PENGERTIAN ANALISIS RISIKO

By On Saturday, August 24th, 2013 Categories : Bikers Pintar

risk analysis (analisis risiko)

Risiko dan ketidakpastian adalah bagian integral perilaku manusia, karena jarang sekali hasil tindakan manusia yang dapat diperkirakan dengan pasti. Kedua hal tersebut terlihat nyata dalam urusan ekonomi dan finansial, di mana risiko dan ketidakpastian membentuk landasan bagi kontrak finansial dan peran dari institusi, instrumen, dan pasar finansial. Dengan demikian pasar finansial muncul untuk memudahkan masyarakat menangani risiko dan ketidakpastian berbagai urusan finansialnya, dan muncul banyak instrumen (asuransi, jaminan masa depan, kontrak pilihan, dan lain-lain) agar risiko dan ketidakpastian ini bisa dikelola. Apabila risiko dan ketidakpastian bisa dihilangkan sama sekali maka hanya sedikit yang perlu dilakukan sistem finansial, atau dengan kata lain, apa yang harus dilakukan sistem finansial akan sangat berbeda dari peran yang dijalaninya selama ini .

Jadi bukan sesuatu yang mengherankan jika banyak analisis formal terhadap risiko dan ketidakpastian dilakukan di bidang finansial. Sementara finansial memiliki karakteristik khusus, berbagai analisis dan aksioma yang relevan diterapkan, dalam berbagai tingkat dan bentuk, di bidang perilaku yang lain.

Dalam pembicaraan umum kedua hal tersebut sering saling tertukar penggunaannya dan dianggap sebagai terminologi alternatif untuk fenomena yang sama, tapi pandangan ini sebenarnya salah karena risiko dan ketidakpastian adalah konsep yang berbeda. Ketidakpastian timbul saat masa depan tidak diketahui tapi tidak ada probabilitas aktual (baik obyektif maupun subyektif) yang terkait dengan berbagai hasil alternatif. Risiko timbul saat probabilitas numerik tertentu terkait dengan hasil alternatif. Jadi landasan analisis risiko bertumpu pada teori probabilitas. Di kebanyakan bidang, titik awalnya adalah bahwa agen-agen ekonomi menghindari risiko dalam hal mereka tidak mendapatkan kesejahteraan intrinsik dari risiko yang memang dengan sengaja ditempuhnya. Pada gilirannya, berbagai hal lain menjadi sepadan, para agen lebih menyukai proyek dan perilaku yang kurang berisiko, dan bahwa berbagai usaha dilakukan untuk menghindari atau membatasi risiko. Padahal, hal-hal lain tidak selalu sepadan, dan para agen dapat dan harus menerima kompensasi pengambilan risiko. Kompensasi semacam ini adalah premi risiko yang diterima. Jadi, dengan kata lain. agen lebih menyukai tingkat perolehan yang tinggi ketimbang yang rendah, dan sebaliknya lebih menyukai resiko yang rendah ketimbang yang tinggi Hal ini menyiratkan dua pengertian: agen mau membayar harga yang lebih tinggi untuk aset yang kurang berisiko dengan tingkat perolehan yang berlaku, dan perolehan yang lebih besar akan bisa didapat jika berani mengambil risiko yang lebih besar.

Terdapat juga perbedaan antara risiko dan keseriusan (seriousness). Risiko terkait pada probabilitas (aktual maupun yang diasumsikan) yang bisa diukur dari peristiwa X terjadi, dan keseriusan terkait dengan pengaruh terhadap agen apabila X benar terjadi. Akibatnya, mengasumsikan X sebagai hasil yang tak diinginkan, agen akan mencoba menghindari kedekatan diri mereka dengan probabilitas terjadinya X: semakin tinggi probabilitasnya, dan semakin serius hasilnya untuk agen, maka semakin kecil kompensasi yang ditawarkan. Jadi, kita tertarik pada dua risiko yang memiliki probabilitas sama (katakanlah, terjadinya gempa bumi dan kemungkinan pada saat yang sama hujan) namun keseriusannya berbeda, dan sebaliknya kita juga peduli terhadap kedua risiko yang memiliki tingkat keseriusan sama namun probabilitasnya berbeda. Dengan demikian, perilaku dipengaruhi oleh risiko kejadian atau akibat dan potensi keseriusan apabila hal ini terjadi.

Sebagai akibatnya, hal ini memunculkan konsep myopia bencana (disaster myopia) di mana dihadapkan pada risiko probabilitas rendah/keseriusan tinggi para agen akan berperilaku seolah-olah probabilitasnya nol Aosong dan bukan sekedar rendah, dan pada peristiwa di mana risiko muncul, dampak terhadap agen sangat serius. Karena probabilitas dilihat sebagai nol/kosong, maka tak ada proteksi yang diambil. Pasti ada probabilitas yang lebih besar daripada nol/kosong. Banyak bank dan institusi finansial yang mendapat kesulitan serius, karena mereka menerima risiko probabilitas rendah keseriusan tinggi tapi berperilaku seolah-olah risikonya adalah nol Kosong. Contoh: sebuah bank memberikan pinjaman pada beberapa negara berkembang hingga melebihi modal mereka: kendati probabilitas kegagalan mereka mungkin rendah, tapi akan menjadi serius (dan sebenarnya menjadi serius ketika hal ini terjadi di 1980-an) jika hal ini terjadi.

Analisis risiko diterapkan dalam situasi yang mengandung berbagai akibat dan tak pasti. Di luar bidang finansial khusus, analisis risiko melibatkan empat proses dominan: menspesifikasi berbagai karakter dari akibat yang relevan; menetapkan distribusi probabilitas dari akibat yang terkait dengan tiap karakter (sering dengan cara menganalisis periode sebelumnya); evaluasi terhadap akibat- akibat tak pasti agar dapat dibuat beberapa pilihan, dan analisis metode untuk mengurangi atau memindahkan risiko ke agen lain.

Elemen penting analisis risiko dan manajemen dapat dilihat dari suatu tinjauan atas masalah-masalah yang diperhitungkan dunia perbankan. Bank berada dalam bisnis risiko karena mengeluarkan kontrak hutang pada dua sisi neraca, karena karakteristik kontrak ini berbeda aset dan liabilitasnya (peran transformasi aset tradisional mereka), dan karena mereka adalah institusi yang amat siap: dari rasio liabilitas hutang yang tinggi sampai ke modal ekuitas. Risiko paling tinggi adalah, karena pinjaman yang tak terbayar, bank menjadi bangkrut karena nilai aset mereka jatuh di bawah nilai liabilitas hutangnya. Dalam praktek, bank adalah subyek dari berbagai model risiko: kredit, harga, kurs luar negeri, likuiditas, operasional, penjualan-terpaksa (forced-sale), dan lain lain. Untuk tujuan penjelasan yang terperinci, kami melarang diskusi risiko kredit, yaitu, risiko di mana pinjaman tidak dibayar.

Analisis risiko dan manajemen bank melibatkan lima proses utama: pertama, identifikasi dan perhitungan risiko, yaitu kalkulasi probabilitas kegagalan; kedua, apa yang dapat diperbuat untuk memperkecil probabilitas kegagalan, ketiga, menghitung batas kerusakan pada kejadian saat risiko muncul, atau munculnya kegagalan; keempat aksi untuk memindahkan risiko ke agen-agen lain, atau bagi-risiko, dan kelima, bagaimana sisa risiko ditampung.

Prosedur pertama adalah mengidentifikasikan dan menghitung risiko. Bank akan menggunakan keahliannya dan mempertimbangkan pengalaman terdahulu untuk menghitung probabilitas kegagalan. Prosedur ini melibatkan upaya menyaring para calon peminjam dan calon proyek dan mencari informasi untuk memastikan karakteristik dan ukuran risiko. Melalui keahlian dan pengalaman, sebuah bank dapat saja memiliki keunggulan komparatif dalam jajaran bank-bank lain dalam proses ini.

Kedua, bank akan mencari cara mengurangi probabilitas risiko dengan, contohnya, menyelia perilaku peminjaman, menetapkan syarat pinjaman, memikirkan kontrak insentif yang cocok untuk memastikan agar perilaku peminjam sedemikian rupa sehingga probabilitas kegagalannya lebih rendah (contoh: dengan mewajibkan peminjam menginvestasikan sumber pribadinya dalam proyek), mengambil jaminan dari peminjam agar peminjam juga akan kehilangan apabila pinjaman tidak dibayar, penetapan rasio kredit, mengambil ekuitas dalam proyek agar bank punya suara dalam manajemennya, dan seterusnya. Dengan cara ini, pemberi pinjaman dapat mencoba mengurangi probabilitas kegagalan. Kontrak insentif yang cocok dapat juga dipergunakan untuk mengurangi kemungkinan penyelewengan moral peminjam: insentif yang mungkin didapatkan peminjam atas kegagalan yang disengaja. Kontrak harus terstruktur agar menghasilkan insentif yang lebih besar bagi peminjam untuk membayar daripada untuk gagal secara sengaja.

