PENDEKATAN DARI SUDUT ILMU JIWA (PSIKOLOGI)

70 views

Awal tahun 1920-an, beberapa orang ahli antropologi Amerika mulai tertarik pada hubungan antara kebudayaan dengan kepribadian. Fokus yang khusus dari studi-studi permulaan tersebut adalah tentang pengalaman masa kanak-kanak dan bahwa pengalaman tersebut tampaknya mempengaruhi perilaku setelah dewasa. Sebelum ini, ahli-ahli antropologi tidak mencatat kebiasaan-kebiasaan mengasuh anak-anak sebagai aspek penting dari kebudayaan; tapi kemudian di bawah pengaruh Freud dan penulis mengenai teori pendidikan John Dewey, para ahli antropologi menjadi tertarik pada lingkungan kebudayaan dari bayi atau kanak-kanak dan masa itu dianggap sangat penting artinya untuk pembentukan kepribadian dewasa yang khas dalam suatu masyarakat.

Dalam seminar pada Columbia University di tahun 1930-an dan 4U-an, Ralph Linton, seorang ahli antropologi dan Abram Kardiner seorang ahli ilmu jiwa analisa mengembangkan sejumlah pemikiran untuk studi kebudayaan dan kepribadian. Yang terpenting, adalah pemikiran Kardiner yang mengutarakan bahwa semua warga dari suatu masyarakat memiliki suatu struktur kepribadian dasar yang sama. Karena para warga masyarakat itu cenderung menjalani latihan yang sama mengenai cara buang air besar/kecil, menjalani cara menertibkan yang sama dalam masa kanak-kanak, cara menyapih yang sama dan sebagainya, maka sebagai orang dewasa mereka cenderung mempunyai unsur-unsur kepribadian tertentu yang sama. Selama Perang Dunia II dan tidak lama sesudahnya, orientasi studi kebudayaan dan kepribadian itu diterapkan pada masyarakat-masyarakat yang kompleks. Hampir semua penelitian yang mendalami “kepribadian nasional” menyimpulkan bahwa ciri-ciri kepribadian yang tampak berbeda-beda pada bangsa-bangsa di dunia ini bersumber pada cara pengasuhan pada masa kanak-kanak. Contohnya adalah: Dalam tiga penelitian dikemukakan bahwa orang Jepang yang dewasa menjadi bersifat memaksakan kehendaknya karena latihan mengenai cara-cara buang air besar yang ketat yang mereka terima pada masa kanak-kanak mereka.’ Demikian juga emosi manic depresif yang dianggap biasa di antara orang-orang Rusia menurut Gorer dan Rickman bersumber pada cara pemeliharaan bayi-bayi yaitu anak “dibedong” sejak saat kelahirannya.  “Membedong” adalah meliliti bayi dengan carikan-carikan kain sedemikian rupa sehingga tangan dan kaki bayi tidak dapat bergerak bebas dan ini katanya menyebabkan kemarahan dan frustasi pada si bayi yang kemudian hari setelah dewasa diekspresikan dalam manic depresif.

Sayang bahwa para peneliti tentang sifat keras orang Jepang yang tersebut tadi tidak dapat melaksanakan penelitian lapangan lebih lanjut karena meletusnya Perang Dunia II. Ahli antropologi yang mempelajari kepribadian orang Rusia, karena perang terpaksa juga memakai metoda penelitian yang langsung. Kemudian setelah para peneliti dapat lagi mengumpulkan data dari tangan pertama dan mencari sampel yang lebih baik, ditemukan bahwa kesimpulan- kesimpulan penelitian di atas tidak selalu dapat diandalkan: contohnya ternyata tidak benar orang Jepang menjalani latihan yang ketat sekali mengenai cara-cara buang air. Pendek kata penelitian yang mula-mula tentang kepribadian nasional adalah percobaan yang masih “kasar” mengenai penggunaan metoda-metoda ilmu sosial untuk menopang kesimpulan umum yang bersifat subjektif tentang perbedaan jenis-jenis kepribadian antara masyarakat-masyarakat yang kom-pleks.

