MENGENAL KESULITAN PADA KOMUNIKAN

By On Friday, November 21st, 2014 Categories : Bikers Pintar

Pembahasan tentang kesulitan dari sudut amanat hampir tidak mungkin dipisahkan dari pihak komunikan karena amanat dan komunikan adalah dua pengertian yang korelatif. Dengan pengertian ini, di bawah ini akan dibicarakan hal ihwal sekitar komunikan, khususnya mengenai kesulitan-kesulitan yang mengurangi keberhasilan komunikasi dan langkah-langkah yang harus diambil untuk mengatasi kesulitan itu.

Kesulitan yang ada pada komunikan dapat berupa sikap komunikan terhadap penyiaran, kepentingan komunikan (sudah dilayani atau belum), struktur komunikan dalam konteks sosio-budaya (apakah komunikan – ditinjau dari segi kelamin, usia, pendidikan – dapat menangkap amanat dalam waktu yang sama, dengan ketepatan yang sama meskipun lingkup kebudayaan dan lokasi geografis berbeda).

Untuk mengetahui dengan tepat kesulitan yang ada pada komunikan perlu diadakan penelitian, seperti:

—           penelitian mengenai identitas kelompok komunikan ditinjau dari kebudayaan masing-masing

—           penelitian mengenai sikap dan harapan komunikan terhadap penyiaran amanat

—           penelitian mengenai media massa yang disukai komunikan, alat komunikasi apa yang bagi komunikan memiliki daya persuasif maksimal.

Di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat penelitian tentang masalah serupa itu relatif banyak diadakan, terutama oleh lembaga-lembaga pers dan badan-badan penyiaran. Hasil penelitian mereka gunakan untuk memperbaiki kesalahan dan menyempurnakan pelayanan. Kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh di sana tidak selalu dapat diterapkan di negara-negara yang sedang berkembang. Di negara berkembang terdapat unsur-unsur komunikasi tradisional yang masih kuat dan tidak dapat diatasi dengan sistem komunikasi modern. Oleh karena itu masyarakat negara yang sedang berkembang perlu mengadakan penelitian sendiri. Negara berkembang umumnya mempunyai tujuan khas, yakni tujuan pembangunan. Demi tercapainya tujuan itu segenap kegiatan masyarakat diarahkan ke tujuan tersebut, termasuk media komunikasi massa. Hal ini disadari sepenuhnya oleh kalangan inteligensia yang merupakan unsur penggerak dalam masyarakat. Bila efek komunikasi diharapkan memberi hasil optimal, hal yang pertama dan terutama perlu diusahakan ialah mengenal komunikan sebaik-baiknya. Mengenal komunikan berarti mengenal publik atau massa karena pada hakikatnya seluruh publik (yang pada saat- saat tertentu mendengarkan amanat dari media massa) itulah yang harus diyakinkan, kemudian digerakkan untuk menjabarkan isi amanat yang telah mereka yakini dalam aktivitas pembangunan yang konkret.

Ditinjau dari segi komunikasi, aktivitas pembangunan yang konkret masih jauh dari jangkauan, masih diperlukan jalan panjang untuk mencapainya, masih membutuhkan kegiatan penginsafan yang merupakan tugas penting jawatan komunikasi (penerangan). Kegiatan penginsafan ini disusul dengan suatu.proses yang teijadi pada pihak komunikan, yaitu proses “amanat- pendapat- sikap – tindakan”. Komunikan menerima amanat, dan mengerti isi amanat yang dimaksud. Kemudian komunikan membentuk pendapat berdasarkan isi amanat. Selanjutnya komunikan menentukan sikap tertentu, setuju atau tidak setuju terhadap masalah yang diinformasikan. Jika sikap itu pro, misalnya terhadap salah satu ranting dari rencana pembangunan, dan komunikan yang bersangkutan memiliki keahlian dalam bidang itu, barulah komunikan akan mengambil keputusan untuk mengadakan kegiatan.

Komunikator juga perlu mengetahui apakah komunikan yangberupa publik atau massa dapat menangkap isi amanat yang disampaikan dengan intensivitas yang sama. Karena publik terdiri dari sejumlah besar kategori sosial yang sangat heterogen yang memungkinkan adanya perbedaan daya tangkap, komunikator harus mengenali publik sebaik- baiknya.

Agar pihak komunikator baik pemerintah maupun swasta dapat menyampaikan pesan yang tepat sasaran dengan kepastian yang wajar, mereka perlu mengetahui jenis kategori sosial yang ada dalam publik. Misalnya, berapa besar golongan pria dan golongan wanita, golongan dewasa dan golongan muda, golongan melek huruf dan golongan buta huruf, golongan inteligensia dan noninteligensia, golongan petani di pedesaan dan golongan pedagang di kota-kota, dan seterusnya. Bilamana tahap penggolongan telah selesai dengan hasil yang dapat dipercaya, pada tahap berikutnya pihak komunikator perlu meramu dan mengolah isi amanat sedemikian rupa, agar amanat itu dapat disampaikan sesuai dengan selera golongan yang dituju, pada waktu yang cocok dengan kelompok kategorial itu, dalam bahasa yang dipakai (disenangi) kategori pendengar. Dengan jalan ini penyiaran tidak mengutamakan sifat ekstensif, tetapi sifat intensifnya. Yang terutama perlu dipikirkan adalah bagaimana isi amanat dapat menyentuh unsur-unsur kejiwaan komunikan secara mendalam dan lengkap.

Kebijakan di atas sesungguhnya selaras dengan prinsip selektivitas dari pihak komunikan yang terdiri dari aneka jenis kategori sosial. Tiap- tiap kategori sosial mempunyai selera tersendiri. Bahkan dapat dikatakan bahwa semua komunikan mengadakan kontrol atas kualitas dan kesesuaian materi (amanat) yang disampaikan oleh komunikator. Pengontrolan tersebut mereka rasa sebagai hak mereka karena komunikan mempunyai kebebasan untuk menentukan pilihan. Secara eksplisit atau implisit mereka menyampaikan pilihan mereka kepada komunikator. Para komunikan tahu bahwa pihak komunikator mencari kontak dan tanggapan dari publik untuk mendengar apa yang diinginkan publik.

Di lain pihak terdapat rintangan yang menghalangi pihak komunikan menerima amanat yang disiarkan. Rintangan ini menimpa kategori sosial ekonomi lemah yang tidak mampu membeli alat komunikasi seperti radio, televisi, media cetak dan lain-lain. Sebagian kesulitan tersebut dapat diatasi dengan mendirikan alat-alat penerima komunikasi di tempat-tempat yang strategis. Bagi kelompok kategorial yang masih buta huruf dan oleh karenanya tidak dapat menikmati media komunikasi cetak, berarti kesulitan itu tidak dapat segera diatasi. Politik wajib belajar bagi anak-anak umur sekolah; disertai usaha pemberantasan buta huruf dalam waktu relatif panjang diharapkan dapat menyingkirkan hambatan-hambatan tersebut. Meskipun usaha tersebut berhasil, tidak berarti bahwa semua kelompok kategorial sebagai penerima komunikasi dapat menerimanya dengan baik.

Sementara itu di dalam masyarakat tetap didapati kelompok komunikan yang berdaya tangkap lemah akibat dari kurang pendidikan. Kelompok jenis ini dapat ditolong dengan cara komunikasi komunikasi dua tahap.

Komunikasi dua tahap mengandaikan suatu masyarakat yang terdiri atas dua struktur: struktur atas dan struktur bawah. (Gambaran dwistruktur ini hanya untuk memudahkan jalan pikiran). Struktur atas terdiri dari unsur pimpinan, sedang struktur bawah terdiri dari orang- orang yang dipimpin, dalam hal ini orang-orang yang kurang-tanggap- makna terhadap amanat komunikasi. Golongan struktur bawah ini masih mengikuti pola berpikir vertikal. Khususnya dalam hal ihwal penerangan yang datang dari pusat mereka masih menyandarkan diri pada pendapat pimpinan seperti camat, lurah, ketua lingkungan dan se- bagainya. Maka, instansi atau pusat perusahaan komunikasi yang bermaksud menyampaikan pesan kepada struktur bawah harus melewati komunikasi dua tahap, yaitu lebih dahulu kepada unsur pimpinan, kemudian melalui unsur pimpinan kepada bawahannya. Walaupun isi amanat yang diterima golongan bawah telah diwarnai oleh tanggapan dari pribadi-pribadi pemimpin yang bersangkutan, akhirnya informasi dapat menjangkau sasaran.

MENGENAL KESULITAN PADA KOMUNIKAN | ADP | 4.5