Ketiga, bank, peminjam atau pembeli aset finansial akan mencari cara membatasi kerusakan karena kegagalan atau jatuhnya harga aset. Prosedur standarnya adalah menyertakan pinjaman atau aset dalam suatu portofolio yang terdiversifikasi secara efisien, di mana risiko individu lebih kecil dibandingkan jika terkorelasi sepenuhnya. Dengan cara ini, keseluruhan portofolio lebih tak berisiko daripada aset tertentu di dalamnya: yang tersisa adalah risiko sistematis, yaitu bagian risiko total investasi yang tak dapat dihindari dengan mengkombinasikannya dengan investasi lain dalam portofolio yang berbeda. Dalam prosedur ini, nilai investasi atau pinjaman tertentu dihitung karena kontribusinya pada keseluruhan risiko portofolio dan bukan karena karakteristik risikonya yang inheren. Konsekuensinya, investor yang menolak risiko secara rasional memilih investasi yang memiliki risiko inheren lebih tinggi daripada risiko portofolio yang sudah ada apabila investasi ini memiliki dampak dalam hal mengurangi risiko portofolio keseluruhan. Bank dapat membentuk portofolio pinjaman yang terdiverisifikasi dengan cara membuat berbagai jenis pinjaman (misalnya, untuk para peminjam yang jenisnya memang berbeda-beda) atau dengan memberikan berbagai pinjaman sejenis tapi ditujukan kepada beberapa peminjam. Inilah aplikasi hukum terhadap jumlah-jumlah besar. Akibatnya, apabila terdapat probabilitas 10% dari pinjaman $1.000 tak dapat dibayar, nilai ekspektasi pinjaman berikutnya dapat ditetapkan; apakah 0 atau $1.000. Di sisi lain, dengan probabilitas yang sama, apabila 10 pinjaman bernilai $100 diberikan, probabilitas nilai ekspektasi portofolio berikutnya menjadi $900. Bank juga akan mencari cara untuk membatasi kerugian akibat kegagalan dengan, misalnya, meminta jaminan (jaminan ditahan apabila terjadi kegagalan), atau dengan membatasi jumlah pinjaman individu tergantung pada modal ekuitas bank, jadi bank tak akan bangkrut bila peminjam tidak membayar. Bank juga dapat membatasi kerugian melalui kontrak pembatasan.

Komponen keempat analisis dan manajemen risiko adalah dengan memindahkan risiko kepada agen lain. Prosedur standarnya adalah asuransi. Di sini, seorang agen yang menolak risiko, membayar premi untuk melimpahkan risiko pada perusahaan asuransi. Hal ini hanya mungkin terwujud apabila menguntungkan kedua pihak. Keuntungan dari yang diasuransikan adalah melimpahkan risiko di mana manfaat dari pihak yang diasuransikan adalah disiapkan membayar premi. Ini menguntungkan pemberi pemilik asuransi apabila dapat menarik premi yang membuahkan laba setelah pengajuan klaim. Hal ini dimungkinkan apabila pemberi asuransi mampu mendapatkan struktur risiko yang terdiversifikasi. Namun, tidak semua risiko dapat diasuransikan. Syarat yang diperlukan adalah: pertama, risiko asuransi dapat diobservasi dan diverifikasi (kita tak dapat diasuransikan hanya karena sakit kepala tapi bisa diasuransikan apabila kaki kita patah); kedua, risiko harus dapat didiversifikasi oleh pemberi asuransi, dan ketiga, tak boleh ada penyelewengan moral, artinya, jangan sampai ada insentif bagi pemegang asuransi untuk menimbulkan risiko. Berkenaan dengan syarat ketiga ini, contohnya, sebuah rumah tak dapat diasuransikan dengan nilai yang lebih besar daripada nilai rumah itu sendiri karena hal ini dapat menimbulkan insentif bagi pemiliknya untuk membakar rumah tersebut. Prinsipnya, bank dapat berusaha mengasuransikan pinjamannya, meskipun pada prakteknya hal ini jarang terjadi karena bank itu sendiri biasanya adalah tempat asuransi yang lebih efisien, artinya, melihat ukuran dan keragaman portofolio pinjamannya, premi risiko dapat diubah menjadi suku bunga pinjamannya sendiri, yang lebih rendah dari premi yang akan dibebankan oleh perusahaan asuransi eksternal. Sebagai tambahannya, apabila pinjaman diasuransikan secara eksternal. Bahaya moral timbul, karena mungkin terjadi insentif bagi bank

untuk membuat pinjaman berisiko tinggi di situasi di mana bank memiliki informasi lebih dibandingkan perusahaan asuransi. Bank juga dapat secara efektif mengasuransikan risiko harga dengan menjadi pihak lawan dalam kontrak berikutnya, kontrak masa depan, atau kontrak pilihan.

Analisis yang dapat disimpulkan adalah, bank atau investor dapat mengidentifikasi dan menghitung risiko, dengan mempertimbangkan bagaimana mengurangi probabilitas kegagalan, mencari cara membatasi kerusakan bila terjadi kegagalan, dan mempertimbangkan mekanisme alternatif pemindahan risiko. Risiko yang masih ada harus ditahan dan bank akan mengatasinya dengan memberi harga pinjamannya (contoh: menentukan premi risiko pada suku bunga pinjaman untuk menutupi risiko yang dapat diduga yang jumlahnya dilimpahkan ke asuransi internal), dan dengan memegang simpanan modal persamaan untuk menyerap potensi risiko tak terduga.

Analisis ini telah dilakukan terutama mengacu pada risiko finansial. Bagaimanapun juga, prinsip yang sama diterapkan pada semua analisa risiko. Seperti telah diperdebatkan, analisis risiko tak dapat dipisahkan dari manajemen risiko.

Incoming search terms:

  • analisis resiko
  • analisis risiko
  • pengertian analisis resiko
  • analisa resiko
  • 10 risiko yang paling relevan dan penting
  • contoh analisis resiko
  • pengertian analisa resiko
  • analisa risiko
PENGERTIAN ANALISIS RISIKO | ADP | 4.5