MENGENAL PROFESI DALAM KESEHATAN MENTAL

By On Tuesday, July 23rd, 2019 Categories : Bikers Pintar

MENGENAL PROFESI DALAM KESEHATAN MENTAL – Pelatihan para ahli klinis, yaitu berbagai profesional yang memiliki otoritas untuk memberikan berbagai pelayanan psikologis, terdiri dari beberapa jenis. Di sini, kita membahas beberapa tipe ahli klinis, pelatihan yang diperoleh, dan beberapa isu terkait. Untuk menjadi psilzolog hlinis (spesialisasi para penulis buku teks ini) memerlukan gelar Ph.D atau Psy.D., yang memerlukan empat hingga tujuh tahun masa studi pascasarjana. Pendidikan Ph.D. dalam bidang psikologi klinis sama dengan pendidikan di bidang psikologi lainnya, seperti psikologi perkembangan atau fisiologis. Dalam pendidikan tersebut diperlukan penekanan berat terhadap riset, statistik, studi berbasis empiris terhadap perilaku manusia dan perilaku hewan. Seperti halnya dalam bidang psikologi lainnya, Ph.D. pada dasarnya merupakan gelar yang diperolehberdasarkan riset yang dilakukan, dan kandidat diharuskan menulis sebuah disertasi tentang topik tertentu. Namun, para kandidat dalam psikologi klinis mempelajari keahlian dalam dua bidang tambahan, yang membedakannya dari kandidat Ph.D. lainnya dalam psikologi. Pertama, mereka mempelajari teknik pengukuran dan diagnosis gangguan jiwa; yaitu, mereka mempelajari keahlian yang diperlukan untuk menentukan bahwa simtom-simtom atau masalah yang dialami seorang pasien mengindikasikan gangguan tertentu. Kedua, mereka mempelajari bagaimana mempraktikkan psihoterapi, suatu metode verbal untuk membantu individu yang mengalami gangguan untuk mengubah pemikiran, perasaan, dan perilakunya untuk mengurangi distress dan mencapai kepuasan hidup yang lebih besar. Para mahasiswa mengikuti mata kuliah di mana mereka akan menguasai teknik-teknik tertentu di bawah pengawasan profesional yang ketat; kemudian, selama masa penugasan yang intensif, secara bertahap mereka memperoleh tanggung jawab yang semakin meningkat dalam perawatan para pasien.
Walaupun psikolog konseling pada awalnya berurusan dengan isu karier, program tersebut saat ini hampir sama dengan program sejenis dalam psikologi klinis. Ada juga gelar yang relatif baru yaitu Psy.D. (doktor psikologi).

Kurikulum dalam program ini sama dengan program Ph.D., namun dengan penekanan yang lebih sedikit pada riset dan lebih banyak pada pelatihan klinis. Pemikiran di balik pendekatan ini adalah psikologi klinis telah mengalami kemajuan hingga ke tingkat ilmu pengetahuan dan kepastian yang menjustifikasi—bahkan mengharuskan—pelatihan intensif dalam teknik pengukuran spesifik dan intervensi terapeutik daripada sekadar menggabungkan praktikdan riset.Psikiater memiliki gelar M.D. dan telah menjalani pelatihan pascasarjana, yang disebut residensi, di mana mereka menerima supervisi dalam praktik melakukan diagnosis, psikoterapi, dan farmakoterapi (membe-rikan obat-obatan psikoaktif). Dengan gelar dokter yang dimiliki, kebalikan dari psikolog, psikiater juga tetap dapat berpraktik sebagai dokter —melakukan pengujian fisik, mendiagnosis berbagai masalah kesehatan, dan semacamnya. Sering kali, walau bagaimana pun, satu-satunya aspek praktik kedokteran yang dilakukan para psikiater adalah meresepkan obat-obatan psihoahtif, yaitu berbagai macam senyawa kimiawi yang dapat memengaruhi perasaan dan pikiran manusia.
Baru-baru ini terdapat perdebatan hangat dan kadangkala tidak mengenakkan mengenai keuntungan untuk mengizinkan para psikolog klinis yang telah memperoleh pelatihan tepat memberikan resep obatobatan psikoaktif. Dapat diprediksikan bahwa upaya semacam itu ditentang oleh para psikiater karena merupakan invasi terang-terangan terhadap ladang profesional mereka. Hal tersebut juga ditentang banyak psikolog, yang menganggapnya sebagai hal yang justru melemahkan fokus ilmu perilaku dalam psikologi. Keuntungan menjadi satu isu, namun juga pertanyaan apakah seseorang yang bukan dokter dapat mempelajari biokimia dan fisiologi secara cukup dalam sehingga dapat memantau efek obat-obatan dan melindungi pasiennya dari efek samping dan interaksi obat yang membahayakan. Tidak diragukan lagi bahwa perdebatan tersebut akan terus berlangsung selama beberapa waktu sebelum diperoleh suatu penyelesaian.Psikoanalis memperoleh pelatihan khusus di institut psikoanalisis. Program tersebut biasanya mencakup pelatihan klinis selama beberapa tahun dan juga psikoanalisis mendalam. Walaupun Sigmund Freud mengatakan bahwa psikoanalis tidak memerlukan pendidikan di bidang medis, hingga belum lama ini sebagian besar institut psikoanalisis di AS mensyaratkan gelar dokter dan residensi psikiatri bagi para lulusannya. Sekarang ini, seseorang bahkan tidak memerlukan gelar doktor dalam psikologi untuk dapat diterima di institut tersebut. Untuk menjadi seorang psikoanalis dapat diperlukan waktu hingga sepuluh tahun kuliah pascasarjana. Pekerja sosial memiliki gelar M.S.W. (master of social work). Sekelompok orang yang sangat beragam dapat disebut para psikopatolog.

Kelompok ini melakukan penelitian mengenai sebab-sebab dan perkembangan berbagai gangguan yang diupayakan untuk didiagnosis dan ditangani oleh kolega mereka yang bekerja sebagai terapis. Psikopatolog dapat berasal dari berbagai disiplin; beberapa di antaranya psikolog klinis, namun lainnya memiliki latar belakang pendidikan yang bervariasi mulai dari biokimia hingga psikolog perkembangan. Hal yang mempersatukan mereka adalah komitmen untuk mempelajari terbentuknyaperilaku abnormal. Karena leit” masih harus banyak belajar tentang psikopatologi, keragaman latar belakang dan minat merupakan satu keuntungan karena masih erlalu dini untuk memastikan bidang apa yang akan mencapai kemajuan besar.

MENGENAL PROFESI DALAM KESEHATAN MENTAL | ADP | 4.5