ORGANISASI SOSIAL ATAU STRUKTUR MASYARAKAT

21 views

Organisasi sosial mencakup pranata-pranata yang menentukan kedudukan lelaki dan perempuan dalam masyarakat, dan dengan demikian menyalurkan hubungan pribadi mereka. Kategori ini pada umumnya dibagi lagi dalam dua jenis atau tingkat pranata-pranata, yaitu pranata yang tumbuh dari hubungan kekerabatan dan pranata yang merupakan hasil dari ikatan antara perorangan berdasarkan keinginan sendiri. Struktur-struktur kekerabatan mencakup keluarga dan bentuk kelompok yang merupakan perluasan keluarga seperti suku atau klen. Ikatan di antara orang yang bukan kerabat melahirkan banyak macam bentuk pengelompokan mulai dari “persaudaraan sedarah” dan persahabatan yang dilembagakan sampai ke berbagai macam “perkumpulan” rahasia dan. bukan rahasia. Kelompok-kelompok usia, walaupun lebih sering bersifat lebih resmi dari pada tidak resmi, mungkin juga memegang peranan penting dalam masyarakat di mana mereka memiliki kedudukan formal berdasarkan tingkat-tingkat usia. Dalam arti yang lebih umum lagi, struktur sosial seyogyanya juga harus mencakup ikatan-ikatan yang bersifat politik yang berdasarkan wilayah dan kedudukan. Sebenarnya fungsi edukatif dari berbagai pranata sosial, khususnya keluarga, juga sangat penting, tetapi karena hal-hal itu menampilkan masalah-masalah tertentu, maka diperlukan pembahasan tersendiri secara terpisah, dari pokok-pokok yang lazim diklasifikasikan dalam bab ini. Namun demikian, dapatlah dikatakan bahwa semua pranata-pranata dan fungsi-fungsi sosial, melalui pengaturannya terhadap perilaku serta pengasuhan kepada generasi yang akan datang tentang sanksi-sanksi yang berlaku serta pola-pola tingkah laku yang disetujui, maka memungkinkan tercapainya kohesi dan kelanjutan dari kebudayaan. Cukuplah untuk memerinci beberapa cara bagaimana pranata-pranata sosial mempengaruhi kehidupan kelompok manusia mana pun untuk memahami mengapa pranata-pranata tersebut diutamakan dalam ilmu yang mempelajari manusia. Dengan penguasaannya terhadap hubungan antara jenis kelamin dan dengan mengadakan kelanjutan kelompok, maka pranata-pranata itu menyentuh beberapa dari faktor penggerak biologis yang paling mendalam dari dalam kehidupan manusia. Dengan menugaskan bagaimana peranan seorang individu di antara sesamanya, dan menyediakan baginya cara-cara untuk mencapai gengsi, hal yang menurut pengamatan di mana-mana dikejar oleh manusia, pranata itu menimbulkan beberapa motivasi psikologis yang dalam pengalaman manusia termasuk motivasi yang paling merajainya. Dalam arti sosiologis, maupun dalam aspek-aspek politiknya, pranata itu mengakibatkan ketertiban dalam kehidupan. Tanpa pranata-pranata sosial yang menyediakan mekanisme untuk mengatur perilaku, maka integrasi perorangan ke dalam masyarakat tidak akan mungkin. Jadi, bukanlah kebetulan, bahwa bidang organisasi sosial merupakan salah satu aspek kebudayaan yang telah dipelajari dengan paling tekun; semua penekunan tersebut telah menghasilkan demikian banyak data dan sejumlali hipotesa mengenai perilaku dan hubungan antarmanusia yang paling banyak dibicarakan.

