MENGENAL JENIS KATEGORI SOSIAL

By On Friday, November 14th, 2014 Categories : Bikers Pintar

Kemungkinan untuk membuat jenis kategori sosial amat luas, bahkan boleh dikatakan tak terbatas, namun kebanyakan dari kategori itu tidak mempunyai arti sosiologis yang relevan. Misalnya, penggolongan orang-orang yang memiliki golongan darah golongan darah B dan seterusnya mempunyai arti penting dalam usaha kesehatan, tetapi kurang berarti dalam sosiologi. Penggolongan orang-orang yang memiliki rambut keriting, yang mempunyai telapak kaki ceper lebih berguna bagi pengusaha kecantikan dan pemilik pabrik sepatu daripada bagi para ahli sosial.

Patokan atau kriteria yang dipakai untuk menyusun jenis-jenis kategori dapat berupa satu ciri (atau lebih) yang sama.

  1. Penggolongan Berdasarkan Satu Ciri

Pembuatan kategori atas dasar satu ciri tidak sukar. Kita dapat menentukan sendiri kriteria mana yang hendak dipakai. Secara umum dapat dikatakan bahwa pada subjek atau objek yang sedang diamati terdapat satu ciri. Ciri yang satu dan sama itu juga dipakai sebagai garis batas yang memisahkan kategori yang sedang dipelajari dari kategori lain. Dengan adanya garis batas ini dapat diketahui siapa saja yang harus dimasukkan ke dalam kategori itu dan siapa yang harus dikeluarkan. Penggolongan seperti ini berkaitan dengan maksud tertentu misalnya untuk membuktikan asumsi bahwa kategori usia kerja di Indonesia belum cukup mendapat keterampilan serta latihan yang sesuai dengan bakatnya. Maksud tersebut baru dapat dilaksanakan kemudian, sesudah mengadakan penelitian terhadap kategori yang bersangkutan. Penggolongan berdasarkan satu ciri melahirkan kategori anak usia sekolah, kategori usia kerja, kategori pria, kategori petani dan sebagainya.

  1. Penggolongan Berdasarkan Lebih dari Satu Ciri yang Sama

Setiap orang memiliki lebih dari satu ciri yang sama dengan orang lain. Oleh karena itu seorang peneliti dapat membuat kategori atas da-sar lebih dari satu ciri. Jika ia berbuat demikian, sesungguhnya ia ber-maksud mempersempit suatu penggolongan atas kriteria satu ciri yang telah dibuat sebelumnya karena kategori tersebut dipandang terlalu luas. Contoh: Pertama dibuat kategori lulusan SMA berdasarkan satu ciri. Kategori yang amat luas ini dapat dipecah dalam beberapa subkategori dengan cara menambah ciri lain, misalnya lulusan SMA yang tidak meneruskan studi. Subkategori lawannya lulusan S MA yang meneruskan studi. Subkategori yang terakhir ini masih dapat diperjelas dengan membedakan lulusan SMA yang melanjutkan studi sambil bekeija dan lulusan SMA yang melanjutkan studinya tidak sambil bekeija. Dari contoh-contoh di atas jelas bahwa penggolongan tersebut didasarkan pada lebih dari satu ciri. Dalam pembuatan kriteria di atas dua ciri yang digabungkan itu dirumuskan berturut-turut secara eksplisit: lulusan SMA yang … dan seterusnya. Seorang peneliti lazim juga membuat gabungan lebih dari satu ciri secara implisit, artinya ciri-ciri yangterlintas dalam pikirannya tidak dirumuskan berurutan secara verbatim. Untuk bentuk gabungan baru ini ia mencari dan menggunakan hanya satu konsepsi sehingga konsepsi baru itu tampak seperti satu kriteria. Hal ini akan diterangkan lebih lanjut di bawah ini.

  1. Penggolongan Berdasarkan Kriteria Tergabung

Manusia sebagai anggota masyarakat tidak hanya dapat dikelom-pokkan dengan kriteria satu ciri menjadi kategori usia muda dan usia tua, atau hanya kategori orang kaya dan orang miskin, atau hanya ka-tegori orang pandai dan orang bodoh, kategori orang sehat dan orang sakit dan sebagainya. Para warga masyarakat masih dapat dimasukkan dalam sekian banyak kategori lainnya sejauh mereka memiliki ciri-ciri lain yang sama dengan orang lain. Di samping itu masih dapat dibuat bermacam-macam kombinasi dari beberapa ciri-ciri yang sama yang juga dimiliki orang lain. Penggolongan terakhir inilah yang disebut penggolongan sosial berdasarkan kriteria tergabung, yakni sejumlah ciri yang sama yang digabungkan.

Pembuatan kategori sosial atas dasar kriteria tergabung memiliki bobot lebih tinggi untuk mengenal suatu masyarakat maupun untuk mengkaji golongan-golongan manusia yang ada dalam masyarakat dibandingkan dengan penggolongan atas satukriteria. Misalnya, penggabungan satu ciri yang sama “anak putus sekolah” dengan ciri lain yang sama “yang tidak mendapat pekerjaan”. Dalam gambaran ini kita dihadapkan pada kategori besar yang disebut kategori kaum penganggur yang merupakan suatu tipe sosial tersendiri. Berdasarkan contoh di atas pada umumnya dapat dikatakan bahwa kita berhadapan dengan tipe sosial jika ciri-ciri yang sama dan dilihat bersama itu mempunyai kaitan yang tak terpisahkan satu dengan yang lain. Dari contoh yang sama dapat dijelaskan bahwa penggabungan dua ciri (“putus sekolah” dan “tidak mendapat pekeijaan”) mengundang terciptanya satu ciri baru yang dirumuskan dalam satu istilah: Istilah ini tepat karena kategori penganggur ditandai dengan dua ciri yang digabungkan: “putus sekolah” dan “tak mendapat pekeijaan”.

Dengan cara yang sama para ahli sosial secara konsepsional dapat membuat sejumlah tipe sosial lainnya yang berguna bagi pengkajian masyarakat; berguna kalau penggolongan tipe sosial itu masih beralas-kan pada ciri-ciri objektif yang kebenarannya dapat diamati secara empiris. Jika tidak demikian, artinya hanya berdasarkan atas suatu praduga atau suatu ciri kecil yang dibesar-besarkan, dibumbui dengan emosi dan seterusnya, maka yang mereka buat bukan tipe sosial lagi, melainkan stereotip sosial. Contoh berikut adalah buatan orang Barat: “Belit seperti orang Yahudi”, “bangsa Indonesia pemboros”. Pada contoh pertama ciri “ras” dan “tak suka memberi” digabungkan. Pada contoh kedua ini “ras” dan “tak suka menghemat” dinyatakan sebagai dua variabel yang tak dapat dipisahkan, tanpa diadakan penelitian yang cermat terlebih dahulu. Kesalahan yang sering dibuat orang adalah menyimpulkan secara umum (generalisasi), dengan pendapat bahwa jikalau sejumlah ciri tertentu muncul, maka ditarik kesimpulan bahwa sejumlah ciri lain harus muncul juga. Kombinasi beberapa kriteria tidak harus selalu menjurus pada pembentukan kategori sosial yang bernada negatif (seperti yang digambarkan pada beberapa contoh di atas). Dengan cara yang sama orang dapat juga membentuk kategori sosial yang dipandang terhormat, misalnya kategori elite sosial.Meskipun kategori ini mempunyai satu ciri, yakni “elite”, sesungguhnya untuk menentukan siapa yang dapat dimasukkan ke dalam kategori elite, diperlukan adanya sejumlah ciri yang harus dimiliki orang-orang yang akan dimasukkan ke dalam kategori itu. Baik masyarakat barat maupun masyarakat timur menuntut syarat- syarat tertentu yang harus dipenuhi supaya kategori tertentu dapat disebut kategori elite. Sekurang-kurangnya syarat (ciri) berikut harus ada: pengetahuan atau pendidikan yang melebihi rakyat jelata, gaya hidup tertentu, kemahiran berbahasa, peranannya dalam politik yang ikut menentukan kehidupan masyarakat dan sebagainya. Cara lain untuk membentuk kategori sosial atas dasar kriteria tergabung ialah status sosial (orang Indonesia lebih suka mengatakan ke-dudukan sosial). Suatu kedudukan sosial memang didasarkan atas sejumlah ciri yang sama, misalnya jabatan yang sama, pendidikan yang sama, cara berpikir dan bertingkah laku yang sama. Jika ciri-ciri yang sama tersebut dimiliki oleh sekelompok anggota masyarakat, kelompok orang tersebut merupakan suatu strata atau lapisan masyarakat. Dengan kata lain, suatu strata sosial terdiri dari orang-orang yang mempunyai status atau kedudukan sosial yang sama. Dalam masyarakat mana pun ditemui dua macam susunan strata sosial: strata sosial mendatar yang terdiri dari orang-orang yang mempunyai kedudukan yang sama dan strata sosial vertikal yang terdiri dari orang-orang yang berbeda kedudukannya. Susunan strata vertikal juga disebut stratifikasi sosial. Masalah ini akan dibicarakan lebih mendalam di bagian lain dalam buku ini.

Orang-orang yang duduk dalam satu lapisan yang sama juga dise-but kelas sosial. Dari sudut pandangan ini dapat dikatakan bahwa kelas sosial dapat dipakai sebagai dasar penentuan kategori sosial. Pengertian kelas sosial merangkum suatu gugusan orang yang dianggap memiliki seperangkat ciri yang sama, dan berdasarkan kriteria itu mereka diberi tempat pada tangga sosial tertentu. Dari sudut pandangan ini tampak jelas bahwa pemberian tempat atau kelas tertentu (rendah atau tinggi) tidak ditentukan oleh mereka sendiri, melainkan oleh warga masyarakat di luar mereka: Para ahli sosial sering menggunakan semacam tolok ukur kuantitatif untuk menentukan lebih teliti ke kelas sosial mana seseorang atau suatu keluarga digolongkan. Hal ini mereka lakukan sehubungan dengan rencana penelitiannya. Masih dalam kerangka pembicaraan kategori atas dasar kriteria tergabung akan ditampilkan di sini suatu fenomena sosial yang disebut minoritas sosial. Pengertian minoritas sosial sering dikenakan pada bagian dari warga masyarakat yang dilihat dari jumlahnya kecil dibanding dengan golongan masyarakat lainnya, atau penduduk seluruhnya. Namun permasalahan yang timbul dari minoritas sebagai kategori sosial tidak terletak semata-mata pada jumlah. Minoritas sosial yang terdiri dari golongan intelektual misal-nya, tidak menimbulkan kesulitan. Kategori pemerintah di mana merupakan kategori sosial yang mini. Demikian pula angkatan bersenjata, dan seniman-seniwati. Mereka tidak mengalami kesulitan karena mereka memiliki status sosial yang terhormat. Maka, yang disebut minoritas sosial sebagai suatu kategori menurut arti yang diberikan umum ialah minoritas yang dipandang mempunyai kedudukan sosial yang rendah, sekurang-kurangnya menyandang satu atau lebih ciri sosial yang kurang menguntungkan bagi kedudukan mereka di tengah-tengah mayoritas di mana mereka berada. Ciri-ciri itu dapat berupa hal-hal yang berbeda dengan kebanyakan orang, seperti kepercayaan/agama yang berbeda dengan mayoritas penduduk setempat, warna kulit, tanah air, nenek moyang. Di samping itu ciri-ciri tersebut dapat berupa sifat-sifat lain yang ada pada mayoritas, tetapi tidak dimiliki atau dimiliki dalam ukuran yang tidak setingkat dengan masyarakat sekitarnya, khususnya yang berkaitan dengan tingkat kebudayaan, seperti tingkat pendidikan, pengetahuan bahasa dan sopan santun. Kategori orang-orang yang dianggap serba minor dijumpai hampir di semua negara. Jika mayoritas penduduk memeluk agama tertentu, pemeluk agama-agama yang lain dari yang dipeluk mayoritas merupakan kategori sosial minor, dan dapat disebut minoritas religius. Di samping minoritas religius, dalam masyarakat yang sama ditemukan pula jenis minoritas-minoritas lain, seperti kategori warga pendatang atau orang asing, kategori kaum pendatang yang telah menjadi warga negara. Di Indonesia misalnya, kita dapat menemukan kategori minoritas WNA dan kategori minoritas warga negara Indonesia atau WNI. Perlu ditambahkan bahwa dalam uraian ini penulis tidak bermaksud untuk mengetengahkan permasalahan-permasalahan; apalagi pemecahan minoritas sosial tersebut. Yang hendak ditonjolkan dalam paparan ini hanyalah adanya titik kait antara pengertian kategori sosial berdasarkan kriteria tergabung dengan minoritas sosial.

Dalam pembicaraan tentang kategori sosial terdapat pula pengertian publik. Kata publik sering dipakai untuk menunjukkan dua hal. Pertama, publik mengandung arti sekumpulan orang yang berada di suatu tempat yang sama, misalnya para penonton pertandingan sepak bola di stadion, kumpulan orang yang sedang menonton bioskop atau mereka yang tengah asyik menyaksikan pentas sebuah sandiwara di atas panggung, atau mereka yang berkumpul di dalam gedung mendengarkan suatu ceramah atau pidato seorang orator. Pengertian publik yang kedua adalah segugusan warga masyarakat tertentu, di mana pun tempat tinggalnya, yang menjadi sasaran macam-macam media komunikasi massa atau badan-badan sosial lainnya. Misalnya, semua penonton televisi, semua pendengar radio, segenap pembaca surat kabar KOMPAS di seluruh tanah air, semua konsumen yang memakai pasta gigi “pepsodent”. Secara sosiologis pengertian publik jenis pertama tidak dapat di-masukkan dalam pengertian kategori sosial, sedangkan publik yang kedua dapat karena dalam publik jenis kedua tidak ada ciri khas yang didapati pada publik jenis pertama, yakni: kedekatan fisik (physical proximity). Publik jenis pertama lebih merupakan kerumunan atau kumpulan, karena kumpulan orang tersebut berada dalam satu tempat walaupun untuk sementara waktu. Pada publik jenis kedua masing- masing orang tidak berada di tempat yang sama dan sedang melakukan kegiatan yang berbeda, tetapi mereka semua menjadi sasaran berbagai kepentingan, misalnya kepentingan promosi suatu barang. Tanpa mempedulikan nama mereka, tempat tinggal maupun status sosial, mereka merupakan kategori sosial.

Incoming search terms:

  • contoh kategori sosial
  • contoh kategori sosial dalam masyarakat
  • contoh kategori sosial dan alasannya
  • kategori sosial dan contohnya
  • contoh dari kategori sosial
MENGENAL JENIS KATEGORI SOSIAL | ADP | 4.5