGRASI

By On Saturday, November 22nd, 2014 Categories : Bikers Pintar

Berikut ini akan dijelaskan jenis-jenis migrasi yang ada, agar kita lebih tahu bila kita berbicara tentang salah satu jenis migrasi.

-Migrasi Kecil-kecilan dan Migrasi Besar-besaran

Migrasi kecil-kecilan teijadi setiap waktu di mana-mana. Biasanya dilakukan untuk keperluan tertentu dan dengan jangka waktu pendek. Migrasi besar-besaran jarang teijadi. Kata “besar” di sini mengandung pengertian jumlah orang yang berpindah setengah juta ke atas, dalam satuan waktu tertentu yang relatif pendek. Contoh migrasi ini adalah program transmigrasi dari pulau Jawa ke daerah di luar Jawa, perpindahan penduduk dari Asia Tengah ke Asia Timur Laut, Asia Selatan, dan Asia Tenggara, perpindahan bangsa dari benua Eropa dan Afrika, Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Amerika Utara, perpindahan bangsa Yahudi dari Mesir ke Kanaan, perpindahan bangsa Arab ke Afrika Utara dan ke daerah-daerah lain. Migrasi kecil-kecilan dan mjgrasi besar-besaran dapat disamakan dengan jenis migrasi individual dan migrasi massal, meskipun sudut pandangannya sedikit berbeda.

-Migrasi Sukarela dan Migrasi Paksaan

Jikalau para migran (emigran, imigran, transmigran) mengadakan perpindahan tempat atas kemauannya sendiri, bebas dan spontan, per-pindahan itu dinamakan migrasi sukarela. Sebaliknya jika perpindahan itu karena paksaan dari pihak lain, perpindahan itu dinamakan migrasi paksaan. Contoh migrasi sukarela adalah migrasi karena peperangan dan bencana alam. Sedangkan orang-orang yang terpaksa meninggalkan tempat pemukimannya disebut pengungsi seperti yang terjadi di Vietnam, Muangthai, Afganistan dan Libanon. Ribuan penduduk dari negara-negara tersebut terpaksa mengungsi ke negeri lain untuk menyelamatkan nyawa mereka. Dalam kasus ini termasuk pula tentara Yasser Arafat yang dipaksa oleh Suria untuk meninggalkan Libanon. Pada zaman pendudukan Jepang orang-orang Belanda di Indonesia diusir ke luar atau dimasukkan ke dalam kampus kon sentrasi (internering). Hal serupa ditemui juga di negara-negara Eropa semasa pendudukan Jerman dalam perang dunia kedua. Kasus pengangkutan tenaga keija dari Jawa ke Deli untuk bekerja di perkebunan pemerintah Hindia Belanda dapat dimasukkan dalam kategori migrasi paksaan.

– Migrasi Primer dan Migrasi Sekunder

Migrasi primer (primary migration) ialah perpindahan massal ke daerah yang tidak berpenduduk. Sekarang migrasi jenis ini jarang dijumpai, karena hampir semua daerah yang dapat dihuni manusia sudah diduduki manusia. Di Irian Jaya dan Kalimantan bagian tengah masih terdapat wilayah-wilayah yang berhutan lebat yang memungkinkan migrasi primer. Tetapi, persiapan untuk pemukiman yang wajar memerlukan waktu lama dan biaya besar. Migrasi sekunder diartikan sebagai perpindahan ke daerah yang sudah berpenduduk asli. Dalam migrasi sekunder orang akan dihadapkan pada masalah adaptasi dan/ atau asimilasi.

– Migrasi Terencana (Planned Migration)

Setiap migrasi selalu direncanakan, sekurang-kurangnya oleh pihak migran yang bersangkutan. Tetapi, migrasi terencana seperti yang dibicarakan di sini mempunyai pengertian tersendiri. Kegiatan migrasi itu direncanakan oleh pemerintah seperti program transmigrasi di Indonesia. Perencanaan itu merupakan bagian dari GBHN yang khusus berkenaan dengan kebijaksanaan kependudukan. Seluruh aktivitas ditangani oleh Departemen Transmigrasi. Kalau kita lihat pelaksanaan tugas transmigrasi selama tiga dasawarsa terakhir, keseluruhan kegiatan transmigrasi ini ditandai keberhasilan dan kegagalan. Untuk mencegah timbulnya kegagalan guna mencapai efektivitas yang tinggi, diperlukan studi ilmiah yang lebih cermat dan komprehensif, baik dengan metode multidisipliner maupun metode interdisiplin. Hal ini tidak akan dibicarakan di sini karena masalah kegagalan dan keberhasilan pelaksanaan transmigrasi bukan kompetensi sosiologi umum, melainkan sosiologi khusus.

–  Migrasi Desa – Kota (Urbanisasi) dan Migrasi Kota – Desa

Fenomena perpindahan penduduk dari desa ke kota lebih banyak menarik perhatian para ahli sosial daripada perpindahan dari kota ke desa, karena masalah yang timbul dari migrasi desa ke kota atau urbanisasi ternyata lebih kompleks dan memerlukan pemecahan lebih dahulu. Faktor pendorong dan penarik untuk bermigrasi ke kota pada dasarnya sama dengan migrasi umumnya. Di samping itu didapati sejumlah ciri khas urbanisasi lainnya. Ciri-ciri khas itu ditampilkan oleh Drs. J .H. de Goede sebagai hasil pengamatannya atas fenomena urbanisasi di negara-negara dunia ketiga. Namun, tidak semua ciri yang diketengahkannya baru sama sekali. Aspek yang dapat dikatakan cukup baru dari pengamatannya ialah kaitan urbanisasi dengan proses modernisasi di negara-negara ketiga (Asia, Afrika, Amerika Latin). Dalam konteks ini ia berpendapat bahwa proses urbanisasi akan beijalan makin cepat, sejajar dengan makin cepatnya proses modernisasi.

Faktor pendorong yang dominan dan umum untuk Asia, Afrika dan Amerika Latin, menurut J.H. de Goede dan P.M. Hauser, adalah faktor ekonomi. Dalam hal ini faktor ekonomi dijabarkan dalam variabel ke-miskinanyang dapat dilihat pada data-data pendapatan yang amat rendah. Variabel ini juga tidak dapat dipisahkan dari data jumlah penduduk yang terus bertambah dan tidak diimbangi variabel persediaan tanah. Motivasi para migran pindah ke kota ialah mengumpulkan uang yang dibutuhkan dalam waktu singkat untuk membiayai perkawinan, untuk membayar pajak, untuk membeli tanah dan barang-barang perabot rumah tangga yang modern.

Di sisi lain daya tarik yang kuat dari kota ekonomi adalah kota itu sendiri. Lain dengan di desa, di kota orang menggambarkan tersedianya kesempatan keij a yang luas, yang sesuai dengan tingkat pendidikannya (kalau mereka berpendidikan). Mereka yang tidak berpendidikan masih lebih mudah mendapatkan pekeijaan kasar. Di samping itu kota juga menarik anak-anak sekolah dari pedesaan karena di kota tersedia fasilitas yang lebih lengkap dan memungkinkan diperolehnya mutu pendidikan yang lebih tinggi, dan nantinya bisa mendapat jabatan lebih tinggi. Kategori orang-orangyangbukan pelajar pun tertarik pada kehidupan di kota, karena alasan-alasan lain yang lebih menguntungkan. Apa yang tidak dapat diperoleh di desa, tersedia di kota: pusat kesenian, kesenangan dan hiburan, tempat pengobatan dan pemeliharaan kesehatan, tempat pengembangan olahraga. Dengan ungkapan lain, di kotahampir setiap bakat manusia dan pencetusannya dapat dijadikan profesi (pekeijaan) yang dikomersialkan untuk mendapatkan uang, seperti bakat sport, bakat menyanyi, sandiwara, memasak, menghias, menggambar dan lain-lain.

Kota sebagai tempat pemukiman yang ekstensif berpenduduk padat serta heterogen dalam hal tingkat sosial, ras serta kesukuannya, mempunyai daya tarik yang kuat bagi orang-orang pedalaman yang mencari perlindungan yang aman dari macam-macam gangguan. Jenis kelompok-kelompok tertentu dari pedalaman lari ke kota untuk menghindarkan diri dari pengawasan sosial yang ketat, yang membuat mereka tidak tahan lagi hidup di desa. Kontrol sosial di kota dinilai lebih longgar dan lebih rasional, tidak seperti di kecamatan atau desa pedalaman yang dilakukan oleh pejabat pemerintah setempat, pejabat agama, oleh yang berkuasa umumnya, dan oleh khalayak ramai yang disebut pendapat umum (public opinion), yang berupa diskriminasi dan celaan terhadap kelompok tertentu. Dengan kata lain di kota kelompok- kelompok tersebut dapat menikmati kebebasan dan ketenangan batin. Bahkan kelompok penjahat pun lari ke kota untuk mendapat tempat persembunyian yang aman.

Para ahli hidup perkotaan seperti G.E. Cherry, G. Syoberg, L. Wirth dan lain-lain mempelajari masalah urbanisasi lebih cermat. Dalam kerangka politik penduduk di satu pihak, dan perencanaan kota di lain pihak, perpindahan penduduk dari desa ke kota dipandang sebagai gejala sosial yangkurang menguntungkan, dan oleh karenanya perlu dicari cara ilmiah untuk menghentikannya. Ini berarti mengurangi “daya dorong dan daya tarik” yang telah diuraikan di muka. Namun, sesungguhnya yang terpenting ialah menghilangkan perbedaan yang besar antara keadaan ekonomi desa dan ekonomi kota. Modernisasi hidup pedesaan dengan menyediakan segala fasilitas hidup akan dapat mengurangi arus urbanisasi.

Incoming search terms:

  • jenis jenis migrasi
MENGENAL JENIS-JENIS MIGRASI | ADP | 4.5