Dalam bab ini kita akan membicarakan cara-cara yang telah melembaga mengenai pengelompokan manusia. Bagaimana lazimnya cara pria dan wanita mencari pasangannya, aturan-aturan mengenai perkawinan, dan struktur- struktur keluarga yang dihasilkannya semua itu adalah fundamental dalam diskusi kita. Bagaimana kelompok primair ini berkembang menjadi kesatuan- kesatuan yang luas, telah disinggung, dan apa sanksi-sanksi yang nyata dari struktur-struktur yang luas ini, harus diuraikan pula. Akhirnya, kategofi- kategori yang meliputi hubungan bukan kerabat, yaitu yang berdasarkan umur dan ikatan yang terbentuk karena keinginan sendiri akan meminta perhatian kita. Seperti halnya uraian mengenai segi lain dari kebudayaan, maka kita juga akan mencoba memahami bagaimana aneka ragamnya cara yang dipergunakan oleh manusia untuk mencapai tujuan bersama. Tetapi kita juga perlu menyadari bahwa dalam uslaha mencapai tujuan-tujuan itu, tidak terdapat suatu masyarakat pun yang mengorbankan akal sehat ataupun mengorbankan keutuhan yang telah mereka mantapkan dalam hidup bermasyarakat yang telah mereka hayati sebagai hidup terintegrasi dalam kebudayaan mereka. Berbicara mengenai keluarga biologis dan keluarga dalam arti sosiologi mungkin saja hal-hal itu merupakan dua satuan yang berbeda. Dalam banyak masyarakat, sebetulnya konsep sosiologi mengenai keluarga menggambarkan suatu impian biologis dan bukan fakta biologis. Fakta biologis adalah sederhana: diperlukan dua orang tua untuk melahirkan keturunan dan selanjutnya pada setiap jenjang garis keturunan cakal bakal  adalah empat orang, delapan orang dan seterusnya. Beberapa masyarakat memang melembagakan keturunan bilateral ini, sebagaimana bunyi istilah teknisnya. Salah satu masyarakat bilateral sifatnya dan contoh adalah masyarakat Eskimo. Tetapi sebenarnya yang paling sering ditemukan adalah menghitung keturunan menurut pola unilateral, dalam hal mana seseorang termasuk keluarga ayahnya atau keluarga ibunya. Pola garis keturunan yang pertama, adalah patrilineal, dan yang kedua matrilineal. Dalam kedua hal itu pada perhitungan garis keturunan, hanya satu nenek moyang utama yang muncul dalam tiap-tiap’generasi. Dalam masyarakat patrilineal ayah si bapa, bapanya kakek itu dan bapanya lagi, dan seterusnya, yang diperhitungkan; atau dalam kelompok matrilineal ibu si ibu, ibu dari nenek, dan ibu dari nenek itulah yang dianggap sebagai nenek moyang. Mempertontonkan kenyataan biologis seperti yang dilakukan oleh konvensi sosiologis dari cara menarik garis secara unilateral ini mempunyai logikanya sendiri, walaupun sulit bagi orang yang mengasosiasikan keturunan dengan cara bilateral yang untuk memahami cara itu. Tetapi cara unilateral itu sangat mempermudah pencatatan keturunan dan dengan demikian juga mudah untuk menentukan hubungan kekerabatan. Jika seorang kepala suku orang Afrika mengatakan, bahwa ia dapat menuturkan nenek moyangnya sampai empat puluh generasi ke atas, ia menyatakan suatu fakta dalam adat kebiasaan sosiologis masyarakatnya. Ia hanya perlu mengetahui 40 nama sedangkan sebaliknya orang yang konsekuen berpegang pada ketelitian biologis perlu mengetahui 1,048.576 nama nenek moyang. Bahwa usaha menuturkan silsilah leluhur sesuai dengan kenyataan biologis, adalah mustahil harus diakui, juga dalam kebudayaan yang menganut sistem bilateral. Jadi, bila diakui sepenuhnya, bahwa cara menghitung keturunan orang Euro-Amerika adalah bilateral, sehubungan dengan pengakuan ikatan kekerabatan melalui ibu dan bapa, namun mengenai nama keluarga, sistemnya adalah patrilineal. Gejala menggunakan dua nama keluarga dengan tanda penghubung, terkenal terutama di Spanyol dan*dipakai di lingkungan elit di lain tempat. Cara itu pun hanya bisa bertahan selama satu atau dua generasi. Kalau tidak demikian, maka kartu nama terpaksa berbentuk suatu buku kecil. Tidak sukar untuk membayangkan bagaimana aspek sistem garis keturunan yang unilateral itu mengarahkan identitas genealogi kepada fihak bapa dan cenderung mengaburkan peranan leluhur pihak perempuan, yang “nama” keluarga semasa gadisnya tidak terpakai setelah perkawinan dan tidak diteruskan kepada anak-anak.

Karena untuk banyak pembaca cara menarik garis keturunan melalui bapa barangkali lebih diketahui maka rasanya lebih banyak gunanya untuk mengambil contoh dari kebudayaan yang mengikuti garis keturunan matrilineal, karena hal demikian lebih menyolok bagi kita dan lebih mengesankan dalam hal-hal yang akan kita selidiki. Tidaklah tepat untuk menduga, bahwa pola-pola dari keturunan matrilineal lebih banyak ditemukan dalam kebudayaan-kebudayaan yang belum mengenal abjad. Banyak masyarakat kecil, dengan sumber-sumber terbatas, memiliki sistem keturunan bilateral, misalnya suku bangsa Eskimo, suku bangsa Bushmen dari Afrika Selatan, suku bangsa Yahgan dari Tierra del Fuego di Amerika Selatan. Sistem keturunan patrilineal tersebar luas di Afrika Timur dan Barat, di Melanesia dan di antara suku bangsa Indian di Amerika Utara dan Selatan. Tidak perlu disangsikan lagi bahwa perbedaan dalam cara menarik garis keturunan sangat berpengaruh terhadap hubungan psikososial di antara anggota-anggota keluarga dalam masyarakat matrilineal dan patrilineal. Satu segi dari jiwa patrilineal dalam adat kebiasaan keluarga adalah peranan sang ayah. Dalam dirinyalah tersimpul masyarakat itu sendiri ia adalah kepala keluarga, dialah perantara dalam penentuan nasib. Menurut adat kebiasaan, dan di beberapa negara menurut hukum, ia menguasai sumber-sumber ekonomi keluarga. Yang paling utama adalah fungsinya sebagai pengadilan tertinggi dalam mendisiplin anak-anak. Sehubungan dengan semua itu, maka hubungannya dengan anak-anaknya, serta kerabatnya dari garis samping berlainan sekali dari hubungan isterinya dengan mereka itu. Di luar rumah, dialah biasanya yang berbicara atas nama kelompok; sedangkan di dalam rumah tangga khususnya terhadap anak-anaknya, peranan sang isteri lunak dan lebih lembut tentunya dengan mengingat perbedaan wajah ibu tersebut. Bila situasinya demikian dalam struktur keluarga yang sifat patrilinealnya hanya terbatas kepada beberapa segi, dan itu pun bukan merupakan sifat yang diakui secara formal maka dapatlah dimengerti bahwa sifat-sifat tersebut tadi ditekankan dalam keluarga-keluarga di suatu masyarakat di mana cara menarik garis keturunan patrilineal mendapat pengakuan sosial yang penuh.

Sebaliknya, organisasi dan fungsi dari kelompok yang bergaris keturunan matrilineal, dan hubungan-hubungan yang terdapat antara anggota-anggotanya, berlainan sekali. Walaupun dalam kenyataannya baiiyak variasinya dalam hal-hal, di mana berlaku garis keturunan ibu, namun terdapat kecenderungan bahwa peranan kepala keluarga dipegang oleh saudara lelaki si ibu dan bukan oleh sang ayah. Dalam beberapa hal, tradisi matrilineal sesuatu kebudayaan dapat dikaitkan dengan tempat kediaman matrilokal dalam hal mana seorang suami, sesudah kawin, bertempat tinggal di desa isterinva. tetapi tidaklah selalu ada hubungan korelasi antara kedua hal itu. Kebiasaan di mana isteri datang menetap ke rumah sang suami disebut tempat kediaman patrilokal. Jika tempat tinggal matrilokal berkaitan dengan garis keturunan ibu, perasaan bahwa wanitalah yang mempunyai kedudukan dalam keluarga, mungkin demikian kuatnya, sehingga sang suami dianggap sebagai semacam orang luar dalam lingkungan keluarga isterinva dan ada kemungkinan besar, seperti halnya pada orang Zuni (suatu suku Indian di Amerika Serikat) suami menderita karena itu. Di antara orang Zuni itu sudahlah dianggap pasti bahwa seorang pria, untuk seumur hidup, bermukim dengan kerabat perempuan dari “keluarganya” yaitu rumah ibunya atau setelah ibunya meninggal, rumah saudara-saudara perempuannya. Di rumah yang orang Barat namakan “rumahnya sendiri”, yaitu tempat tinggal isteri dan anak-anaknya, ia tidak mempunyai kedudukan apapun, kecuali kedudukan yang diperolehnya karena sudah lama tinggal di sana serta rasa hormat terhadap dirinya yang ditunjukkan oleh kerabat pihak isterinva.