Dalam perkembangannya kemudian, fokus dari pendekatan psikologis pada keanekaragaman kebudayaan, berubah. Perhatian pada teori-teori Freud dan minat terhadap hubungan antara pengasuhan semasa kanak-kanak dengan kepribadian setelah dewasa tetap dipertahankan namun beberapa orang ahli antropologi mulai meneliti faktor-faktor penentu apa saja yang mungkin menjadi penyebab dari kebiasaan pengasuhan anak-anak yang beraneka ragam itu. Dalam suatu studi perbandingan misalnya Barry, Child dan Bacon mengemukakan bahwa penyediaan bahan makanan dalam masyarakat yang mata pencariannya adalah berternak dan pertanian adalah paling terjamin jika orang berpegang teguh pada tata kelakuan yang rutin yang sudah menetap sifatnya karena kesalahan mungkin membahayakan persediaan bahan makanan untuk setahun. Sebaliknya dalam kebanyakan masyarakat yang berpencarian berburu dan menangkap ikan, kesalahan-kesalahan mungkin hanya membawa akibat pada persediaan makanan sehari; akibatnya ketaatan pada cara-cara rutin tidak bersifat hakiki dan prakarsa individu dapat ditonjolkan. Sesuai dengan perkiraan para peneliti, bukti-bukti dari ‘penelitian cross-cultural (dilakukan dalam berbagai kebudayaan) menunjukkan bahwa masyarakat pertanian lebih cenderung untuk menekankan ketaatan dan pertanggungjawaban dalam melatih anak-anak mereka, sedang masyarakat berburu dan penangkap ikan cenderung untuk menekankan pada kemerdekaan dan ketergantungan pada diri sendiri.

Di samping penjajagan faktor-faktor penentu atau determinan dari pola pengasuhan anak yang beraneka ragam dalam melatih anak tersebut, studi-studi akhir-akhir ini mengemukakan bahwa sifat-sifat kepribadian dan prosesnya mungkin menjadi penyebab dari hubungan-hubungan tertentu antara beberapa pola-pola kebudayaan. Cara berpikirnya adalah bahwa kebudayaan tertentu menghasilkan karakteristik psikologis tertentu yang pada gilirannya menimbulkan ciri budaya lainnya. Peranan “perantara” dari kepribadian demikian antara lain dikemukakan dalam tulisan John W.M. Whiting dan Irvin L. Child tentang penjelasan mengenai penyakit yang dikaitkan dengan kebudayaan.10 Mereka mengemukakan bahwa hukuman yang keras dalam pendidikan anak-anak (suatu karakteristik kebudayaan) dapat menjurus pada perhatian yang berlebihan terhadap bidang hidup itu (suatu karakteristik psikologis) sesuatu hal yang pada gilirannya mungkin mengarahkan orang dalam masyarakat bersangkutan untuk mengembangkan suatu kepercayaan bahwa beberapa aktivitas dalam bidang konflik psikologis yang sama menyebabkan penyakit (juga suatu karakteristik kebudayaan). Demikianlah hukuman yang keras terhadap agresi pada masa kanak-kanak dapat menjuruskan kepada konflik mengenai ekspresi dari agresi pada masa dewasa, yang seterusnya dapat mengarahkan orang-orang pada kepercayaan bahwa perilaku yang bersifat agresi menyebabkan penyakit. Untuk membuat kesimpulan umum tentang pendekatan psikologis dalam antropologi budaya, dapat dikatakan bahwa yang dilakukannya adalah menghubungkan variasi-variasi dalam pola-pola budaya dengan masa pengasuhan anak, kepribadian, kebiasaan-kebiasaan dan kepercayaan-kepercayaan yang mungkin merupakan konsekuensi dari faktor-faktor psikologis dan prosesnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *