TAHAP PERKEMBANGAN SOSIOLOGI

By On Monday, August 26th, 2013 Categories : Bikers Pintar

Pada saat pembentukan sosiologi kontinental, Inggris sedang menjadi penguasa dunia yang paling menonjol. Prinsip pemerintahan tak langsung di dalam koloni mengasumsikan bahwa pen duduk yang dijajah adalah totalitas yang tertutup dan pada umumnya mereproduksi diri sendiri masyarakat dengan hak-haknya sendiri. Meskipun masyarakat ini jelas berbeda dengan masyarakat metropolitan namun mereka tetap hidup dan mempertahankan pembawaan khusus mereka.

Bias praktis yang sama juga menjadi ciri sosiologi Eropa kontinental ketika, sebagaimana di Amerika, sosiologi mulai masuk ke dalam universitas-universitas pada akhir abad ke-19. Walaupun demikian sosiologi Eropa tidak berkonsentrasi pada pemecahan masalah tetapi kemunculan ilmu sosial ini dimaksudkan untuk membuat manusia sebagai makhluk rasional ikut aktif ambil bagian dalam gerakan sejarah, suatu gerakan yang diyakini memperlihatkan arah dan logika, yang belum diungkapkan oleh manusia. Karena itu sosiologi dapat membuat manusia merasa seperti di rumah sendiri di dunia yang asing, lebih mampu mengendalikan diri mereka sendiri dan secara kolektif dan tak langsung kondisi tempat mereka harus beraktivitas. Dengan kata lain sosiologi diharapkan akan menemukan kecenderungan historis dari masyarakat modern, dan memodifikasinya. Sosiologi membantu perkembangan dan mengatur proses pemahaman yang mendasar dan spontan. Juga, sejak dari awal, sosiologi mengasumsikan bahwa tidak semua transformasi modern itu bermanfaat atau diharapkan. Karena itu sosiologi harus memberi peringatan kepada publik di semua lapisan, khususnya di tingkat pembuat undang-undang, tentang adanya bahaya yang tersembunyi di balik proses yang tidak terkendali. Sosiologi juga harus memberikan jalan keluar untuk mencegah terjadinya proses yang tidak diinginkan tersebut, atau mengusulkan cara untuk memperbaiki kerusakan.

Proyek-proyek riset dan pengajaran yang berkumpul di bawah nama “sosiologi” di Amerika dipicu oleh perhatian tentang pergolakan yang disebabkan oleh pesatnya industrialisasi dan imigrasi besar-besaran di daerah urban Amerika pada awal abad ke-20. Hal ini juga menjadi perhatian para politisi, pembaharu sosial, dan tokoh-tokoh agama. Perubahan sosial yang terus-menerus di dunia tampaknya membuat dunia semakin terpecah, arah perubahan tidak lagi dibatasi oleh tradisi bersama atau oleh mekanisme pengaturan diri komunal. Akibatnya berbagai pilihan tampaknya mulai terbuka lebar, menawarkan kebebasan eksperimen sosial yang mungkin bisa membahayakan. Latar belakang sosial, dan karena itu tingkah laku manusia, tampaknya menjadi fleksibel dan lentur siap menerima desain rasional dan rekayasa sosial. Dalam konteks ini munculnya “ilmu pengetahuan masyarakat” dianggap sebagai instrumen kebijakan pertama dan terpenting bagi pemerintah lokal dan pekerja sosial. Kebijakan yang dirancang dengan inspirasi dan bantuan ilmuwan sosial dimaksudkan untuk menangani “penyimpangan,” “ketidaknormalan” dan “patologi.” Singkatnya, kesemuanya ini bertujuan untuk memecahkan masalah sosial. Masyarakat dipandang sebagai koleksi masalah yang pertama dan terpenting, dan ilmu sosial diminta untuk memberikan panduan teoretis bagi pemecahan masalah praktis.

Para pendiri dan penerus disiplin studi yang baru ini setuju dengan pandangan tersebut di atas, walaupun mungkin mereka berbeda dalam penafsiran tentang ciri-ciri krusial dan faktor-faktor utama dari trend historis yang harus dipahami. Comte (1798-1857) mengidentifikasi kekuatan penggerak sejarah di dalam kemajuan pengetahuan ilmiah dan di dalam “semangat positif.” Herbert Spencer (1820-1903) membayangkan perjalanan masyarakat modern dari tahap konflik militer menuju tahap “industri” yang damai, di mana tersedia banyak hasil produksi untuk didistribusikan. la meramalkan kemajuan yang berkelanjutan menuju masyarakat yang semakin kompleks, bersamaan dengan bangkitnya otonomi dan diferensisasi individu. Karl Marx (1818-83) memperkirakan pada akhirnya muncul kontrol progresif terhadap alam di dalam emansipasi pe-nuh dari masyarakat untuk menghindari kesengsaraan dan perselisihan, yang akan mengakhiri alienasi produk dari produsennya dan mengakhiri transformasi produk-produk tersebut menjadi modal yang dipakai untuk memperbudak dan mengambil alih produsen, dan pada akhirnya akan mengakhir semua bentuk eksploitasi. Ferdinand Tonnies (1855-1936) memperkirakan pergantian sejarah di mana Gemeinschaft kebersamaan alamiah dari komunitas yang direkatkan oleh rasa saling simpati, solidaritas dan kerja sama akan digantikan oleh Gesellschaft jaringan ikatan parsial, impersonal, mempunyai tujuan tertentu, dan kontraktual. Emile Durkheim (1855- 1917) memfokuskan analisisnya pada trend historis atas pembagian progresif dari tenaga kerja dan karena itu bertambahnya kompleksitas sosial secara keseluruhan. Ia mengajukan sebuah model masyarakat yang diintegrasikan, pertama melalui solidaritas “mekanis” dari segmen yang sama, dan kemudian melalui solidaritas “organik” dari kelas dan golongan profesional yang berbeda- beda namun saling melengkapi. Max Weber (1864- 1920) menghadirkan modernitas terutama dari sudut pandang rasionalisasi semua bidang kehidupan sosial, pikiran dan kebudayaan, dan semakin banyaknya tindakan yang dilakukan berdasarkan kalkulasi rencana dan mengabaikan tindakan irasional atau yang berdasarkan aturan adat istiadat. George Simmel (1859-1918) menekankan pergerakan dari hubungan kualitatif dan terdiferensiasi ke arah hubungan kuantitaif dan seragam, dan menggarisbawahi peran baru yang semakin meningkat yang dimainkan oleh kekuatan yang semakin universal dan mandiri; contohnya yang paling baik adalah institusi keuangan dan aliran pemikiran kategoris abstrak

Munculnya sosiologi di Eropa berbarengan dengan gelombang optimisme di dalam potensi kreatif dan peningkatan kehidupan dan nasib peradaban Eropa. Kepercayaan ini mengambil inspirasi dan konfirmasi dari ekspansi global kekuatan dan pengaruh bangsa Eropa yang pesat dan tidak dapat dihalangi. Superioritas yang diperlihatkan cara hidup Eropa tampaknya menawarkan kepada ilmu-ilmu sosial sebuah model perkembangan sosial yang secara umum tidak perlu diperdebatkan lagi, dan sebuah standar untuk mengukur masyarakat lain dan standar untuk mengantisipasi perkembangannya di masa depan. Selanjutnya sosiologi, sejalan dengan kecenderungan intelektual pada masa itu, mempu¬nyai keyakinan yang sama mengenai kemajuan, harapan perkembangan yang terus-menerus, keyakinan bahwa semua masalah yang ada sekarang atau di masa depan dapat dipecahkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan keahlian teknis, jika ada kehendak politik, dan harapan bahwa masyarakat manusia yang diorganisasikan secara rasional akan menguasai dunia. Sosiologi bermaksud menjadi bagian dari perubahan progresif ini melalui refleksi terhadap perjalanan sejarah yang telah berlangsung dan kemungkinannya di masa depan, dan menyediakan standar yang dengannya pengukuran praktis dapat di-evaluasi. Identifikasi masalah yang berbahaya dan tidak dapat dipecahkan, dan kritik terhadap cara penanganan masalah sosial yang keliru dan tidak efektif, dipandang sebagai konstituen integral dari tugas sosiologi.

Masyarakat ini kemudian menjadi agenda dari tugas studi masyarakat yang kemudian dilakukan oleh bidang yang kita kenal dengan nama “antropologi sosial.” Sampai pertengahan abad ke-20 antropologi sosial mendominasi ilmu sosial di inggris sehingga menghambat pembentukan sosiologi akademik. Kemunculan sosiologi di Inggris bertepatan dengan nintuhnya kekuasaan Inggris di berbagai koloni dan seiring dengan perhatian kepada studi tentang Inggris itu sendiri. Lingkungan tempat di mana sosiologi masuk dalam perdebatan publik di Inggris adalah masa-masa kemunduran dan penurunan, dan bukan masa-masa ekspansi dan optimisme sebagaimana terjadi di Amerika. Hal ini mengakibatkan penerimaan status dan publik terhadap sosiologi memerlukan waktu yang lama.

Incoming search terms:

  • tahap perkembangan sosiologi
  • Tahap tahap perkembangan sosiologi
  • tahapan perkembangan sosiologi
TAHAP PERKEMBANGAN SOSIOLOGI | ADP | 4.5