Nyatalah, bahwa hubungan-hubungan di dalam keluarga akan sangat dipengaruhi oleh semua faktor itu. Pemindahan fungsi-fungsi yang dipegang oleh seorang ayah sebagai kepala keluarga dalam masyarakat-masyarakat patrilineal, kepada saudara lelaki tertua dari sang ibu. sering terjadi. Saudara lelaki sang ibu mengendalikan keuangan keluarga, ia berbicara atas nama keluarga dan sehubungan dengan anak-anak. merupakan pengadilan tertinggi dan semakin meningkat umur mereka, memegang peranan semakin penting dalam pendidikan mereka, yaitu dalam hal menegur dan menghukum mereka. Hal ini memberi sang ayah peranan sebagai teman bermain, juru penasehat. dan sahabat anak-anaknya. Perasaan emosional yang dikaitkan dengan konsep “ayah” dalam masyarakat-masyarakat patrilineal atau dalam masyarakat-masyarakat bilateral yang cenderung ke patrilineal, akan berbeda sekali dari apa yang terdapat pada kebudayaan-kebudayaan matrilineal. Malinowski. dalam karyanya yang paling terkenal, menyatakan bagaimana di kepulauan Trobriand. hubungan keluarga ini merupakan suatu rasionalisasi sosial yang menonjol dan dengan itu memberi contoh klasik vang ekstrem mengenai apa yang terjadi pada sistem matrilineal yang menyeluruh. Di Kepulauan Trobriand, fiksi sosial mengenai keturunan unilineal diperkuat oleh suatu tradisi vaitu gagasan bahwa kaum lelaki tidak memegang peranan fisiologis dalam proses reproduksi. Seorang wanita dianggap menjadi hamil, diakibatkan oleh makhluk-makhluk gaib tertentu yang memasuki kandungannya, saluran mana telah terbuka karena ia telah melakukan persetubuhan. Seorang ayah di Trobriand dikatakan tidak mempunyai hubungan dengan anaknya, baik secara biologi maupun dari sudut sosial; perlu digarisbawahi bahwa pandangan semacam itu, juga dianut oleh beberapa masyarakat lain, yang tidak semua menganut sistem keturunan matrilineal. Ayah itu menjalankan peranan sebagai pengasuh dan teman bermain dalam lingkungan keluarganya. Hubungan antara dia dan anaknya dilukiskan sebagai hubungan yang menyenangkan saja. Ia mengelus-elusnva, menggembirakannya, memanjakannya, tetapi tidak pernah mengoreksinya, pun juga tidak pernah menghukumnya. Sebagai kelanjutan dari itu anak-anak dianggap menyerupai ayahnya, dengan siapa ia dianggap tidak mempunyai huburigan biologis dan tidak menyerupai ibunya, karena menurut teori penduduk asli, dengan mengelus-elus anak kecil, sang ayah membentuk si anak menurut teladannya. Dianggap sebagai suatu pujian, jika dikatakan kepada seseorang, bahwa dia serupa dengan ayahnya, tetapi jelas merupakan celaan bila dikatakan bahwa seorang serupa dengan ibunya!

Harus ditekankan bahwa keluarga inti. atau keluarga nuklear yaitu kelompok yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak adalah hal universal. Pun dalam contoh-contoh di mana peranan fisiologi sang ayah dalam proses reproduksi tidak difahami, dan contoh itu sedikit saja, pranata sosial-ekonomis, keluarga langsung, merupakan unsur yang berlaku penuh dalam masyarakat. Selanjutnya, terdapat data yang jelas membuktikan bahwa apa pun vang terjadi sebagai akibat dari adat kebiasaan penghitungan garis keturunan yang sepihak, kedua orang tua dan keluarga mereka, walaupun luasnya dapat dibatasi, menduduki tempat yang wajar dalam rasa penghargaan semua anggota dalam kelompok keluarga. Di Australia, di mana keturunan patrilineal berlaku, Radcliffe-Brown telah menunjukkan bahwa hubungan yang mengikat seorang anak kepada ibunya, sebagaimana juga hubungan dengan ayahnya, diperluas juga jangkauannya kepada kerabat dari garis samping. Karena ada suatu hubungan yang erat antara anak dan ibu, serta ada hubungan yang erat antara ibu anak dengan saudara lelakinya, maka di antara anak itu dan saudara lelaki si ibu terjalin hubungan pribadi yang erat. Saudara lelaki ibu itu tidak dihadapi sebagai seorang ayah atau saudara lelaki ayah, melainkan sebagai seorang ibu lelaki. Begitupun saudara perempuan ayah dihadapi sebagai seorang “ayah” perempuan. Dalam semua suku Australia saudara lelaki kandung dan saudara perempuan kandung, dari ayah, menduduki tempat utama dalam kehidupan seseorang, dan seluruh sistem kekerabatan hanya dapat dimengerti jika hal tersebut dapat disadari sepenuhnya.  Tidak ada aspek organisasi sosial yang lebih menarik, dan juga yang menunjukkan begitu banyak jenis variasi, seperti halnya dalam bentuk-bentuk hubungan semacam itu. Akan kita bahas lagi soal ini, jika kita membicarakan kelompok-kelompok sosial yang lebih besar, dan sistem dari istilah kekerabatan yang mengungkapkan bentuk-bentuk yang terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *