MENGENAL LUKISAN ANAK-ANAK DI BALI

71 views

Kesenian Bali memiliki corak dan wataknya sendiri. Seniman-senimannya banyak dan karyanya banyak. Sifat mereka sangat menonjol karena kesabarannya dan efisien dalam keahliannya dan sangat setia kepada timi»M kesenian di tempatnya. Berbeda dengan seniman-seniman Barat mm i i kelihatannya mencoba menghasilkan karya yang sejauh mungkin sesuai dengan an pola-pola yang juga dipergunakan sesama seniman. Sifat khas individu .i .n seniman tidak diutamakan, sebagaimana halnya pada seniman Barat malah mereka menekankan justru yang sebaliknya. Kalau misalnya ada karya van^ menampilkan citra yang luar biasa, hal yang sangat orisinal, maka kelihatanm >» hal tersebut terjadi karena sang seniman tersebut memiliki bakat yang luar biasa Hal tersebut terjadi bukan akibat kesengajaan, tetapi malahan masih muncul walaupun si seniman telah berusaha untuk menghasilkan karya yang scmpa dengan karya-karya orang lain. Dalam semua aspek seni rupa di Bali, seni luk i seni ukir, dalam merencanakan gambar wayang untuk wayang kulit dun mengukir topeng-topeng, keserupaan dengan bentuk tradisional sangat |H.» tampaknya.

Hal ini kelihatan juga dari karya seni masa yang lalu; meskipun corak-coiak klasik berubah dari abad ke abad namun setiap perioda ditandai oleh sekumpulan kebiasaan-kebiasaan yang ditaati oleh para seniman, hal yang mirip dengan keadaan di Eropa pada masa-masa Gothik, tanpa sedikit pun keinginan untuk menunjukkan sesuatu yang bisa dikatakan sifat khasnya sendiri. Dan bahkan sekarang pun, ketika gerakan-gerakan “modern” yang beraneka ragam semakin bertumbuh di Bali, kecenderungan kebanyakan para seniman Bali” yang berjumlah banyak itu kelihatannya adalah mengarah kepada penyempurnaan dirinya sendiri dalam teknik konvensi-konvensi baru dan bukannya berusaha untuk menciptakan gaya pribadi. Meskipun motivasi berbagai produksi kesenian dari aliran-aliran modern ini kelihatannya secara radikal berbeda dengan masa-masa klasik, namun masih kelihatan kecenderungan ke arah keseragaman dan bukannya ke arah keanekaragaman. Para seniman Bali yang berbakat pada zaman modern ini, kelihatannya mempunyai kecenderungan yang sama untuk mengarahkan bakatnya kepada keterampilan pengrajin, yang meniru dan mencontoh lagi motif-motif yang telah diterima menurut cara-cara yang juga telah diterima, seperti yang telah dilakukan oleh kakeknya dan generasi sebelumnya di bawah penguasaan para raja.

Bila ada kesediaan untuk mengikuti segugusan konvensi tertentu, maka ini berarti bahwa dalam proses pemahiran diri dengan keterampilannya para seniman mengikuti jalan pintas. Terdapatnya sejumlah besar seniman-seniman Bali, dengan sejumlah besar hasil-hasil karyanya kemungkinan besar dapat terwujud karena masalah mereka telah disederhanakan karena kekakuan tradisi keseniannya. Kelihatannya dalam sistem kesenian demikian maka pribadi- pribadi yang tidak terlalu berbakat dapat menghasilkan lukisan-lukisan yang lebih layak dipertunjukkan, yang juga berjumlah banyak. Di sini sama sekali tidak dipersoalkan bagaimana akhirnya nilai estetis dari karya hasil seniman Bali tetapi yang dicatat adalah fakta bahwa kesenian tumbuh begitu subur di Bali. Dan apa pun titik tolaknya, apa pun jenis pengaruh yang diterimanya, karya itu tampil sebagai karya yang khas Bali.

Karena seniman di Bali bekerja di bawah kondisi yang sangat khas, maka akan menarik untuk menelusuri asal mula dari pengaruh tradisi kebudayaannya terhadapnya. Anak-anak di Bali sejak kecil sudah tergantung pada kondisi kebudayaannya; dia mempelajari arti dari lambang-lambang kebudayaannya; dia belajar untuk membiasakan sikap yang khas terhadap kesenian. Bila telah menjadi dewasa maka dia akan menjadi seorang Bali yang menghasilkan karya kesenian atau menjadi peminat yang menghargai karya kesenian, karena di Bali kesenian bukanlah urusan dari beberapa gelintir orang saja, melainkan menjadi milik setiap orang. Dengan penggunaan medium lukisan anak-anak, maka saya mencoba meneliti bagaimana tradisi melukis tersebut diwariskan, atau ditransmisikan. Bagaimana seorang anak meresapi pengaruhnya? Bagaimana dia belajar menyukai cara melukiskan sesuatu bukan menurut cara yang diinginkannya, akan tetapi menurut cara yang sudah biasa dalam masyarakatnya.

