PEMIKIRAN PRAGMATISME TENTANG TEORI KEBENARAN

By On Sunday, October 25th, 2015 Categories : Bikers Pintar

Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatisme adalah logika pengamatan. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat yang praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi diterimanya, asal bermanfaat, bahkan kebenaran mistis dipandang sebagai berlaku juga, asal kebenaran mistis itu membawa akibat praktis yang bermanfaat. (Harun Hadiwijono, 1990).
Dalam perkembangan lebih lanjut pragmatis berjalan dalam tiga jurusan yang berbeda, artinya: sekalipun semuanya berpangkal dari satu gagasan asal, namun pada dasarnya ketiganya adalah sama, yaitu menolak segala intelektualisme dan absolutisme, serta meremehkan logika formal. Pemikirpemikir yang menganut pragmatisme adalah Charles Sanders Pierce, William James dan John Dewey.
1. Charles Sanders Peirce.
Filsafat dan Epistemologinya.
Pragmatisme sebagai “Karya”nya sendiri, bukan sebagai “suatu Weltanschauung” dan bukan pula “doktrin metafisik”. Tetapi sebagai suatu metode refleksi bagi tujuan memperjelas ide-ide. Metodenya ini menurut Peirce merupakan alat efisien yang mengagumkan untuk membantu semua cabang science. Menurut Pierce filsafat adalah science positif bagi penemuannya terhadap apa yang sesungguhnya benar.
Teori Kebenarannya.
Menurut Pierce kebenaran dapat dicapai dengan penarikan kesimpulan dari pengalaman umum. Pembuktian terhadap kebenaran suatu idea merupakan secara praktis terhadap beberapa aspek. Yang diutamakan dalam kebenaran adalah konsekuensinya bukan istilah “kebenaran”an-sich.
2. William James.
William James dilahirkan di New York pada tahun 1842. Setelah belajar ilmu kedokteran di Universitas Havard ia belajar psfikoiogi di Jerman dan nampaknya juga di Perancis. Kemudian ia memSeri kuliah di Uni-versitas Havard, yaitu secara ^ berturut-turut : anatomi, fisiologi, psikologi dan filsafat, hingga tahun 1907. Pada tahun 1910 ia meninggal dunia.
Karyanya banyak, di antaranya yang penting adalah : The Principles of Psychology (1890), The Will to Believe (1897), The Varieties of Religious Experience (1902) dan Pragmatism (1907).
Sebelum william James, orang berpendapat bahwa kesadaran adalah ‘sesuatu” semacam bahan asli atau kualitas “yang ada”, yang keadaannya berbeda sekali dengan bahan daripadanya obyekobyek bendani dibuat. (Harun Hadiwijono, 1990).
Pandangan itu ditentang oleh William James. Menurut dia kesadaran adalah sebutan bagi sesuatu yang tidak diwujudkan suatu kesatuan lahiriah. Sebab kesadaran adalah suatu fungsi, di dalamnya arus gejalagejala berlangsung terus tiada hentinya. Oleh karena itu kesadaran tidak boleh diberi tempat di antara asas-asas pertama, dan kita tidak boleh melengket kepada kesadaran itu. Satu-satunya bahan asli atau satu-satunya materi, yang daripadanya segala sesuatu di dalam dunia ini dibuat, adalah “pengalaman murni”. Yang dimaksud dengan pengalaman murni ialah perubahan-perubahan langsung yang terusmenerus dari hidup ini, yang melengkapi bahan-bahan yang diperlukan bagi pemikiran kembali atau refleksi kita di kemudian hari. (S.udarsono, 1993).
Menurut William James, akal dengan segala perbuatannya ditaklukkan oleh perbuatan. Akal dan segala perbuatannya itu hanya berfungsi sebagai pemberi informasi bagi praktek hidup dan sebagai pembuka jalan baru bagi perbuatan-perbuatan kita. Segera akal telah memberi informasi serta telah membuka jalan baru bagi perbuatan kita, kita mendapatkan suatu keyakinan sementra, yang disebut* “kepercayaan”, yang merupakan persiapan langsung yang kita perlukan bagi perbuatan. (Haiur, ! ladiwijono, 1990).
Di dalam bukunya The Meaning of Truth, atau “Arti Kebenaran”, William-James mengemukakan, bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas daripada akal yang mengenai. Sebab pengalaman kita ber-jalan terus, dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena di dalam prakteknya apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu tiada kebenaran yang mutlak, yang ada adalah kebenaran-kebenaran, (artinya : dalam bentuk jamak) yaitu apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman yang khusus, yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya.
Nilai pertimbangan kita tergantung kepada akibatnya, kepada kerjanya, artinya : kepada keberhasilan perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar jikalau bermanfaat bagi pelakunya, jikalau memperkaya hidup serta kemungkinankemungkinan hidup.
Masalah dunia, William James berpendapat bahwa dunia tidak dapat diterangkan dengan berpangkal dari satu asas saja. Kenyataan terdiri dari banyak kawasan yang berdiri sendiri-sendiri. Suatu hipotesa yang diterima sebagai pemecahan sementara ialah bahwa dunia adalah suatu dunia yang terdiri dari banyak hal yang beraneka ragamnya. Dunia bukanlah suatu universum, melainkan suatu multiversum. Dunia adalah suatu tempat pementasan kekuatankekuatan yang saling bertentangan. Di dalarn dunia itu manusia mendapat kesempatan untuk mengikutsertakan kehendak dan kekuatannya dalam pertentangan tadi. Di dalam pertentangan itu manusia dapat campur tangan secara menentukan. (Harun Hadiwijono, 1990).
3. John Dewey.
John Dewey dilahirkan di Burlington pada tahun 1859. Setelah menyelesaikan studinya di Baltimore ia menjadi guru besar di bidang filsafat dan kemudian juga di bidang pendidikan pda Universitasuniversitas di Minnesota, Michigan, Chicago (1894-1904), dan akhirnya di Universitas Columbia (1904-1929).
John Dewey adalah seorang pragmatis, tetapi ia lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah instrumentalisme. Menurut dia, tugas filsafat ialah memberikan garis-garis pengarahan bagi perbuatan dalam kenyataan hidup. Oleh karena itu filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang tiada faedahnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman (experience), dan menyelidiki serta mengolah pengalaman itu secara aktifkritis. Dengan demikian filsafat akan danat menyusun suatu sistem norma-norma dan nilainilai.
Menurut John Dewey, pemikiran kita berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju ke pengalaman-pengalaman. Gerak itu dibangkitkan segera kita dihadapkan dengan suatu keadaan yang menimbulkan persoalan dalam dunia sekitarnya, dan gerak itu berakhir Oalam beberapa perubahan dalam dunia sekitar atau dalam diri kita sendiri. Pengalaman yang langsung bukanlah soal pengetahuan, yang mengandung di dalamnya pe^nisahan antara subyek dan obyek, pemisahan antara pelaku dan sasarannya. Di dalam pengalaman langsung itu keduanya bukan.dipisahkan, tetapi dipersatukan. Apa yang dialami tidak dipisahkan dari yang mengalaminya sebagai suatu hal yang penting atau yang berarti. Jikalau terdapat pemisahan di antara subyek dan obyek hal itu bukan pengalaman, melainkan pemikiran kembali atas pengalaman tadi. Pemikiran itulah yang menyu-sun sasaran pengetahuan. (Poejawijatno, 1980).
Menurut John Dewey, penyelidikan adalah transformasi yang terawasi atau terpimpin dari suatu keadaan yang tak menentu menjadi suatu keadaan yang tertentu. Penyelidikan berkaitan dengan penyusunan kembali pengaiaman yang dilakukan dengan sengaja. Oleh karena itu penyelidikan dengan penilaiannya ada-lah suatu alat (instrument). Jaai yang dimaksud dengan instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbanganpertimbangan, penyimpulanpenyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam itu, dengan cara pertama-tama menyelidiki bagaimana pikiran berfungsi dalam penentuanpenentuan yang berdasarkan pengalaman, yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan. (Harun Hadiwijono, 1990).
Dalam rangka pandangan ini maka yang benar jalan apa yang pada akhirnya disetujui oleh semua orang yang menyelidikinya. Kebenaran ditegaskan dalam istilah-istiiah penyelidikan. Kebenaran sama sekali bukan hal yang sekali ditentukan tidak boleh diganggugugat, setfab dalam prakteknya kebenaran memiliki nilai fungsional yang tetap. Segala pernyataan yang kita anggap benar pada dasarnya dapat berubah.
Mengenai adalah berbuat. Kadar kebenarannya akan tampak dari pengujiannya oleh pengalaman-pengalaman di dalam praktek. Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pengalaman dan untuk mengetahui artinya yang sebenarnya adalah metode induktif. Metode ini bukan hanya berlaku bagi ilmu penge-tahuan fisika, melainkan juga bagi persoalan-persoalan sosial dan moral.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Epistemologi adalah salah satu cabang filsafat yang membahas dan mempermasalahkan hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan manusia, baik mengenai sumber pengetahuan, batas-batas pengetahuan maupun validitas (kebenaran) pengetahuan).
2. Teori kebenaran yang dikenal ada empat macam yaitu, teori kebenaran koherensi, korespondensi, pragmatis, dan teori kebenaran berdasarkan arti.
3. Ukuran kebenaran bagi teori kebenaran pragmatis adalah pengetahuan itu benar apabila proposisi (pernyataan) itu mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang dapat dipergunakan dan bermanfaat bagi yang mempunyai pengetahuan.
4. Teori kebenaran pragmatsi berkembang pada filosof-filosof Amerika yang lebih mengutamakan filsafat yang bersifat praktis. Pemikir-pemikir pragmatisme itu adalah Charles Sanders Pierce, William James dan John Dewey.

PEMIKIRAN PRAGMATISME TENTANG TEORI KEBENARAN | ADP | 4.5