PENGERTIAN – ARTI TAO

By On Monday, August 12th, 2013 Categories : Bikers Pintar

TAO

Dari bahasa Cina yang artinya jalan.

Ini merupakan salah satu kategori pokok dalam filsafat Cina klasik. Pada awalnya, Tao berarti “jalan”, kemudian digunakan dalam filsafat untuk menunjuk pada “jalan” alam, hukum-hukum yang mengatur alam. Tao juga mengandung arti tujuan hidup dan “kaidah moral”, tao te. Ia juga berarti logika, akalbudi dan argumen (tao li). Konsep ini lambat laun berubah bersama dengan perkembangan filsafat Cina. Para filsuf materialis seperti Lao Tzu, Hsuen, Wang Chung, dan lain-lain, menafsir Tao sebagai cara alami benda-benda dan hukum, yang menafsir Tao sebagai “prinsip ideal”, true non-being (Wang Pi dan lain-lain), “jalan ilahi” (Tung Chungshu dan lain-lain).

Beberapa Pengertian

1. Jalan, prinsip, tatanan kosmik, alam. “Tao yang dapat diungkapkan dengan kata-kata bukanlah Tao yang abadi.” Ia “samar- samar dan tidak dapat ditangkap dan dimengerti”, “dalam dan gelap,” tetapi “di dalamnya terdapat bentuk” dan “esensi”. “Di dalamnya ada realitas.” Ia “menghasilkan Yang Satu; Yang Satu menghasilkan dua; dua menghasilkan tiga; dan tiga menghasilkan segala sesuatu.” “Standarnya adalah Yang Alami.” (Lao Tzu).

“Tao mempunyai realitas dan evidensi tetapi tidak mempunyai tindakan maupun bentuk. Ia dapat dikirimkan, tetapi tidak dapat diterima. Ia dapat dicapai, tetapi tidak dapat dilihat. Ia mempunyai esensi dan akarnya sendiri.” “Tao ada dalam semut”, “biji polong”, “pecahan barang tanah”, “kotoran”. (Chuang Tzu, antara 399 dan 295 SM).

2. “Jalan” Confusian; ajaran-ajaran dari orang-orang bijaksana; tatanan moral; prinsip moral. Ini berarti “kepenuhan hukum kodrat insani.” Ia merupakan jalan kehidupan moral manusia. “Kemanusiaan sejati, jen, ialah sesuatu yang menjadikan manusia sebagai manusia. Umumnya, ini merupakan hukum moral.” (mencius, 371 — 289 SM). Berjalan menurut kemurahan hati dan kejujuran disebut Tao (Jalan)” (Han Yu, 767 — 824).

3. Jalan, yang berarti mengikuti Rasio barang-barang, dan juga Rasio yang berada di dalam segala sesuatu dan yang ditaati oleh segala sesuatu. (Neo-Confusianisme).

4. Jalan atau Hukum Moral dalam arti kosmik, yang menandakan “apa yang ada di atas alam kejasmanian,” dan “gerakan berturut-turut dari prinsip aktif (yang) dan pasif (yin).” Dalam arti terakhir sebagaimana dimengerti baik di dalam Confusianisme kuno maupun dalam Neo-Confusianisme, Tao dapat saling di¬pertukarkan dengan Yang Tertinggi-Agung (T’ai Chi). Shao K’ang-chieh (1011 — 1077) berkata, “Hukum Moral adalah Yang Tertinggi-Agung.” Chang Heng-ch u (1022- 1077) me¬nyamakannya dengan Harmoni Agung (T’ai Ho) dan berkata, “dari operasi kekuatan vital (ch’i) ada Tao (Jalan).” Ini berarti, Tao merupakan prinsip Ada serta jumlah seluruh substansi dan fungsi-fungsi barang-barang. Bagi Ch’eng I-ch’uan (1033 – 1107) “tidak ada Tao (Jalan) yang independen dari prinsip ak¬tif (yang) dan prinsip pasif (yin). Namun Tao justru merupakan Jalan yang menentukan prinsip aktif dan pasif itu. l’rinsip- pinsip ini merupakan unsur-unsur kekuatan vital (ch’i), yang adalah korporeal. Di lain pihak, Jalan itu mentransenensikan korporealitas (kejasmanian) itu.” Bagi Chu Hsi (1130— 1200), Jalan itu merupakan “Rasio mengapa barang-barang berada sebagaimana adanya.” Tai Tung-yuan (1723— 1777) memahami¬nya untuk mengartikan “transformasi alam raya yang tidak putus-putusnya,” dan “operasi barang-barang di dunia ini, yang meliputi aliran tetap vital (chi) dan perubahan, dan produksi dan reproduksi yang tidak henti-hentinya.”

PENGERTIAN – ARTI TAO | ADP | 4.5