PARIWISATA SEBAGAI SARANA KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

By On Wednesday, August 19th, 2015 Categories : Bikers Pintar

Jika ditinjau dari sudut pandany komunikasi antar budaya (intercultural communication), pariwisata merupakan sarana dalam mana terjadi komunikasi antar budaya, baik antara wisman dan masyarakat tujuan wisata, antara wisman yang berasal dari negara yang berbeda, maupun antara wisnu (wisata nusantara) sendiri.

Dalarn suatu proses komunikas; paling sedikit harus ada tiga unsur, yakni komunikator ( orang yang menyampaikan pesan), komunikan (orang yagn menerima pesan) dan pesan itu sendiri. Dalam komunikasi antar budaya (intercultural communication) komunikator berasal dari satu budaya atau sub-budaya dan komunikan berasal dari budaya/ sub budaya yang lain. Di samping itu proses komunikasi berlangsung tidak dalam “ruang hampa”, melainkan ada dalam lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan sosial ini tidak lain adalah lingkungan budaya.

Sedangkan budaya atau kebudayaan dapat dirumuskan sebagai KeseluruhAn sistem gagasan, sitem tindakan dan hasii karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan “milik diri manusia dengan belajar (Koentjoroningrat, 1990 180). Sistem gagasan unsur yang paling abstrak, lokusnya/tempatnya ada pada kepala/pikiran masing-masing manusia yartg hidup dalam lingkungan budaya tersebut. Sistem gagasan, yang meliputi sistem kepercayaan dan sistem nilai ini adalah yang memberi arah, orientasi pada tindakan dan hsil karya manusia. Dengan demikian perbedaan budaya akan mengakibat kan perbedaan pula dalam pola pikir, tindakan atau perilakunya serta hasil karyanya. Adanya kontak dan komunikasi antar budaya yang berbeda itu akan membawa beberapa implikasi, antara lain masuknya pengaruh budaya asing yang negatif (nilainilai) yang tidk sesuai dengan nilai-nilai budaya masyarakat setempat) ke dalam budaya masyarakat daerah tujuan wisata, sehingga jika berlangsung dalam .waktu yagn lama akan mengakibatkan memudarnya rasa jati diri, kepribadian, serta diserapnya polapola hidup orang asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yagn dianut oleh masyarakat setempat.

Adanya persepsi bahwa orang barat mempunyai harkat dan martabat atau kebudayaan yagn lebih tinggi daripada bangsanya (Indonesia) adalah keliru. Anggapan seperti ini akan cenderung mempermudah pada peniruan pola-pola tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang dianut dalam masyarakat. Dalam komunikasi antar budaya terdapat konsep bahwa selama menyangkut budaya/kebudayaan, tidak ada budaya yang lebih tinggi atau lebih rendah, tidak ada budaya yang salah atau benar. Yang ada hanyalah perbedaan buydaya (Mulyana, 1990). Pemahaman dan penghayatan konsep ini sangat penting, terutama bagi masyarakat tujuan wisata, agar selektif dalam menyerap nilai-nilai asing, sehingga tidak terpengruh oleh pola-pola hidup yang tidak sesuai dengan niali-nilai budaya kita. Oleh karena itu sejalan dengan perkembangan pariwisata internasional, perlu dilakukan beberapa upaya, terutama upaya pihak pemerintah agar akibat buruk dari “membanjirnya” wisman dapat ditekan seminimal mungkin, serta perlu upaya-upaya untuk mengantisipasi pengaruh negatif dari perkembangan pariwisata ini. Hal ini tentu saja sudah disadari sepenuhnya terutama oleh pemerintah dalam hal ini jajaran Deparpostel. .

Di sini dikemukakan sebagai alternatif beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menangkal masuknya nilai-nilai asing yang negatif antara lain :

  1. Lebih menanamkan-pemahaman dan pengertian kepada masyarakat (tujuan wisata) tentang nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah negara Republik Indonesia.
  2. Memberikan penerangan kepada masyarakat (tujuan wisata) agar melestarikan seni budaya daerahnya, nilai-nilai luhur budaya yang dianutnya.
  3. Memberi penerangan kepada masyarakat (tujuan wisata), agar masyarakat memahami dan menyadari arti pentingnya program sadar wisata.

Namun demikian di samping dampak negatif, banyaknya wisman yang berkunjung ke tanah air, membawa banyak manfaat, dan memegang peranan penting dalam berbagai aspek, baik aspek ekonomi maupun aspek sosial budaya. Dalam aspek ekonomi di antaranya peningkatan penerimaan jumlah devisa, dan menambah lapangan kerja.  Sedangkan aspek sosial budayanya antara lain menghidupkan kembali kesenian serta kerajinan daerah-daerah tujuan wisata, semakin dikenal lebih dekat dan lebih luas adat istiadat masyarakat daerah-daerah tujuan wisata dan Iain-Iain. Pengembangan pariwisata ditinjau dari sudut pandang komunikasi antar budaya berperan sebagai sarana pergaulan antar bangsa yang harus memperkenalkan dan menjunjung nama dan martabat bangsa. Di samping itu mendorong saling pengertian dan rasa saling hormat antara bangsa yagn berlandaskan kemerdekaan, perdamaian dan keadiian sosial (Deparpostel, 1988 : 56).

Dengan banyaknya bangsa-bangsa melakukan wisata, maka akan timbul saling mengenal antara satu bangsa dengan bangsa lainnya, baik adat istiadatnya, nilainilai budayanya dan alam lingkungannya, sehingga akan ada saling pengertian. Pada akhirnya akan meredakan keteganganketegangan antar bangsa. Kepariwisataan dapat dipandang sebagai suatu yang abstrak, misalnya sebagai suatu gejala yagn melukiskan kepergian orang-orang di dalam negaranya sendiri. (pariwisata domestik) atau penyeberangan orang pada tapal batas suatu negara (pariwisata internasional). Proses kepergian irii akan menyebabkan terjadinya interaksi dan hubungan-hubungan, saling pengertian insani, perasaan-perasaan, persepsipersepsi, motivasi dan Iain-Iain di antara sesama pribadi atau antar kelompok. Suatu pendekatan perilaku untuk meneliti gejala wisatawan ini akan merupakan metode yang tepat untuk menekankan segi manusiawi dari gejala tersebut dan peranannya dalam menjembatani hubungan-hubungan antar bangsa. Oleh karena itu secara khusus pariwisata dapat dipergunakan sebagai suatu sarana komuniikasi diantara bangsa-bangsa. Dengan komunikasi ini dapat memperkecil kesenjangan, kesalah pahaman, konflik-konflik, dapat menciptakan saling pengertian di antara negara maju, yang biasanya adalah negara-negara sumer wisatawan atau negara “pengirim wisatawan”, dengan negara-negara yang sedang berkembang, sebagai negara-negara tujuan wisata atau negara “penerima wisatawan.

Jika kita kaitkan dengan hubunganhubungan politik, sosial dan budaya, maka pariwisata yang sudah direncAnakan aengan baik dan berfungsi secara tepat dapat membantu meningkatkan dan memupuk hubungan-hubungan tersebut, sehingga akan memperiuas saling pengertian di antara bangsa-bangsa (Wahab, 1988 ; 58). Di dalam bentuk-bentuk hubungan tersebut terjadi proses komunikasi antar budaya (antar bangsa). Pada dasarnya manusia melakukan komunikasi karena ingin mencapai pengertian bersama.. Wilbur Schramm memberikan pengertian komunikasi dengan melihat asal katanya (secara etimologis). Menurutnya komunikasi berasal dari kata communication (bahasa Inggris). kata communication berasal dari kata communicatio (latin) dan communicatio diambil dari kata communis yang artinya kesamaan. Yang dimaksud di sini adalah kesamaan pengertian. Jadi jika kita mengadakan komunikasi pada dasarnya ingin mengadakan kesamaan pengertian antara kita dengan yang diajak berkomunikasi (dikutip lagi dari “Komunikasi dalam Teori dan Praktek, Effendy, 1990).

Seperti yang diutarakan di muka bahwa kebudayaan meliputi selain gagasan, sistem nilai, adat istiadat, dan sistem tindakan, juga meliputi hasil karya manusia. Manusia adalah makhluk berbudaya. Setiap bangsa memiliki budaya yang khas. Parta wisman biasanya sangat tertarik terhadap hal-hal yang khas yang dimiliki oleh suatu bangsa. Baik kekhasan dalam hal seni budaya maupun alam lingkungannya. Kebudayaan dalam arti pikiran-pikiran suatu bangsa pada suatu waktu tertentu dapat tercermin dalam hasil karyanya. hasil karya yang dimaksud dapat berupa kesenian-kesenian dan benda-benda misalnya benda-benda bersejarah. Hasil karya seni budaya adalah expresi tentang pikiran, perasaan, dan cita-cita yang dianut oleh bangsa tersebut dalam kurun waktu tertentu. Hasil karya tersebut merupakan pesan bagi orang yagn memahaminya Dengan mempelajari benda-benda hasil karya suatu bangsa dalam suatu waktu tertentu, orang (misalnya wisman) dapat mengetahui sampai sejauh mana tingginya kebudayaan bangsa tersebut dalam kurun waktu tertentu, agama apa yagn dianut dan lain sebagainya. Pendek kata dengan memahami budayanya (hasil karyanya), orang (wisman) akan memahami siapa kita (bangsa Indonesia). Oleh karena itu dalam rangka pengembangan pariwisata dan sebagai lambang/simbol yang mewakili budaya bangsa, kita perlu melestarikan benda-benda bersejarah dan senibudaya tradisional yang ada.

PARIWISATA SEBAGAI SARANA KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA | ADP | 4.5