Beberapa tahun yang lalu saya diminta untuk mengumpulkan sejumlah lukisan anak-anak Bali dari yang berumur 4 sampai 10 tahun untuk dipamerkan dalam suatu pameran internasional lukisan anak-anak. Pada masa tersebut belum ada gerakan untuk membiarkan anak menggambar bebas di sekolah-sekolah, sehingga anak-anak sekolah diajar melukis meja, lemari, dan lampu. Karena itu saya terpaksa mencari anak-anak yang belum pernah menjamah pinsil ataupun kertas. Namun demikian lukisan-lukisan yang dihasilkan anak-anak ini sangat menarik perhatian para artis dan para pendidik ketika dipamerkan di New York pada tahun 1934. Ada sejumlah besar ulasan-ulasan pers, di mana dinyatakan bahwa karya-karya anak-anak Bali dan anak Meksiko mencerminkan perhatian yang lebih menonjol dibanding dengan minat anak-anak Eropa dan Amerika. Hal-hal dalam lukisan-lukisan ini yang membuatnya lebih menonjol dari lukisan-lukisan anak-anak lain adalah gaya menarik dalam menggambarkan bentuk penggambaran yang dramatis dari para roh jahat, hantu-hantu, serta binatang-binatang dalam dongeng dengan mulut yang ternganga dan mata membelalak, ketetapan tangan dalam menggambarkan garis-garis, serta kebebasan, spontanitas dan keberanian dalam komposisi, sekalian menggabungkan aksi yang menggebu-gebu dengan cita rasa desain yang seimbang, meskipun masih sangat rudimenter.

Membandingkan karya anak-anak Bali dengan anak-anak Eropa yang telah saya teliti (mereka yang bekerja dalam suasana bebas, tidak termasuk sekolah-sekolah yang sudah ketinggalan zaman), kesan saya adalah bahwa lukisan anak-anak itu, sampai dengan umur 4 tahun tidak terlalu menunjukkan perbedaan kecenderungan-kecenderungan yang khas bagi kebudayaannya tetapi sesudah umur itu dengan cepat sekali kelihatan, kecenderungan-kecenderungan yang khas bagi kebudayaan mereka. Anak-anak yang kecil sekali di seluruh dunia ingin menggambar. Bilamana mereka tidak diarahkan, mereka akan memegang pinsil di tangannya dan membiarkannya menggoresi kertas, menghasilkan bentuk-bentuk misterius yang hanyalah berarti bagi anak itu sendiri. Pada saat yang sama anak-anak itu berkisah, yang isinya tidak dapat dikenal dari gambar si anak, namun kerap kali cerita itu dapat diperas menjadi hal-hal yang agak umum. Bagi si anak tidaklah menjadi soal bila lukisan-lukisannya tidak mengandung

makna cerita; kesenangannya adalah melukis itu sendiri dan menceritakan dongeng. Bila keterampilan anak itu mulai berkembang, maka bentuk-bentuk yang dilukisnya mulai menyerupai tokoh-tokoh ceritanya, akan tetapi dasar rasa senang terhadap simbolisme tetap bertahan dan tetap merupakan segi yang paling berarti baginya bila ia menggambar. Kemudian, di antara anak-anak yang telah saya amati, sang anak mulai sadar, bahwa lukisannya telah men jadi sesuatu yang mempunyai kedirian sendiri, suatu penampilan simbolik tentang suatu isi tertentu, yang bisa saja ditafsirkan oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri. Pada saat itu, bila kemajuannya dalam keterampilan tidak sejajar dengan perkembangan kesadaran sosialnya, maka kekayaan fantasinya dilumpuhkan oleh ketidakmampuannya untuk mengungkapkannya. Beberapa waktu sesudahnya itu lagi, anak-anak tertentu akan berpendapat bahwa gambarnya tidak memuaskannya, sehingga dia sama sekali berhenti melukis. Pada saat itulah mereka kehilangan kesenangan mencipta, salah satu hal yang tadinya telah menjadi titik tolaknya.

Dugaan saya adalah bahwa setiap kebudayaan di mana kesenian dipraktekkan dan dengan demikian memiliki standar untuk sejumlah keterampilan tertentu, maka konvensi tradisional justru memberi bantuan kuat kepada anak yang berada pada tahap perkembangan seperti digambarkan tadi dan juga membantu setiap seniman yang sedang mengalami perkembangan. Konvensi tradisional itu akan menyediakan “kunci” yang memungkinkannya mengatasi kesukarannya dalam pelukisan. Simbolisme yang telah tersedia, yang juga sudah difahami oleh masyarakat yang menikmati kesenian dapat menjadi wadah ke mana dituangkannya fantasinya. Besar kemungkinan bahwa bantuan seperti ini telah membantu mengatasi rintangan yang telah dialami oleh sejumlah besar seniman yang sudah akan tersisih dalam perlombaan seni andaikata dituntut untuk menemukan bahasa lambangnya sendiri, seperti halnya dalam budaya Barat. Apakah jenis kebudayaan yang memiliki tradisi semacam ini karena sifat yang demikian itu memang menghasilkan suatu jenis kesenian yang lebih seragam dan sejumlah seniman yang lebih besar daripada kebudayaan yang menuntut sifat perseorangan? Untuk menjelaskan pertanyaan ini saya mengadakan suatu percobaan untuk meneliti lukisan-lukisan anak-anak Bali untuk mendapatkan kepastian pada saat mana dan melalui cara bagaimana pengaruh dari tradisi kesenian itu mulai menampakkan diri. Sasaran eksperimen ini adalah sekelompok anak-anak sebanyak 20 orang, yang berumur antara 3 sampai 10 tahun. Mereka tinggal di sebuah kampung kecil bernama Sajan (Kabupaten Gianyar), Banjar Kutuh, suatu Banjar yang tidak memiliki seorang dalang profesional, dan juga tidak memiliki pelukis profesional. Tidak seorang pun dari anak-anak lelaki yang menggambar ini — memang benar-benar menggambarkan adat Bali, mereka semuanya adalah anak lelaki — mempunyai bapa atau kakak yang pekerjaannya melukis atau memahat atau memotong kulit untuk membuat wayang kulit. Karena itu mereka tidak pernah berkesempatan untuk secara langsung mengamati penggunaan teknik-teknik kesenian Bali atau untuk menjadi magang sejak umur muda sebagaimana dialami oleh anak-anak yang berdiam di rumah seniman-seniman besar. Persentuhan mereka dengan latar belakang kebudayaan Bali tidaklah lebih intensif dibandingkan dengan anak-anak lain dari kampung Bali biasa, yang tidak terkenal dalam seni memahat perhiasan kuil atau hiasan dinding. Akan tetapi bersama dengan semua orang Bali yang lainnya mereka juga turut mengambil bagian di dalam kehidupan kesenian Bali yang menembusi seluruh lapisan kehidupan, yang mendasari dan memadukan semua manifestasi kesenian yang bermacam ragam itu. Cerita-cerita yang sama yang dilukiskan dalam warna-warni atau dalam bentuk relief dilakonkan lagi di dalam sandiwara; kisah-kisah itu muncul kembali di dalam tarian dan yang terpenting dari semuanya dipentaskan dalam pertunjukan wayang kulit, dan pada pewayangan itulah bersumber bagian terbesar dari konvensi kesenian. Bila diselenggarakan pesta-pesta di pura atau kuil atau upacara-upacara keluarga dirayakan dengan pertunjukan drama atau bilamana pada tahun baru jalan-jalan penuh Keramaian karena Ular-Naga yang berkeliaran dan rombongan-rombongan pemain, maka a,nak-anak menghadirinya secara massal. Dan terutama bila ada pertunjukan wayang kulit, maka penonton yang paling mempunyai perhatian dan kegairahan adalah anak-anak. Bagi anak-anak di kampung yang diteliti pun pastilah bahwa wayang kulit merupakan media utama yang memperkenalkan mereka ke dalam warisan leluhurnya, yang mengungkapkan kepada mereka legenda-legenda dan sifat-sifat yang berbeda dari tokoh-tokoh utama pewayangan.

Wayang kulit adalah bentuk hiburan yang paling sering ditonton oleh anak-anak, suatu bentuk pengkisahan cerita yang mengandung suatu daya menarik khas bagi mereka. Biasanya pertunjukan wayang diadakan malam hari. Di dalam kegelapan kampung itu, sebuah layar putih dipasang, dan di belakang layar tersebut sebuah lampu minyak dinyalakan. Lampu tersebut menerangi sebuah ruangan panjang di mana pertunjukan itu akan berlangsung, namun lampu itu sering berkedip, dan kemudian nyala terang lagi kalau ada angin lalu, serta memancarkan sinar-sinar yang menghasilkan gambar-gambar hidup penuh suasana magis. Di dalam sorotan sinar inilah tokoh-tokoh yang akan mementaskan pertunjukan muncul dalam bentuk bayangan yang menggambarkan garis-garis bayangan yang tajam karena oleh dalang bonekanya dipegang di antara sinar dan layar. Atau bayangan-bayangan tersebut bergoyang dan melayang menurut rencana dalang yang menggerakkannya untuk melukiskan adegan-adegan di layar yang menjadi panggungnya. Tokoh-tokoh yang bayangannya terlihat pada layar itu hanya berukuran kecil, yaitu kira-kira satu kaki sampai 18 inci tingginya. Boneka-boneka tersebut dibuat dari kulit yang keras yang digunting menjadi bentuk yang garis-garisnya tajam dan sangat indah. Melalui lobang-lobang yang dibuat pada kulit itu, sifat-sifat dari setiap tokoh xiapat Jebih tergambarkan, juga bagian-bagian pakaian dan terutama dekorasi kepala yang sangat berliku-liku itu, yang bersama dengan ciri-ciri lainnya menjadi tanda identifikasi khas dari tokoh bersangkutan. Ada berbagai tokoh yang muncul berkali-kali dalam lakon yang berbeda-beda: berbagai pahlawan dalam mitologi Hindu, beberapa tokoh raksasa yang terkenal, pangeran- pangeran kera, dan beberapa tokoh lain yang bertampang seram dan, bersama mereka beberapa tokoh yang sangat dicintai yang menjadi milik rakyat yang berbicara dalam bahasa rakyat, menerjemahkan untuk rakyat jelata arti dari ayat-ayat yang agak kabur dan memberikan tafsiran yang bersifat duniawi mengenai apa saja yang terjadi. Pada waktunya, tokoh-tokoh tersebut tadi menjadi akrab bagi para penonton. Sejak awal sekali anak-anak sudah belajar untuk membedakan antara para pahlawan berbudi luhur dan berbadan manis dan halus, roh jahat yang bermoncong lebar dan memiliki tampang mengancam dan lebih kekar, dan tokoh pembadut yang berbadan tegap dan raut muka yang lebih kasar.

Pementasan seperti itu diberi nama wayang kulit. Wayang berarti bayangan, dan istilah kulit, menunjuk kepada bahan dari mana gambar-gambar dibuat. Di Bali wayang adalah kata untuk lakon itu sendiri atau para tokohnya. Suatu tokoh yang digambarkan secara individual menurut corak khas wayang disebut wayang, dan itu dibedakan dari tokoh yang digambarkan dengan tujuan yang lebih realistis, yaitu dianggap sebagai mewakili “manusia” (jelma). Secara historis, wayang mengandung arti upacara dan berfungsi untuk melukiskan cerita yang diangkat dari literatur Hindu, menceritakan kembali episode dari epos yang menurut keyakinan orang benar-benar terjadi di masa yang lalu: Ini berarti bahwa secara ritual melalui pertunjukan wayang para tokoh nenek moyang menurut silsilah Hindu dihidupkan kembali. Dengan demikian meskipun hubungan antara manusia-manusia masa kini dengan kejadian masa lalu sangat jauh, namun dalam wayang, kehidupan sekarang berkaitan dengan sejarah dan agama. Mungkin kata shade (bayangan) sebagaimana dipakai dalam bahasa Inggris lebih tepat untuk melukiskan roh-roh yang telah berpulang, dan terutama bari arwah para pahlawan yang telah berpulang, dan mungkin kata itu lebih dekat artinya dengan kata wayang di Indonesia, sedang wayang itu sendiri merupakan kata yang mengandung banyak konotasi yang beraneka ragam. Tokoh wayang dan pertunjukan wayang adalah medium yang menjadikan dunia yang tidak kelihatan tampak secara samar-samar; bayangan itu sendiri, yang tanpa adanya perantara medium drama itu tidak mungkin untuk diperlihatkan, memperoleh wujud formal di mata batin seorang penonton dengan bentuk yang berciri khas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *