PENERAPAN ORIENTASI-ORIENTASI TEORETIS

72 views

Jika seseorang sudah mengetahui ciri-ciri umum dari orientasi teoretis yang paling utama maka dapat dimulainya untuk menerapkan teori itu kepada situasi-situasi yang kongkret. Bagaimanakah orientasi teoretis yang dianut seorang ahli antropologi dapat mempengaruhi pendekatannya pada suatu masalah tertentu? Sebagai suatu contoh, kita akan menyelidiki pendekatan- pendekatan yang diambil wakil-wakil dari berbagai aliran terhadap masalah berikut: mengapa beberapa masyarakat memiliki upacara inisiasi bagi kaum laki-laki? Tentu tak perlu dikatakan, bahwa interpretasi-interpretasi berikut ini haruslah tepat. Contoh-contoh itu dimuat di sini hanya untuk memperlihatkan secara kongkret bagaimana orientasi-orientasi teoretis yang berbeda menghasilkan interpretasi yang berbeda pada masalah yang sama. Beberapa, tapi tidak semuanya, masyarakat mempunyai upacara khusus yang menjadi pertanda bahwa seorang anak laki-laki telah jadi pria dewasa. Pada umumnya dalam upacara demikian dimasukkan unsur perpeloncoan; sering kali yang bersangkutan harus berpuasa, mengenakan pakaian/kain jenis tertentu atau melaksanakan tugas-tugas khusus, agar dapat memperoleh “izin” penerimaan masuk ke dunia orang dewasa. Pengalaman-pengalaman yang menyakitkan juga biasa dalam upacara-upacara tersebut di atas.

Suatu interpretasi psikologis tentang upacara inisiasi telah dikemukakan oleh Roger Burton dan John W.M. Whiting.19 Mereka mengatakan bahwa, dalam masyarakat-masyarakat di mana anak-anak pada tahun-tahun pertama tidur dengan ibunya (untuk menghindari hubungan seks dengan ayah, berhubung dalam kebudayaan demikian sering ada pantangan hubungan seks sekurang- kurangnya selama 1 tahun setelah kelahiran seorang anak), maka dalam diri anak laki-laki akan cenderung berkembang suatu identifikasi diri dengan kepribadian yang bersifat kewanitaan. Kemudian, ketika anak laki-laki itu melihat bahwa para pria mempunyai wewenang sebagai penguasa dalam masyarakatnya, maka mereka belajar untuk mengidentifikasi dirinya dengan pria — tapi identifikasi yang lebih danulu dengan wanita menimbulkan konflik dalam diri mereka. Upacara inisiasi menurut Burton dan Whiting, bermakna secara psikologis untuk menekankan identitas kelaki-lakian (seorang anak laki-laki dianggap sebagai seorang pria dewasa setelah upacara inisiasi) dan melalui upacara itu konflik identitas dapat diatasi.

Suatu pendekatan fungsional tentang upacara inisiasi laki-laki digambarkan oleh pengkajian dari Frank W. Young.20 Young mengatakan bahwa upacara inisiasi anak laki-laki secara fungsional diperlukan untuk mempertahankan solidaritas dari laki-laki dewasa dalam masyarakat yang mempunyai organisasi pria yang kuat. Young berpendapat bahwa sifat drama dan unsur-unsur yang diatur dengan rumit sekitar suasana upacara inisiasi, dimaksudkan untuk memusatkan perhatian pada perubahan status dari seorang anak laki-laki yang akan diterima oleh kelompok pria-pria dewasa dan hal-hal itu menanamkan pada anak-anak itu tekad untuk beker ja sama dengan kawannya sebaya dan yang lebih tua. Karena penekanan vang diberikan pada perubahan status, anak laki-laki dengan cepat belajar tentang peranannya yang baru sebagai pria dewasa, dan dengan begitu solidaritas dan kerja sama di antara para laki-laki dewasa terpelihara hal-hal yang sangat diperlukan supaya mereka dapat berfungsi sebagai pemburu, sebagai prajurit-prajurit perang dan sebagai anggota penuh dari organisasi pria. Young juga mendalilkan bahwa semakin tinggi tingkat solidaritas antarlaki-laki dewasa dalam masyarakat maka upacara inisiasi pria akan semakin dramatis dan rumit sifatnya. Sebagai contoh lainnya bagaimana orientasi teoretis menghasilkan pendekatan yang berbeda terhadap persoalan yang sama. dapat dipelajari masalah berikut: mengapa masyarakat berbeda-beda dalam tingkat perkembangan ekonomi yang dicapainya? Betty Meggers menggunakan pendekatan ekologis terhadap masalah ini. Pengkajiannya mengenai beberapa daerah di Amerika Selatan dan sejarah Eropa menyebabkan dia mendalilkan bahwa “tingkat perkembangan yang dapat dicapai oleh suatu kebudayaan tergantung pada potensi pertanian dari lingkungan pemukimannya”.21 Menurut Meggers, ada 4 macam lingkungan yaitu: lingkungan tanpa potensi pertanian, lingkungan dengan potensi pertaniannya terbatas, yang potensi pertaniannya masih dapat ditingkatkan dan yang memiliki potensi pertanian yang tidak terbatas. Tipe-tipe lingkungan tersebut dianggap menentukan tingkat perkembangan ekonomi dari yang dapat dicapai oleh orang-orang yang mendiaminya.

Yang menjadi pendapat Leslie White adalah bahwa justru sistem teknologi masyarakat yang terutama menentukan tingkatan evolusi dan hal itulah yang mempengaruhi tingkat perkembangan ekonominya.” Kita telah mengemukakan pendapat White bahwa “kebudayaan berkembang bila jumlah energi yang dapat dihimpun untuk setiap anggota masyarakat, dalam satu tahun bertambah, atau bila ada peningkatan dalam efisiensi cara penggunaan energi”. Menurut pokok pemikiran ini, maka kebudayaan yang paling primitif dan awal dari umat manusia mempunyai ekonomi yang sangat tak produktif karena mereka tergantung pada sumber-sumber energi yang lemah saja yaitu energi dari tubuh manusia. Tapi dengan revolusi teknologi yang terjadi dalam pertanian, termasuk “penjinakan” tanaman dan binatang-binatang, dan perkembangan ilmu pengetahuan yang cukup untuk memungkinkan menampung deposit dari batu bara, minyak bumi \ dan gas alam, maka jumlah energi yang dapat digunakan untuk pembangunan kebudayaan berlipat ganda. Jadi teknologi yang ditingkatkan memungkinkan peningkatan dari tahap kemajuan ekonomi. Suatu pendekatan yang berbeda terhadap masalah perkembangan ekonomi dilakukan oleh seorang ahli psikologi David C. McClelland.23 Dia mengatakan bahwa adanya perbedaan-perbedaan dalam perkembangan ekonomi yang dicapai dalam berbagai masyarakat harus dijelaskan bukanlah dengan menekankan pada faktor-faktor luar (ekstra) tapi dengan penekanan pada pengaruh motivasi dan nilai-nilai manusia itu sendiri karena hal-hal inilah yang terutama menentukan tingkat keberhasilan ekonomi suatu masyarakat.

McClelland mengadakan identifikasi dari “kebutuhan untuk mencapai sesuatu” sebagai kekuatan utama dalam kehidupan manusia yang dia namakan n Achievement “n Achievement” itu adalah suatu keinginan berprestasi secara jitu, dalam bidang apa pun, memahat, menjual polis asuransi, pertanian, bukan semata-mata untuk memperoleh uang, pengakuan sosial atau prestise, tapi terdorong oleh keinginan untuk memperoleh kepuasan karena keberhasilan sendiri. Jadi McClelland mengemukakan, bahwa suatu masyarakat yang sebagian besar warganya memiliki n Achievement akan dengan sendirinya mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dengan kata lain, variasi kebudayaan dalam perkembangan ekonomi oleh McClelland dikaitkan dengan variasi dari kekuatan motivasi psikologis, yaitu keinginan untuk berhasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *